
"Ayo Mas." Kata Jihan menghampiri suaminya yang sudah menunggu di ruang tengah. "Ibu mau kemana?" Tanya Juma. "Mau keluar sebentar beli kerupuk rujak. Kamu di rumah saja." Jawab Jihan. "Ikut." Rengeknya. "Sebentar saja. Masa beberapa menit aja mau ikut. Mending ikut kakak di belakang sama Kakek itu." Juma tetap menggeleng. "Ikut Yah." Kata bocah itu menggandeng tangan Ibunya. "Yasudah biarkan. Ayo berangkat sekarang kalo gitu." Riza menghela napas. Pria itu mengikuti istrinya yang sudah berjalan duluan.
Hanya sepuluh menit perjalanan Jihan sudah sampai di pasar buah terdekat. "Kamu. Sudah besar ikut terus sama Ibu. Kasih Ayah sama Ibu pacaran dong." Keluh Riza kerena Juma selalu menggandeng tangan Ibunya. "Ayah kan sudah menikah dengan Ibu." Jawabnya. "Kamu mana mengerti." Ucap Riza. "Sudah jangan debat terus kalian. Ayo cepat beli nanti kakak cariin kita." Jihan menghampiri salah satu penjual buah. Wanita itu mengambil beberapa kerupuk rujak dan kerupuk bawang. "Oh ada keripik tempe. Mas aku mau ini ya." Riza mengangguk sambil tersenyum. "Ambil saja." Jawabnya. "Sambal kacang yang di buat bibi masih ada. Bikin nasi pecel enak." Kata Jihan. "Ibu. Beli semangkanya dong." Pinta Juma. "Iya. Suruh Ayah pilihkan yang mana. Ibu nggak terlalu ngerti." Jawabnya. "Yah. Pilihkan dong." Riza mengangguk kemudian menuju gundukan semangka yang ada di dekat putranya.
__ADS_1
Saat dalam perjalanan menuju mobil mata Jihan tertarik pada satu pedagang di pinggir jalan. "Mas. Mau itu." Tunjuknya pada penjual sate tahu. "Kamu sama Juma di mobil aja. Mas pesankan." Jawabnya. "Ikut aja. Nanti aku kesini. Aku bantuin taro belanjaanya di mobil." Kata Jihan.
Jaffan dan Jalwa tengah mondar mandir di depan rumah. "Itu mobil ibu." Keduanya langsung menuruni tangga menghampiri tiga orang yang baru saja keluar. "Ibu darimana?" Tanya Jaffan sembari membawakan belanjaan Ibunya. "Dari beli kerupuk." Jawab Jihan. "Kok nggak kasih tau kita sih." Ucap Jalwa. "Tadinya kan cuman mau sebentar. Ibu kalian minta sate tahu juga." Riza berjalan mengimbangi istrinya.
__ADS_1
"Ibu. Potongin kuku Juma dong." Ia menghampiri Ibunya sambil menyerahkan gunting kuku. "Kamu sudah besar Jum. Potong kuku sendiri. Kalo nggak sini sama kakak saja." Kata Jalwa kasihan dengan Ibunya. Sikap manja Juma kadang membuat wanita itu tidak bisa menikmati waktu bersantai. "Nggak mau. Maunya sama Ibu." Tuh kan..Menyebalkan. "Sini duduk." Kata Jihan menutup map yang di pegang nya. Ia mulai memotong kuku si bungsu dengan hati-hati. "Ibu. Senin nanti datangnya sama kita ya. Ayah pastinya harus datang duluan. Iya kan Yah?" Tanya Jaffan. "Hm." Jawab Riza yang sedaritadi bersandar di bahu Istrinya.
"Huft." Riza ikut berbaring di samping istrinya setelah terbebas dari tiga pengacau yang tumbuh dari benihnya belasan tahun lalu. "Juma itu coba kamu bujuk suruh mondok Dek. Biar agak mandiri dikit. Heran aku. Manjanya sama kamu masyaallah." Kata Riza sambil memeluk istri tercinta. "Sudah pernah coba kan dulu Kamu nggak pernah kapok sih. Dulu kakak kakaknya kamu pondokin sakit. Sekarang Juma dulu pernah mondok juga sakit. Kamu pengen mengulanginya lagi?" Tanya Jihan. "Yaudah gimana kalau kita bulan madu atau liburan berdua." Saran Riza. "Maunya bulan madu. Bulan madu itu harus ada oleh olehnya Mas. Baby. Kamu diajak tambah momongan aja nggak mau. Prinsip kamu banyak anak banyak problem sih. Nggak kaya aku banyak anak banyak cinta dan banyak rezeki." Ucap Jihan sambil terkekeh. "Banyak anak banyak problem memang benar. Dia nempel terus sama kamu. Mau minta jatah aja harus tunggu mereka tidur biar nggak ketok pintu dan ikut tidur sekalian. Inget nggak waktu itu sudah sampai tengah tiba tiba Juma ketuk pintu mau tidur bareng. Aku kan kesiksa Dek. Harus dikeluarkan sendiri." Riza berkeluh kesah. "Huh. Punya istri anak tiga rasa perawan ya begini." Ia menenggelamkan kepalanya di ceruk leher sang istri. "Perawan apanya. Perawannya aku sudah kamu ambil 18 tahun lalu. Inget nggak?" Riza tersenyum. "Maaf dulu nggak kasih kesan indah di malam pertama." Ucap Riza karena mengambil mahkota istrinya saat wanita itu tak sadar.
__ADS_1