
"Ibu mau kemana? Juma Ikut." Kata Bocah itu sembari mengejar kedua orangnya yang berjalan menuju pintu utama. Riza menghela napas. Tadinya Ia ingin pergi ke pasar bersama istrinya saja mupung anak bungsunya itu masih tidur. Namun apa daya jika sudah begini rencananya pun gagal. "Cuci muka dulu." Kata Jihan membuat Juma langsung berbalik dan berlari untuk segera melaksanakan perintah sang Ibu.
Juma kembali lagi setelah selesai mencuci muka. "Kenapa dia juga ikut?" Tanya bocah tampan itu melihat Dika juga bergabung. "Kak Dika kan juga mau temani Ibu." Jawab Jihan ambil tersenyum. Juma tak peduli langsung menggandeng tangan Ibunya untuk diajak berjalan duluan. "Ayo Dik." Ajak Riza menepuk pundak remaja itu kemudian segera menyusul sang istri.
__ADS_1
Jihan sampai di pasar langsung membeli ketupat dan daun pisang untuk membuat lontong. "Bikin lontong pecel enak Dek." Celetuk Riza. "Beli kacang sama daun jeruk kalau gitu buat bikin sambal." Jawabnya sambil memasukkan belanjaan ke dalam tas. "Juma lepasin tangan Ibu dong. Susah kamu pegang terus begitu." Tegur Riza. "Nggak mau." Jawabnya. "Besok sudah lebaran ya Bu?" Tanya Dika sambil membawakan membantu Riza membawa belanjaan. "Iya. Besok sudah lebaran. Nanti malam masak ketupat sama lontong buat makan opor besok pagi." Jawab Jihan sambil tersenyum.
Juma menarik tangan Ibunya ke penjual buah. "Mau apa?" Tanyanya. "Nangka, sudah lama nggak makan. Oh manggis sama sirsak juga enak." Jawab bocah itu tersenyum. "Biar Ayah yang pilihkan. Ibu nggak bisa pilih nangka." Jihan memasukkan manggis dan sirsak ke dalam kresek membiarkan Riza yang memilih nangka sambil diskusi dengan penjual. "Dika mau apa!" Tanya Jihan menawari. "Anggur Ibu." Jawabnya pelan malu malu. Ia sangat ingin makan anggur karena buah itu kata orang sangat enak. Meskipun tinggal di rumah Jihan namun Dika tak berani membuka kulkas atau memakan apapun meskipun berlimpah Jika Jihan tidak mengambilkan. Ia tau Jihan membebaskan dan memperlakukannya seperti anak anak yang lain. Namun Dika merasa sungkan. Ia sudah cukup merepotkan. Jihan serta keluarga sudah berbuat banyak untuknya. Lagipula latar belakangnya juga membuat Ia tak percaya diri dan minder. Hanya dia anak Jihan yang berasal dari jalanan dan kamu rendah, beda dengan Jason dan Julian yang memang dari keluarga terpandang. "Di rumah ada Nak. Kamu tidak pernah makan?" Tanyanya di jawab gelengan. "Dika. Ibu sudah bilang anggap rumah Ibu seperti rumah kamu sendiri seperti yang lain. Jangan sungkan mengerti." Ucap wanita itu. "Mengerti Bu." Jawabnya sambil mengangguk.
__ADS_1
Sampai di rumah Jihan langsung memasak di bantu anak anaknya. Selesai merebus ketupat dam lontong Ia beralih memasak opor, rendang dan kentang balado jadi besok tinggal dihangatkan. "Ibu tumben beli sirsak." Kata Jalwa. "Juma yang minta. Nanti di buat es." Jawab Jihan sambil mematikan kompor. "Mas tolong nangkanya itu dibuka." Jihan menghampiri suaminya sambil membawa pisau besar. "Sekalian minyak goreng Dek." Kata Riza. "Minyak buat apa Yah?" Tanya Jason membawakan minyak. "Biar nggak lengket." Jawabnya. "Getahnya banyak." Lanjut Pria itu mulai memotong nangkanya menjadi beberapa bagian.
Jihan sedang memangku putranya melihat kembang Api yang sedang di nyalakan di lapangan yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah. "Juma senang?" Tanya Jihan. Ia mengangguk kemudian memeluk Ibunya dengan penuh cinta dan kasih sayang. "Terimakasih Ibu." Ucapnya sambil tersenyum. "Sama Ayah tidak?" Tanya Riza ikut duduk bersama anak dan Istrinya. "Terimakasih Yah." Ucapnya.
__ADS_1
Riza dan Anak anak hanya menuruti keinginan Jihan. Selesai menyalakan kembang api, mengantar makanan di masjid masjid untuk orang takbiran mereka kini sedang membeli makan di pinggir jalan. "Sudah. Ayo pulang." Ajak Pria itu masih menggandeng tangan istrinya sambil membawa makanan yang di beli Jihan.
"Akhirnya pulang juga kalian." Ucap Papa melihat kedatangan anak, menantu dan Cucu cucunya. "Wah...Kamu jajanin anak anak atau istri kamu Za?" Papa terkekeh melihat menantunya membawa banyak makanan. "Istri Pa." Jawabnya sambil tersenyum kemudian meletakkan bawaannya di atas meja. "Mari makan." Ajak Jihan dengan semangat. "Ibu saja. Kami masih kenyang." Jawab Jaffan mengecup pipi wanita itu diikuti saudaranya yang lain. "Casper marah." Bisik Julian kemudian tertawa melihat ekspresi adiknya. "Dika. Ayo makan. Ini enak lo." Jihan menyuapi remaja itu martabak bangka. "Enak kan?" Tanya Jihan di jawab anggukan. "Jangan di suapi. Punya tangan sendiri." Kesal Juma yang sedang duduk di pangkuan Ibunya. "Biarin." Jawab Jalwa minta di suapi Ibunya untuk menggoda sang adik.
__ADS_1