Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Prioritas


__ADS_3

Siang hari Jihan dan keluarga baru tiba di salah satu apartemen di Roma. Wanita itu di temani sang adik buru buru meletakkan si kembar yang sudah tertidur pulas di ranjang. "Kamu istirahat dulu Mark." Ucapnya. "Kakak juga." jawab Mark pergi ke kamarnya setelah mengecup pipi Jihan.


Riza tergeletak lemas di ranjang. Kepalanya masih pusing dan perutnya mual. Di pesawat tadi Ia tak berhenti muntah muntah. "Di minum dulu Mas biar enakan." Ucap Jihan membawakan air kelapa muda dalam kemasan. Ia buru buru membantu suaminya duduk dan meminumkan. "Kamu istirahat dulu saja." Ucapnya. "Temani." Kata Pria itu menggenggam tangan sang istri. "Iya. Lepas dulu sepatunya." Kata Jihan membantu melepaskan sepatu suaminya kemudian ikut berbaring. "Um..Pusing." Keluh Riza memiringkan tubuh memeluk sang istri. "Dipakai tidur saja. Jalan jalannya besok. Hari ini kita di apartemen dulu." Ucapnya kasihan melihat Riza yang tampak lemas.

__ADS_1


"Sudah enakan?" Tanya Jihan baru masuk kamar setelah memandikan kedua anaknya. "Masih pusing" Jawab Riza sambil memeluk pinggang sang istri. Ya sebenarnya tidak pusing sih. Hanya saja Ia ingin di manja istrinya saja. "Mandi dulu biar seger. Habis itu makan." Kata Jihan langsung mendapat anggukan dari suaminya. "Ayo mandi bareng." Riza tersenyum langsung menggendong istrinya. "Aku sudah mandi Mas." Keluh Jihan memberontak. "Mandi lagi nggak papa dong." Ucap Riza sambil mencium bibir istrinya agar diam.


Semuanya sudah berkumpul di ruang tengah untuk makan bersama. Jihan masak nasi dan memanaskan makanan yang dibawanya dari rumah. "Mas. Kamu di rumah saja ya. Aku mau belanja sama anak anak sama Mark sebentar nanti." Kata Jihan sambil menyuapi anak anak. Riza menggeleng. Mana bisa Ia pisah sama istrinya. "Nggak mau ah. Mas ikut." Jawab Pria itu sambil menggeleng. "Sebentar saja. Orang tempatnya dekat di sebrang jalan. Kamu katanya masih pusing." Kan ketahuan bohongnya ustadz demi cari perhatian ke istri. "Sudah nggak sekarang. Aku ikut." Jihan menghela napas kemudian mengangguk menuruti kemauan suaminya.

__ADS_1


Malam hari mereka sudah sampai di supermarket terdekat. Jihan memilih semua kebutuhan untuk beberapa hari disini. Selera makan suaminya yang rewel membuat wanita itu harus berbelanja kebutuhan untuk memasak. "Buahnya jangan lupa Dek." Riza mengingatkan. "Iya." Jawab Jihan sambil memasukkan beberapa Ayam potong ke dalam troli belanja yang di dorong suaminya.


Sampai di rumah Jihan di bantu suaminya sedang menata belanjaan di dapur. "Dek. Kamu jujur kan jawabnya ke aku tadi." Ucap Riza membuat Jihan menghela napas. "Kalau aku jawab Jujur jangan protes ya." Ucapnya langsung mendapat anggukan dari sang suami. "Sebenarnya tadi orang pada ngira kalau kamu itu Om aku." Jawab Jihan jujur membuat Riza mencebik. Apa dia setua itu di anggap Om istrinya sendiri. Memang sih usianya dengan Jihan beda jauh. Tapi Dia kan tidak setua itu. Ya maklum. Jalan sama wanita beranak dua serasa ABG ya begini resikonya. Apalagi wajah Jihan yang Baby face seperti anak SMA. Maklum lah..."Memangnya aku setua itu ya Dek?" Tanya Riza sambil memeluk Istrinya yang sedang sibuk menata buah di kulkas. "Nggak Juga." Jawab Jihan singkat sambil meneruskan kegiatannya. "Masa?" Pria itu membalikkan tubuh Jihan dengan cepat. Wajahnya semakin mendekat pada sang istri dan......"Kakak. Jalwa nangis tuh." Kata Mark menghentikan aksi Riza yang hendak mencium sampai puas bibir istrinya. "Iya." Kata Jihan mendorong tubuh suaminya lalu bergegas pergi setelah menutup pintu kulkas. "Yah....Begini ya kalau punya anak. Mereka memang tidak pengertian pada Ayahnya." Gerutu Riza.

__ADS_1


"Kenapa nangis Sayang?" Tanya Jihan sambil menggendong putrinya. "Ngantuk paling. Ini sudah jam delapan Kak." Ucap Mark. "Yasudah Ayo tidur." Wanita itu bergegas membawa anak anak ke kamar setelah berpamitan pada Mark.


Riza ikut bergabung dengan istrinya yang sedang menemani anak anak tidur di ranjang. "Sudah tidur ya?" Tanya Pria itu mengusap wajah putra putrinya bergantian. "Iya. Baru saja." Jawab Jihan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan tubuh anak anak. "Matiin lampunya Mas kalau kamu keluar." Riza mengangguk. "Kamu tidur disini? Nggak di kamar kita sendiri?" Tanya Riza. "Iya." Jawab Jihan sambil memejamkan mata. Riza turun dari ranjang. Pria itu langsung menggendong istrinya untuk pindah ke kamar. "Sumi itu prioritas." Ucapnya sambil mencium bibir wanita itu agar diam.

__ADS_1


__ADS_2