
"Kakak." Lita dan Gita berhambur memeluk Jihan yang sedang duduk di ruang tamu. " Kangen ya?" Tanya Jihan membalas pelukan keduanya. "Kemarin Kakak ke rumah kita nggak ketemu." Keluh mereka sambil duduk mengapit wanita itu. "Kalian kan masih sekolah." Jihan mengusap kepala keduanya.
__ADS_1
Jihan dan Meta duduk bersama sambil mengobrol sementara anak anak sedang asyik bermain. "Jadi gimana hubungan kamu dengan keluarga kamu sekarang?" Tanya Jihan membuat Meta menghela napas. Meskipun kedua orang tuanya hadir dalam pernikahan kemarin tapi tak dapat di pungkiri jika hubungan mereka belum baik baik saja. "Masih ada jarak." Jawab Meta lemah. "Kamu?" Ia balik bertanya. Jihan menceritakan kini hubungannya dengan keluarga lebih baik dari sebelumnya. "Mereka sering jenguk." Ucap Jihan membuat Meta mengangguk. "Kamu ada masalah ya?" Jihan menelisik ekspresi sahabatnya itu. Meta tampak menghela napas dan menceritakan keluh kesahnya. Ia sebenarnya ingin bekerja karena Lita bukan anak kandung Rudi membuatnya tak enak hati harus membiayai anaknya juga. Namun Meta sadar seorang istri harus mengikuti apa kata suaminya. Ia tak membantah jika dilarang bekerja untuk lebih fokus mengurus rumah tangga. "Itu namanya Om Rudi baik banget karena nggak membedakan anaknya. Beruntung kamu bersanding dengan pria semacam itu. Kalian akan bahagia." Kata Jihan sambil menepuk pundak Meta.
__ADS_1
Riza dan Mark pulang bersama. Keduanya mengucapkan salam ketika memasuki rumah namun tidak ada jawaban. Mereka langsung menuju ke ruang keluarga karena mendengar suara TV yang masih menyala. "Yah tidur. Aku ke kamar dulu kak." Pamit Mark langsung mendapat anggukan dari Iparnya. Riza tersenyum memperhatikan istrinya yang tidur begitu pulas di atas karpet. Ia mengecup kening Jihan dengan lembut kemudian segera menggendongnya untuk di bawa ke kamar.
__ADS_1
Jihan terbangun dari tidur siangnya. "Sudah bangun Dek?" Tanya Riza sambil tersenyum memiringkan tubuh menghadap sang istri. Daritadi pria itu tidak tidur. Ia membaca Al Qur'an dengan lirih di samping Istrinya. "Mau bakso." Kata Jihan membuat suaminya terkekeh. Baru saja bangun sudah minta bakso. Riza senang akhirnya sang istri meminta sesuatu juga setelah sekian lama menunggu masa dimana Ibu hamil ngidam. Tapi Riza pikir Jihan memang tidak pernah ngidam. Wanita itu minta apa apa yang sederhana saja. Juga tidak mendadak dan bisa ditawar tidak seperti cerita para calon bapak yang kalang kabut menuruti ngidam para istri yang aneh aneh. "Ini yang minta anak kita atau ibunya?" Tanya Riza sembari mengusap perut istrinya dengan lembut. "Lah. Kok bawa bawa anak. Mana tau? Masih di perut juga. Aku yang pengen bakso Mas. Nanti beli ya. Yang dekat saja." Pinta wanita itu di tanggapi anggukan oleh suaminya. "Nanti kita beli di tempatnya pak Sukur." Kata Riza membuat Jihan mengernyitkan kening. "Bukannya pak Sukur jual Bubur." Ia menatap suaminya penuh tanda tanya. "Iya Dek. Tapi jualan mie ayam sama Bakso juga. Jual buburnya kalau pagi." Jelasnya membuat Sang Istri mengangguk paham.
__ADS_1
Sore hari Riza dan Jihan sudah sampai di warung pak Sukur. Pria itu menyambut keduanya begitu ramah. "Kakinya kenapa Neng?" Tanyanya sembari mempersilahkan sepasang suami istri itu untuk duduk. "Pergelangan kakinya patah pak. Jatuh dari tangga. Untung saja kandungannya tidak apa. Alhamdulillah." Jawab Riza. "Lain kali hati hati Neng. Lagi hamil lo." Tuturnya. Jihan mengangguk dan tersenyum menanggapi pria paruh baya itu. "Rame ya." Ucap Jihan sambil mengamati sekitar. "Iya. Disini terkenal enak Dek. Sudah lama bukannya. Dari tahun 19an." Jihan mengangguk. "Gips nya kapan di buka Mas? Aku nggak nyaman." Keluhnya sambil meletakkan kepala di atas meja. "Sabar. Ada makna di balik kaki kamu yang sakit ini lo Dek. Allah ingin kamu lebih kalem, hati hati dan nggak grasa grusu seperti biasanya." Kata Riza namun di hatinya tidak begitu juga. Meskipun kaki istrinya sakit wanita itu tetap grasa grusu dan ceroboh namun berkurang sedikit karena gerakan yang terbatas. "Dasar. Enggak ada empatinya sama aku." Jihan mengerucutkan bibirnya membuat Riza gemas. "Jangan begini. Kamu malah buat Mas pengen gigit bibir kamu." Kata Pria itu mencubit pipi istrinya sambil terkekeh.
__ADS_1