
Sepasang suami istri itu masih sama sama hanyut dalam pikiran masing masing. "Dek." Panggil Riza dengan lembut sembari mengusap wajah cantik istrinya. "Hm." Jihan hanya berdehem menanggapi laki laki itu. "Aku mau kamu. Bolehkah aku mendapatkan hak ku?" Tanyanya pelan seolah berbisik. "Aku tidak bisa menahannya terlalu lama lagi. Aku laki laki normal Dek. Butuh di beri kepuasan batin juga." Kata Riza panjang lebar membuat istrinya itu menoleh. "Maksudnya?" Jihan benar benar tidak mengerti. "Ayo kita melakukan hubungan suami istri pada umumnya. Kita sudah menikah dan halal. Jika tidak dilakukan akan menjadi dosa." Jawab Riza membuat Jihan dengan cepat mendudukkan diri. "Aku tidak bisa." Ucapnya sembari menurunkan kaki dari ranjang. "Dek. Aku suamimu. Aku sangat mencintaimu." Riza tampak bersungguh sungguh. "Aku tidak mencintaimu. Pernikahan kita hanya sebatas menjalankan wasiat tidak lebih." Jihan mulai berdiri. "Aku suamimu. Aku akan membuat kamu mencintaiku." Ucapannya mampu membuat Jihan mematung. "Jangan berharap banyak dalam pernikahan ini karna aku tidak mencintaimu." Jihan menatap datar suaminya kemudian segera melangkah pergi. "Kumohon cintailah aku." Lirih Riza menatap sendu kepergian Istrinya.
Jihan sedang duduk memandang kosong jendela yang terbuka lebar. Ia mengusap wajahnya dengan kasar. Hari dan pikirannya begitu kacau sekarang. Ia tak memiliki rasa pada suaminya. Mau dipaksakan bagaimanapun juga Ia tidak bisa. Bukan karena ada laki laki lain. Hatinya benar benar kosong tak ada yang bersemayam disana. "Maaf." Ucap Jihan sembari meneguk Vodka nya yang sudah di tuangkan di gelas.
__ADS_1
Hampir pukul 2 malam Riza tampak gusar karena istrinya tak kunjung kembali ke kamar. Laki laki itu memutuskan untuk ke ruangan Istrinya karena sudah mencari kemana mana tidak menemukan. "Dek." Riza mengetuk pintu berulang kali namun tidak ada jawaban. "Di kunci." Gumamnya mulai panik. Dengan sekuat tenaga laki laki itu mendobrak pintu sampai terbuka lebar. "Astaga." Riza merengkuh tubuh istrinya yang sudah tergeletak di lantai sambil merancu tidak jelas.
Riza meletakkan Jihan dengan hati hati di ranjang. Gadis itu tampak menggeliat dan sangat menggoda di mata suaminya. Jika begini jangan salahkan Riza tidak dapat menahan lagi. Laki laki itu mulai mencium bibir istrinya yang masih berbau minuman dengan sangat lembut dan menuntut. Ciuman semakin turun ke leher sembari tangannya bergerak liar untuk membuka pakaian secara bergantian. "Akh...Sakit." Teriakan terdengar setelah sekian menit berlalu. Darah segar keluar dari bawah sana menandakan gadis itu masih sangat terjaga. "Terimakasih dan Maaf." Ucap Riza mengecup kening mulus sang istri dengan sangat lembut untuk menutup penyatuan mereka malam ini. Ia membawa tubuh polos itu dalam dekapnya sembari mengusap punggung sang istri dengan lembut.
__ADS_1
"Aku berangkat dulu ya. Sarapannya di makan." Ucap Riza sembari meletakkan nampan di atas meja. Jihan tak menjawab hanya menapakkan wajah datarnya yang menatap lurus ke depan. Riza memutuskan untuk ikut duduk di sofa. Ia mengusap lengan Jihan dengan lembut kemudian mengecup pipinya sekilas. "Aku berangkat dulu Dek. Assalamualaikum." Ucapnya berpamitan namun lagi-lagi tak mendapat jawaban.
"Kakak nggak ikut sama kita? Masa dia masih tidur sampai tidak menyiapkan sarapan. Tidak biasanya." Kata Mark melihat kedatangan iparnya. "Belum bangun. Biar dia istirahat. Semalam mengecek laporan keuangan sampai larut. Dia masih mengantuk." Jawabnya beralasan. Mark hanya bisa mengangguk kemudian memasuki mobil menyusul Riza yang sudah masuk duluan.
__ADS_1