
Pagi ini Jihan mengunjungi rumah Meta bersama anak anak. "Kenapa kesini sih? Mana nyetir sendiri. Kalo mau ketemu tinggal telpon kan bisa nanti aku kesana." Omelnya. "Nggak Papa." Jawab Wanita itu sambil mengamati Aska yang tertidur pulas di box bayi. Jihan duduk tak ingin mengganggu bayi kecil yang sedang lelap itu. Ia membiarkan anak anak bermain bersama Lita dan Gita di depan. "Kamu ada masalah?" Tanya Meta dengan hati hati. Meskipun tersenyum dan bersikap biasa namun Jihan tak bisa menyembunyikan kesedihan yang tersirat di wajah cantiknya. "Nggak. Nggak papa kok." Jawabnya sambil tersenyum. "Jangan bohong. Aku bisa merasakannya Ji." Ucap Meta merasa janggal. Biasanya kemanapun Jihan pergi akan selalu bersama suaminya namun tidak kali ini. Tidak menjawab wanita itu tiba tiba menangis. Meta langsung membawa adiknya dalam pelukan untuk menenangkan. Ia tak pernah melihat Jihan seperti ini. Ia tak pernah melihat tangis wanita itu sedalam ini. "Keluarkan semuanya. Menangis lah jika ini membuatmu lega." Ucap Meta sembari menepuk punggung sang adik tercinta.
"Kenapa? Cerita sama Kakak." Kata Meta setelah adiknya tenang. "Maaf. Tidak pantas di ceritakan. Sama saja aku mengumbar aib suami nantinya." Jawab Jihan sambil sesenggukan. "Baiklah. Aku mengerti. Sekarang tenanglah." Meta paham. Ia tak mengulik lebih dalam. Dalam keadaan seperti ini saja Jihan masih berpikir tentang harga diri suaminya. Kiranya apa yang telah di perbuat Riza hingga istrinya sesedih ini.
__ADS_1
Mereka pulang sekitar jam 11 siang. "Kami pulang dulu ya." Pamit Jihan bersama anak anaknya. "Iya hati hati." Jawab Meta memeluk ketiganya bergantian. "Kakak pulang dulu ya." Gita dan Lita mengangguk kemudian memeluk Jihan. "Hati hati kak." Ucap Mereka.
Begitu sampai di rumah Jihan dan anak anak langung masuk. "Mbak Jihan sudah pulang." Kata Bibi. "Sudah Bi. Aku ke atas dulu ya mau sholat." Pamit Jihan menyusul kedua anaknya yang sudah berlari menaiki tangga.
__ADS_1
Riza baru sampai di rumah. Pria itu langsung menuju kamar. Ia membuka tempat sholat dengan perlahan. Dilihatnya sang istri sedang berdoa beberapa saat kemudian suara tangisan terdengar membuat dadanya terasa sesak. Jihan ingin hubungannya dengan Riza seperti dulu. Ia merindukan masa masa bersama laki laki yang begitu Ia cintai setulus hati. Namun Ia sudah terlanjur sakit. Mungkin butuh waktu lama untuk menyembuhkannya.
Mereka sampai di ruang makan. "Kenapa nangis?" Tanya Papa. "Jatuh dari ranjang. Ayo makan." Jihan mulai menyiapkan makan untuk semuanya. "Dek. Nanti malam Mas ada pengajian." Kata Riza. "Hm. Iya." Jawab Jihan kemudian duduk. "Kamu tidak makan?" Tanya Sang suami namun Jihan menggeleng. "Aku masih kenyang." Jawabnya lalu meneguk susu yang sudah siap di meja.
__ADS_1
Malam hari Riza sudah memakai pakaian yang di siapkan sang Istri. Pria itu bergegas menghampiri Jihan yang sedang berkumpul di ruang keluarga bersama yang lainnya. " Mas berangkat dulu Dek." Pamitnya. "Iya. Hati hati." Jawab Jihan mencium tangan suaminya. Pria itu mencium kening istrinya sekilas lalu berpamitan pada Papa, Mark dan anak anak. Papa menghela napas melihat hubungan dingin menantu dan putrinya. Meskipun demikian Ia tak mau ikut campur. Keduanya sudah dewasa dan sudah sama sama bisa berpikir jalan yang terbaik untuk menyelesaikan masalah.
Jihan mengeluh merasa bosan. Papa berinisiatif mengajak putrinya untuk jalan jalan sebentar. "Duduk dulu. Kamu pasti cepek." Ajak Pria itu menggandeng tangan Jihan untuk duduk di bangku. "Jangan di pendam semua. Papa tau kamu menyimpan luka. Bukannya tidak peduli karena Papa tidak bertanya. Hanya saja Papa tidak mau ikut campur dalam rumah tangga kalian." Kata Pria itu sembari mengusap kepala putrinya. "Pa. Menurut Papa jika aku dan Mas Riza berpisah bagaimana?" Tanya Jihan meminta pendapat. "Kenapa sejauh itu?" Papa balik bertanya sembari menatap putrinya. "Pa. Sejauh ini. Dia...Dia sama sekali tidak percaya sama aku. Bukan hanya ragu. Tapi memang dia tak percaya Pa. Dia tidak percaya cinta dan ketulusan aku. Bayangkan saja berkali kali dia seperti ini. Berkali kali aku di buatnya sakit hati dan kemarin itu yang terparah. Secara terang terangan di menuduh aku berselingkuh. Istri mana yang tidak sakit hati suaminya berkata seperti itu Pa. Harusnya dia berpikir dulu. Apa pernah aku bohong atau bertemu laki laki tanpa sepengetahuan dia? Apa pernah aku mencari perhatian atau menggoda orang lain? Tidak pernah Pa. Aku takut dosa, takut juga menyakiti hatinya. Semua yang aku lakukan demi rumah tangga kita serasa sia sia saja. Aku Mencintainya Pa. Sangat. Tapi dia begitu kejam." Kata Jihan meluapkan semuanya. Wanita itu menangis pilu dalam pelukan sang Papa. Cintanya sudah ternodai dengan fitnah yang timbul karena tidak di dasari kepercayaan dari suami.
__ADS_1