
Sekitar jam 6 pagi. Suara derap langkah kuda berlari cepat mengelilingi bangunan megah dengan nuansa putih itu. Seorang wanita memacu tunggangannya berlari cepat tak menghiraukan hawa dingin yang masih menusuk karena matahari belum muncul untuk memberi kehangatan. Peluh mulai berjatuhan menetes dari dahi dan sebagian membasahi kaos yang menutupi tubuh rampingnya. "Go Lucifer. Go." Suara nyaring itu terdengar begitu menggebu dan semangat menyalurkan energi untuk kuda hitam itu agar berlari lebih cepat.
"Good Boy." Ucap Jihan ketika turun. Wanita itu memeluk erat hewan kesayangannya sembari mengelus surai hitam yang menambah kesan gagah perkasa. "Bawa ke kandangnya Pak." Kata Jihan langsung mendapat anggukan. Ia berjalan menyusuri lapangan pacuan dengan pakaian yang sedikit basah. "Sudah puas?" Tanya Riza sambil bersedekap dada hanya di tanggapi dengan senyuman manis istrinya. Pria itu mengelap peluh sang istri kemudian memberikan minum. "Cukup. Mari sarapan." Ajak wanita itu mengecup pipi suaminya sekilas kemudian menggandeng lengan itu untuk diajak berjalan bersama. "Kamu lebih sayang kudamu itu daripada suami sendiri?" Tanya Riza di tengah perjalanan. "Kenapa harus cemburu dengan seekor hewan. Aku sayang kalian. Namun porsinya beda. Tentu lebih sayang kamu. Kalau tidak sayang tidak mungkin tiga pengacau itu akan hadir." Jawab Jihan membuat Riza tertawa. Istrinya bisa menggobal juga ternyata. "Aku tidak menggombal atau menggoda. Aku berkata serius." Ucap Jihan membuat Riza membelalakkan mata. Istrinya itu cenayang atau apa hingga tau apa yang sedang Ia pikirkan.
"Uh. Bau keringat." Ucap Papa sambil tergelak melihat putri dan menantunya datang. "Papa. Tidak ada yang pernah protes dengan bau keringatku. Kata orang tidak berbau. Papa yang pertama kali begitu." Jihan duduk di tempat biasa. "Ibu. Jalan jalan yuk." Ajak Juma. "Kemana?" Tanya Wanita itu sambil melahap sandwich nya. "Ke pantai." Jawab Jalwa sambil tersenyum. "Kakek ikut yuk." Ajak Jaffan namun pria paruh baya itu menggeleng. "Kakek bosan di pantai semasa muda. Kalian pergi saja." Jawabnya.
__ADS_1
Jihan menghampiri anak anak yang sudah menunggu di depan. "Ayo berangkat ucapnya. "Juma duduk di dekat Ibu." Kata remaja itu mendahului saudara saudaranya masuk ke dalam mobil lalu duduk di dekat Jihan. "Kamu ini. Bisa nggak sih ngalah sedikit sama Kakak." Kesal Jalwa. "Kalian begitu saja kesal. Apalagi Ayah yang suaminya." Ucap Riza mulai melajukan mobilnya.
Setengah jam perjalanan mereka sudah sampai di pantai. Jihan dan anak anak turun saat mobil sudah terparkir mulus. "Kalian duluan. Ibu mau pesan es kelapa sama Ayah. Jaffan. Jaga adiknya ya." Pesan Jihan. "Iya Ibu." Jawab remaja itu menggandeng tangan Jalwa dan Juma. "Kakak. Mau ikut Ibu." Keluh si bungsu. "Ibu cuman sebentar. Jangan ngeyel. Turuti apa kata kakak." Ucapnya tak mau menuruti keinginan sang adik.
Dua jam sudah cukup waktu mereka untuk bersenang-senang di pantai. Riza memutuskan untuk mengajak istri dan anak anaknya untuk pulang. "Mampir dulu buat belanja Mas." Kata Jihan saat dalam perjalanan pulang. "Ke swalayan depan itu ada Yah. Disana aja lengkap." Usul Jalwa. "Iya. Kita kesana." Jawab Riza menyetujui.
__ADS_1
Jaffan dan Ayahnya mendorong troli belanja mengikuti tiga orang yang sedang sibuk memilih. "Mau keripik kentang Bu." Kata Juma. "Ambilkan untuk kakak sekalian." Jawab Jihan langsung di sambut anggukan. Remaja tampan itu mengambil lima bungkus berukuran besar. "Detergen yang biasa nggak ada ya?" Tanya Jihan memperhatikan rak di depannya. "Itu Bu. Di atas." Kata Jalwa. "Biar Mas ambilkan." Riza dengan sigap mengambil beberapa botol detergen dan pelembut pakaian yang sering di gunakan. Maklum kulit istrinya sensitif jadi detergen saja harus benar benar di perhatikan.
Riza tersenyum. Baru saja di tinggal sebentar meletakkan belanjaan di dapur Ia sudah mendapati istrinya tertidur pulas diatas sofa. Pria itu mengecup kening Jihan kemudian menggendongnya untuk dipindahkan ke kamar.
Jihan masih tertidur dengan tenang dalam gendongan suaminya. Riza meletakkan tubuh ringan sang istri di ranjang dengan hati hati. Pria itu melepas Jilbab, sepatu dan kaos kaki istrinya. Ia mengambil tissue basah untuk membersihkan kaki dan tangan wanita itu. Tak lupa Ia juga membersihkan wajah Jihan dengan micellar water dan kapas. Selesai dengan semuanya Riza ikut tidur sambil memeluk Jihan dengan erat. Ia mengecup bibir dan kening istrinya dengan penuh cinta. "Um..." Lenguh Jihan masih dengan mata tertutup. "Tidur lagi sayang." Ucap Riza menepuk punggung sang istri pelan.
__ADS_1