Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Pemeriksaan


__ADS_3

Meta berkunjung ke rumah Jihan setelah semua acara sampai 7 hari Jena selesai. "Bumil kenapa kesini?" Tanya Jihan berjalan menghampiri Kakaknya. "Mau main memangnya tidak boleh?" Sewot wanita itu. "Nggak boleh dong. Hamil harusnya banyak banyak istirahat saja." Semuanya mendengus atas pernyataan Jihan barusan. "Yang hamil malah jalan jalan ke luar negri dulu siapa?" Tanya Meta sambil berkacak pinggang. "Hehehe.. Nggak. Boleh main kok. Sini duduk." Ucapnya tak melanjutkan karena takut di serang orang banyak. Karena memang dulu saat hamil si kembar Ia banyak jalan jalan sampai suami, papa dan Mark kesal. "Beberapa hari nggak ketemu, kamu kok kurus banget." Ucap Meta membelai wajah Jihan. "Makannya susah sekarang. Di paksa juga nggak mau." Sahut Riza yang sedang mengobrol bersama Rudi. "Kenapa nggak mau makan?" Tanyanya. "Makan dong. Nanti sakit gimana?" Lanjut wanita itu khawatir. "Iya. Nanti makan." Jawab Jihan sambil tersenyum. "Lagi ada yang dipikirkan?" Wanita itu hanya menggeleng menanggapi Meta yang begitu banyak bertanya.


Beberapa saat pergi. Jihan kembali bersama Mark membawa minum dan cemilan untuk teman mengobrol mereka. "Eh...Gita sama Lita tadi mana?" Tanya Jihan setelah meletakkan nampan di atas meja. "Main di belakang paling." Jawab Meta. "Kenapa?" Tanyanya. "Sebentar." Tidak menjawab Jihan malah berlari menaiki tangga. "Hati hati Dek." Tegur Riza takut istrinya akan terjatuh. "Sudah pernah jatuh dari tangga nggak ada kapoknya." Mark ikut ikutan kesal dengan tingkah kakaknya.

__ADS_1


"Sudah di bilang untuk hati hati." Ucap Riza ketika sang istri kembali. "Iya." Jawab Jihan. "Eh kalian sudah disini. Ini untuk kalian." Ucapnya memberi paper bag pada Lita dan Gita. "Makasih Kak." Keduanya memeluk Jihan dengan erat. "Iya." Wanita itu membalas pelukan mereka. "Kenapa repot repot beliin mereka Jilbab segala sih. Kamu udah kasih banyak." Ucap Meta tidak enak. "Nggak papa." Jawabnya sambil tersenyum. Jihan duduk kembali bersama Meta. "Dek. Kakak kamu kok bisa kecelakaan gimana?" Wanita itu lanjut bertanya dengan hati hati. "Suaminya mengantuk saat berkendara. Jadi mobilnya menabrak pembatas saat menghindari truk di depan." Jawab Jihan menjelaskan.


Di sisi lain dua orang sedang memohon pada anak lelakinya untuk membawa sang adik pulang. "Sekarang kalian begitu. Dulu Jena masih ada kemana saja. Waktu kesepian kalian baru teringat ya. Kalau punya tiga anak hanya perhatian dengan satu anak saja. Meskipun aku tinggal sama kalian yang kalian perhatikan siapa? Jena kan. Jihan sudah punya kehidupan sendiri yang bahagia jadi jangan mengusiknya. Bahkan anak yang kalian tidak rawat dan tidak besarkan bisa menjadi konglomerat lewat bisnisnya. Kalian tidak tau ya di sudah beli mobil milyaran, haji berkali kali, mengumrahkan karyawannya hingga membangun istana megah yang sekarang masih dalam proses. Apa nggak malu menjilat ludah yang sudah di buang." Ucap Jaafar meninggalkan kedua orang tuanya untuk kembali ke apartemen.

__ADS_1


"Lagi apa dek?" Tanya Riza sembari memeluk istrinya. "Lagi bikin ekspresso." Jawab wanita itu. "Maaf." Ucapnya tiba tiba. "Nggak papa." Riza menghela napas atas jawaban istrinya karena Jihan begitu santai dan tak pernah ambil pusing terhadap sesuatu. "Minggir dulu aku mau duduk." Ucapnya namun Riza enggan menuruti. Jihan tak berdebat. Ia langsung melangkah pergi dengan suami yang masih menempel.


Keduanya kini sudah berada di teras belakang. Jihan duduk menikmati kopinya sembari di peluk sang suami. Riza mendongak menatap bibir mungil merah Cherry yang lembab itu tak berhenti menyeruput kopi yang masih mengepul panas. "Enak ya Dek?" Tanyanya di jawab anggukan. "Mas mau dong." Ucapnya. "Nggak boleh. Kamu punya sakit lambung." Jawab Jihan. "Sedikit saja." Ucap Riza mengecup bibir Jihan. "Enak ya." Ucapnya sambil tersenyum membuat Jihan memutar bola matanya malas. "Dasar modus." Gumam Jihan pelan. "Modus begini kamu cinta kan?" Tanya Riza menggoda. "Kalau nggak cinta sudah aku buang." Jawabnya membuat Riza tertawa.

__ADS_1


__ADS_2