
Jihan dengan setia menggenggam tangan suaminya. Ia begitu khawatir karena sudah satu jam Riza belum juga sadar. Dokter mengatakan jika pria itu dehidrasi, dan mengalami tekanan hebat hingga membuatnya seperti ini. "Jangan tinggalkan Mas." Ucapnya dengan mata yang masih terpejam. Jihan mengecup kening suaminya pelan kemudian beranjak pergi untuk ke dapur. Ia akan menyiapkan minuman hangat kalau kalau Riza bangun sewaktu waktu.
"Kamu darimana Mark?" Hanya Jihan melihat remaja itu masuk ke dapur langsung menuju kulkas untuk mengambil minuman dingin. "Dari rumah teman sebentar. Tadi kan sudah pamit." Jawabnya sambil membuka kaleng soda yang sedang di pegang nya. "Kak Riza kemari. Kakak sudah bertemu." Lanjutnya bertanya hanya di jawab anggukan. "Kakak ke kamar dulu." Jihan melangkah pergi sambil membawa secangkir minuman hangat. "Tumben suka yang anget anget." Gumam Mark melihat kepergian wanita itu.
__ADS_1
Perasaan Jihan bercampur aduk melihat kondisi Riza yang seperti ini. "Um..." Pria itu membuka mata lalu memeluk istrinya dengan erat. "Jangan tinggalkan Mas." Ucapnya dengan suara bergetar. Jihan diam dalam dekapan tubuh suaminya yang terasa panas. Tangannya bergerak untuk mengelus punggung pria yang tengah rapuh itu. "Mas..." Kata itu yang mampu di ucap tatkala tenggorokannya merasa ganjal. "Mas akan menunggu sampai kapanpun." Riza tak ingin mendengar kata kata perpisahan dari istrinya memutuskan untuk mendahului. Jihan menghela napas. Jika begini bukankah Ia tambah kejam karena membuat orang menunggu suatu yang tidak jelas tentang hatinya. "Tidak masalah sampai kapanpun. Mas akan menunggu. Tidak ada kata sia sia. Allah selalu memberikan hasil baik bagi yang berusaha dan sabar bukan bukan?" Ucap Riz begitu dalam mampu menembus relung hatinya. Jihan hanya bisa mengangguk lemah dan Suaminya merasakan itu. "Istirahatlah." Ia mengurai pelukan lalu meraih cangkir teh di atas nakas dan membantu suaminya minum.
Riza sudah tertidur pulas merasakan elusan lembut dari istrinya. Tangan kanannya menggenggam erat tangan sang istri agar bisa merasakan jika wanita itu sewaktu waktu meninggalkannya. Perlahan tapi pasti setelah suaminya hanyut dalam tidur yang dalam Jihan melepaskan diri dengan sangat hati hati. Sebelum pergi Ia mengecup kening suaminya dengan lembut kemudian bergegas turun dari ranjang dengan gerakan pelan.
__ADS_1
Jihan baru selesai mandi menghampiri suaminya yang duduk di tepi ranjang. Pria itu memeluk pinggang Sang Istri yang sedang berdiri. "Sudah turun panasnya." Ucap Jihan menempelkan telapak tangan pada kening suaminya. "Kapan beli perlengkapan untuk si kembar?" Tanya Riza sambil mengusap perut istrinya.
Jihan membawa suaminya untuk masuk ke kamar anak anak. Pria itu tampak takjub dengan dekorasi yang begitu elegan lengkap dengan perlengkapan bayi yang sudah tertata rapi. Riza berjalan di antara dua box bayi yang bersebelahan. Ia kemudian membalikkan badan segera memeluk istrinya yang masih berdiri di tempat. "Kamu melakukannya sendiri?" Tanyanya di jawab gelengan oleh sang istri. "Di bantu Mark dan Papa juga." Ucapnya pelan. Riza menghela napas. Seharusnya dia yang menyiapkan semua keperluan untuk anak anak bukan istrinya yang sedang hamil atau bahkan orang lain. "Maaf." Ucap Riza merasa tak berguna menjadi seorang suami. "Tidak masalah." Jawab Jihan sambil tersenyum.
__ADS_1
Riza menghampiri istrinya yang sibuk bertelepon dengan seseorang. "Diminum dulu Dek." Katanya sambil memberikan segelas susu dingin. Wanita itu mengangguk sambil tersenyum kemudian meneguknya dan meletakkan di atas meja. Ia meneruskan obrolan mengabaikan Suaminya yang bergelayut manja di lengan. "why did you tell me? It's none of my business." (Mengapa kau mengatakan padaku? Itu bukan urusanku.) Ucapnya sambil mendengus sebal. Riza yakin Jihan sedang membahas seorang pria karena Ia tak sengaja mendengar dari sebrang sana menyebutkan kata Handsome dan Rich. Percakapan menggunakan bahasa Inggris yang membingungkan. Riza tak paham apa yang dibicarakan selain dua kata itu. Jika bicara bahasa Inggris pelan saja Ia butuh waktu untuk mengerti. Lalu apa kabar dengan sekarang Jihan yang bicara begitu cepat. "Good night." Wanita itu mengakhiri panggilannya. "siapa?" Tanya Riza mendongak menatap sang istri. "Christina." Jawab Jihan meletakkan ponselnya di atas meja kemudian mengambil gelas susu yang masih setengah dan meneguknya sampai tandas hingga es batu yang beberapa butir juga ikut masuk ke mulutnya. "Tadi aku mendengar temanmu bilang Handsome and Rich. Siapa?" Tuh kan. Pak ustadz jadi kepo sendiri. "Teman masa sekolah kami." Jawab Jihan tidak jelas sambil mengunyah es. Riza gemas kemudian menegapkan tubuh mengecup dan mengigit kecil bibir dingin istrinya membuat wanita itu mengomel karena kesal.