Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Tidak Mungkin


__ADS_3

Warning...


Bikin emosi guys.....


Serius author ga bohong...

__ADS_1


Siapkan tissue atau kanebo....


Riza berlari memasuki rumah sakit dengan wajah bahagia. Setelah hampir sebulan akhirnya keadaan sang istri membaik. Ia baru saja mendapat kabar jika Jihan sudah di pindahkan ke ruang perawatan. Itu artinya Ia bisa mengunjungi sang istri.


"Za." Semuanya tersenyum melihat kedatangan pria itu. "Jihan ada di dalam." Lanjut papa sambil menepuk bahu menantunya. "Kita jenguk Ibu sayang." Ucap Riza menggandeng tangan kedua anaknya untuk diajak masuk. Semuanya berdiri mengelilingi ranjang tempat Jihan terbaring. Wajahnya tampak pucat dan mata masih terpejam sempurna. Riza meraih tangan sang istri dengan gerakan yang begitu lembut. "Tidakkah kamu merindukan kami Dek. Lihatlah. Kami disini mengunjungi kamu. Setelah sekian lama Mas bisa menyentuh lagi kulitmu. Kami masih menanti dengan setia. Segeralah bangun. Kamu bilang kamu akan mengajak aku dan anak anak berlibur lagi seperti tahun kemarin. Ayo..Aku janji tidak akan tersesat lagi. Terserah mau kemana Mas menurut. Ke Thailand, Philipina atau bahkan ke Brunai seperti yang kamu ucapkan bulan lalu Mas tidak keberatan asalkan kamu bangun. Ketika kamu sembuh nanti kita langsung berangkat. Oh iya...Tamanan sayur kamu mulai berbuah. Tidakkah Adek ingin bangun untuk merawatnya...." Ucap Riza sukses membuat semua orang yang ada disana menangis. Kata kata Pria itu begitu menusuk hati mereka.

__ADS_1


"Mas. Adikku akan sembuh kan? Jawab Mas." Ucap Meta menangis keras dalam pelukan suaminya. "Iya. Dia akan sembuh. Dia wanita kuat pasti akan sembuh." Jawab Amin menenangkan istrinya. Sama halnya dengan sang istri. Pria itu juga sama sedihnya. Ia sudah menganggap Jihan seperti adiknya sendiri. Namun ada istri dan anak anak yang membutuhkannya mau tak mau Ia tetap harus terlihat tegar.


Riza masih setia duduk di dekat ranjang istrinya sambil menggenggam tangan wanita itu. Selesai sholat Ia kembali lagi ke posisi semula enggan untuk meninggalkan istrinya. "Biarkan papa yang jaga Za. Kamu istirahatlah." Ucap Pria paruh baya itu menghampiri menantunya. "Riza tidak lelah pa. Riza akan menunggu." Jawabnya sambil tersenyum. Papa hanya bisa mengangguk pasrah. Ia akan menuruti kemauan menantunya.


Beberapa menit berlalu Semua orang di kejutkan dengan monitor jantung yang berbunyi. "Panggil dokter." Ucap Papa. Mark seketika berlari dengan cepat keluar ruangan.

__ADS_1


Semuanya tengah menunggu cemas di luar ruangan Jihan. Dokter sedaritadi berada di dalam belum juga keluar. "Bagaimana dok?" Tanya Riza hanya di jawab gelengan. "Tidak mungkin." Ucap pria itu menerobos masuk ke dalam. Kaki Riza seketika lemas mendapati tubuh istrinya sudah tertutup kain putih. ia jatuh seketika tak mampu berjalan lagi. "Tidak...Tidak mungkin...Ini tidak mungkin. Kamu tidak mungkin meninggalkan Mas." Teriak nya. "Kamu jahat Dek. Kamu bohong. Kamu mengingkari janji. Aku mohon jangan. Jangan seperti ini." Lanjutnya dengan tangisan yang lebih kencang. Suara tangisan duka memenuhi ruangan mereka baru saja mendapat harapan harus di jatuhkan lagi ke titik paling dasar. "Jihan bangun. Kakak disini...." Ucap Meta menangis histeris mengguncangkan tubuh tak bernyawa itu.


__ADS_2