Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Jangan Datang Lagi


__ADS_3

Minggu pagi yang cerah. Riza menggandeng tangan istrinya menuju ruang makan untuk sarapan. "Nggak perlu di gandeng juga kan. Kak Jihan nggak akan kemana. Kaya orang mau nyebrang aja." Mark menyindir tingkah Iparnya yang sangat posesif itu. "Makannya cepatlah menikah biar tau rasanya kalau bucin sama yang halal itu gimana." Jawab Riza sambil mengajak istrinya duduk. "Kya...usiaku masih belasan di suruh menikah. Ya jangan dong. Kerja saja belum. Nikah kan butuh persiapan matang. Butuh duit bukan cuman cinta." Jihan tersenyum dengan ucapan Mark yang ceplas ceplos. "Sudah punya calonnya belum?" Tanya Wanita itu sambil menyiapkan makan. "Belum lah. Nanti juga datang kalau sudah waktunya." Riza menggelengkan kepalanya. Memang wajah Mark tampan dan rajin beribadah. Siapa gadis yang tidak tertarik. Bahkan anak tetangganya saja pernah menanyakan remaja itu. "Mark. Kamu di tanyain anaknya Bu Farida tuh.." Riza mulai menggoda membuat Iparnya sebal. "Ogah. Bedaknya saja tebal begitu. Aku mau yang seperti kakak. Cantik luar dalam. Natural lagi. Lihat bibir, mata dan hidungnya indah. Beruntung kak Riza dapat kakak aku." Ucapnya membuat Riza memukul lengan Iparnya. "Kenapa sih kak?" Protes Mark tidak terima. "Itu istri kakak." Riza cemburu. "Iya tau. Kan aku hanya bicara saja. Lagipula aku kan adiknya. Kita tumbuh bersama. Kenapa cemburu begitu." Kini Jihan juga ikutan kesal karena perdebatan keduanya. "Ayo sarapan. Jangan pada debat. Kalau pengen adu argumen nanti saja." Tegurnya membuat keduanya seketika diam.


Selesai sarapan sepasang suami istri itu sudah berada di ruang keluarga. "Mas. Lihat siapa yang datang. Ada tamu kayanya." Ucap Jihan sedang menenangkan putrinya yang menangis. "Iya." Riza meletakkan Jaffan di sofa lalu bergegas pergi ke depan.


Suasana ruangan hening seketika. Bahkan Jalwa yang tadinya menangis juga sudah tenang. Keluarga Jihan datang. Saat ini mereka sedang diam tak tau harus bicara apa setelah melihat si kembar yang merupakan anggota baru dari keluarga kecil putrinya. "Maafkan kami Dek." Ucapnya membuat Jihan tersenyum. "Tidak ada yang perlu di maafkan. Bukannya apa apa. Aku sudah terbiasa." Jawab Jihan dengan tenang membuat tenggorokan semua orang tercekat. "Bagaimana kita adakan akikah di rumah?" Ayah selaku kepala keluarga memberi usulan. "Tidak perlu. Kami sudah melakukannya." Suaranya terkesan dingin dan menusuk. Bahkan Riza sendiri merasakan itu dari ucapan istrinya. "Jangan egois Dek. Dulu kamu juga tidak datang di pernikahan kakak." Ucap Jena dengan lirih mengungkit masa itu. "Siapa yang egois? Jika kalian lupa maka aku ingatkan. Dulu saat aku sekarat di rumah sakit kalian ada yang datang? padahal Nenek sudah memberi kabar tapi kalian tidak ada yang perduli. Lalu saat aku tidak datang di acara pernikahan karena sakit juga di anggap egois? Begitu? Jika alasan waktu itu tidak ada yang datang karena Putri kalian yang sakit juga aku rasa bukan hal yang patut di tolerir. Seharusnya kalian bisa bersikap adil. Ouh...aku lupa. Aku bukan anggota dari kalian. Tidak sepatutnya bicara seperti ini." Ucap Jihan penuh penekanan.


Jihan kembali setelah beberapa saat meninggalkan mereka. Wanita itu duduk sambil menegapkan punggungnya menatap satu persatu dari mereka. "Bawalah Cucu ayah untuk berkunjung Dek." Ucap Pria itu membuat Jihan tersenyum miring sambil menggelengkan kepala. "Ini mohon di bawa pulang." Jihan meletakkan kotak yang pernah di berikan bundanya. "Dek..." Wanita itu menatap putrinya dengan mata berkaca kaca. "Aku tidak menginginkan ini. Bawa pulang jangan sampai masalah bertambah panjang. Aku hanya ingin tenang dan damai. Jadi untuk kedepannya jangan datang lagi. Aku beri kalian 10 menit untuk berpamitan pada Jaffan dan Jalwa." Jihan menghela napasnya kemudian segera berdiri. "Dek. Jangan seperti ini." Ayah ingin memeluk putrinya namun seketika wanita itu mundur bersembunyi di balik tubuh Riza. "8 menit tersisa. Manfaatkan dengan baik. Aku tidak akan memperpanjang waktu." Ucap Jihan bergegas pergi meninggalkan mereka semua.

__ADS_1


Kediaman keluarga Al Rasyid.


Bunda tak berhenti menangis semenjak tadi padahal sudah di tenangkan oleh suami dan kedua anaknya. Niat mereka umrah adalah untuk mendoakan Jena agar secepatnya bisa menyusul Jihan yang sudah mempunyai momongan. Memang egois. Lagi lagi untuk Jena Jihan menjadi tersisihkan. "Sudah aku bilang kan kita berangkat umrahnya itu waktunya tidak tepat." Kesal Jaafar. Pemuda itu sudah menegur tapi adik perempuannya yang keras kepala menjadikan semuanya tambah runyam. Ia sadar jika perlakuan mereka pada Jihan sangat keterlaluan. "Sekarang ini yang kita dapat. Hubungan yang akhir akhir ini sedikit demi sedikit membaik malah tambah parah gara gara menuruti anak perempuan kalian." Ucapnya kemudian pergi sebelum emosinya semakin meledak lagi.


Di sisi lain Riza sedang memeluk istrinya dengan erat. Memang Jihan tidak menangis namun pria itu bisa merasakan hati Sang Istri yang tengah rapuh. "Menangis tidak apa Dek. Itu kadang bisa membuat hati lega." Ucapnya. Jihan menggeleng kemudian mendongak menatap suaminya. "Aku tidak selemah itu." Jawabnya sambil tersenyum. "Istri Mas memang hebat. Jadi makin cinta dan sayang." Riza mengecup bibir mungil itu dengan penuh kelembutan. "Jangan salahkan aku jika terjadi sesuatu padamu Mas. Kamu kan tau aku belum bisa melayani kamu." Ucap Jihan dengan lembut membuat Riza menelan ludahnya. Apalagi jemari Jihan sedang berada di dadanya membuatnya meremang. "Ouh...Tersiksa sekali kalau begini." Keluh Pria itu meletakkan keningnya di pundak sang istri.


Wih... Author gesit banget ya updatenya.

__ADS_1


Ceritanya mau di tamatkan atau lanjut nih????


Udah banyak episode soalnya sampai kelewat batas rencana. Aturan mau bikin sampai Jihan hamil saja sih. Eh malah keterusan sampai lahiran juga. Tak tunggu di komentar ya.....Author butuh kepastian sama kek pak ustadz sama yang sering di ghosting itu....wkwk jangan tersindir. Cuman bercanda🤗🤗🤗 jangan di masukkan ke hati. Masuk ke mulut lalu telan pasti kenyang oleh harapan. hahahah,😆😆


Dah ah. Mau mandi dulu...eh malah curhat 🤭🤭


Intinya love you all. Tak tunggu komennya ya...

__ADS_1


-Aku pada kalian-


__ADS_2