Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Menuruti Juma


__ADS_3

Jihan benar benar sibuk hari ini dan hari hari ke depan karena semua pekerja di rumah mudik ke kampung halaman masing masing. "Yang sudah matang di masukkan ke toples." Kata Wanita itu menyuruh anak anak mengemas kue kering yang Ia buat. "Mas sudah bagiin THR ke karyawan?" Riza mengangguk sambil ikut menata kue yang di buat sang istri. "Sudah kemarin." Jawabnya. "Juma ketiduran itu Mas. Tolong pindahin ke kamar biar nyaman." Jihan menghela napas melihat putra bungsunya tertidur pulas dengan kepala bertumpu di kedua tangan. "Biar Julian saja Yah." Remaja itu buru buru menggendong adiknya pelan untuk di pindahkan ke kamar.


Selesai mengurusi kue mereka semua berkumpul untuk beristirahat. "Assalamualaikum." Ucap Seseorang memasuki ruang keluarga. "Waalaikumsalam." Jawab mereka. "Dika. Siapa yang antar? Pulang kok nggak kasih kabar." Jihan tersenyum melihat kedatangan remaja itu. "Dika naik angkot Bu." Jawabnya mencium tangan wanita itu di lanjut semua orang yang ada disana. "Kenapa nggak bilang? Kan Ibu atau Ayah bisa jemput." Ucap Jihan mengusap kepala Dika dengan lembut. "Dika pengen naik angkot Bu." Jawabnya padahal Ia tak ingin merepotkan. Dika tau Jihan sangat sibuk mengurus banyak hal begitu juga dengan Riza. "Istirahat dulu. Pasti capek." Dika menggeleng menanggapi Ayahnya. "Dika nggak capek Yah." Jawabnya karena masih ingin melepas rindu dan mengobrol dengan sang Ibu.

__ADS_1


Juma masih acak acakan baru bangun tidur menghampiri keluarga yang sedang asik mengobrol. "Kok pulang?" Tanya bocah tampan itu duduk di pangkuan sang Ibu. "Kangen kamu." Jawab Dika sambil tersenyum. Ia sadar keberadaannya sulit di terima oleh kakak kakaknya apalagi oleh Juma yang begitu manja dengan sang Ibu. "Ibu kapan beli kembang apinya?" Tanya Juma. "Bangun tidur masih ileran, rambutnya berantakan sudah minta kembang api." Jihan mengelap wajah putranya dengan tissue. "Nanti malam sayang. Kalau masih sore begini belum ada yang jual." Lanjutnya dengan lembut. "Mandi dulu sana. Sudah mau ashar jangan malas malasan mengaji kamu. Kalau nggak mengaji nggak ada kembang api." Riza memberikan peringatan pada putranya dan di jawab anggukan oleh bocah tampan itu.


Jalwa ikut membantu Ibunya memasak di dapur. "Nggak ngaji?" Tanya Jihan. "Lagi halangan Bu. Baru saja. Padahal beberapa jam lagi buka." Jawabnya sambil mengehela napas. "Ibu puasa tahun lalu juga begitu. Malah beberapa menit lagi buka." Kata Jihan sambil menata ayam yang sudah di gorengnya ke dalam piring. "Jalwa. Kamu dan kakak kakak kamu keberatan dengan Dika?" Jihan mengehentikan aktivitasnya membalikkan badan menatap gadis cantik itu. "Kami butuh proses Bu. Seperti dulu saat kak Jason dan kak Julian datang." Ia memeluk Ibunya dengan erat. "Syukurlah. Ibu kasihan dengan Dika. Bahkan hidupnya lebih malang dari Ibu." Ucap Jihan merasa lega mendapat jawaban dari putrinya.

__ADS_1


"Habis buka ya Bu." Kata Juma sedang makan di suapi Ibunya. "Habis sholat tarawih Casper. Kamu nggak sabaran banget." Sahut Jason. "Kak Drakula ikut ikutan." Kesal nya. "Dika makannya jangan sedikit dong. Makan yang banyak." Kata Papa. "Iya Kek. Ini sudah kenyang." Jawabnya sambil tersenyum. "Makan sayurnya. Jangan seperti Juma." Jaffan menaruh sayur di piring Dika. "Makasih kak." Ucapnya di jawab anggukan oleh remaja tampan itu.


Kembang api, kacang dan jagung rebus sudah di dapat. Mereka kini sedang menunggu sate tahu yang masih belum siap. "Dika minta apa?" Tanya Jihan karena sedaritadi di tawari selalu menolak. "Eskrim." Jawabnya malu malu. "Oh di rumah ada. Tapi kalau mau di luar Ibu belikan ayo." Jihan menggandeng tangan Juma dan Dika pergi ke penjual eskrim yang tak jauh dari sana.

__ADS_1


"Kasih ke kakak." Ucap Jihan ingin mendekatkan anak anaknya. "Makasih." Ucap gadis cantik itu menerima eskrim dari Dika. "Sama sama Kak." Jawabnya sambil tersenyum. "Aku mau Dek." Kata Riza. "Tumben mau, biasanya nggak mau. Sebentar aku belikan." Kata Jihan hendak pergi lagi namun tangannya di cekal oleh Riza. "Mau punya kamu." Ia langsung memakan eskrim yang sedang di pegang sang istri.


Juma tak berhenti tersenyum memperhatikan kembang apinya. "Habis berapa Yah?" Tanya Julian sambil makan kacang. "850 ribu, bisa untuk beli kurma berkilo kilo itu." Jawab Riza tersenyum miris uangnya melayang hanya untuk membeli kembang api. "Jual lagi saja Yah." Kata Jaffan membuat adiknya merengek. "Ayah kita nyalain sekarang ya." Ajak Juma. "Ogah. Ayah nggak mau. Ayah nggak berani." Jawab Riza. "Dari dulu Ayah begitu." Keluhnya karena setiap menyalakan kembang api Riza selalu menyuruh tukang kebun atau supir di rumah. "Nanti biar kakak yang nyalakan." Kata Jason dan Juma mengangguk semangat. "Kalau mau main kembang api jauh jauh. Nanti kuda Ibu takut." Jihan memberi peringatan. "Jauh kok Bu. Seperti puasa tahun lalu. Main kembang apinya di lapangan." Jawab Juma sambil menidurkan kepala di pangkuan Ibunya. "Juma nanti tidur sama Ibu ya." Ucapnya memohon. "Nggak. Nggak ada lagi tidur sama Ibu. Ayah nggak kasih izin." Tegas Riza sambil berdiri. "Boleh ya Yah." Juma merengek mengekori Ayahnya yang yang berjalan pergi. "Maklum ya Dik." Ucap Papa. Dika mengangguk tersenyum menanggapi pria paruh baya itu. Ia bersyukur nasib baik berpihak padanya. Meskipun belum di terima oleh semua saudaranya namun Ia merasakan kehangatan keluarga disini.

__ADS_1


__ADS_2