
Jaafar menangis tergugu dalam pelukan adiknya. Ia tak bisa berkata kata lagi. Saat Ia sakit sendiri tak ada yang mengurusi Jihan datang padanya. Hanya adik bungsunya itu yang peduli. Ia menjadi teringat perlakuannya dan keluarga saat wanita itu sedang sekarat pun tak ada yang datang karena sibuk dengan anak tengah. Semalam kondisi asam lambungnya semakin memburuk hingga membuatnya pingsan. Riza datang bersama sang istri sambil membawa dokter untuk memberikan penanganan karena Jaafar tak mau di rujuk ke rumah sakit. "Maaf." Ucap Jaafar setelah Jihan melepaskan pelukan. "Makan dulu. Minta maaf nanti saja." Ucapnya mulai menyuapi sang kakak. Meskipun kesal mau bagaimana lagi. Jaafar tetaplah saudaranya. Ia tersenyum kemudian menerima suapan Jihan. "Keponakanku tidak datang?" Tanyanya. Jihan tidak menjawab hanya diam saja. "Mereka ada di depan." Jawab Riza sambil tersenyum.
"Paman." Ucap Jaffan dan Jalwa mencium tangan sosok laki laki yang sedang terbaring lemah di ranjang. "Kalian sudah besar." Jaafar tersenyum mengelus pipi kedua ponakannya. Ia tak pernah bertemu secara langsung karena Jihan menolak. Jadi Jaafar hanya bisa mengamati dari kejauhan. "Ibu. Ayo pulang." Ajak Jalwa menarik narik gamis ibunya. "Sebentar sayang." Ucap Jihan. "Kamu pulang saja sama Mark Dek. Biar aku yang di sini." Kata Riza. Wanita itu mengangguk kemudian segera berpamitan. "Maaf dan terimakasih." Ucap Jaafar sembari menggenggam tangan Jihan. "Maaf telah banyak salah hingga tak bisa di maafkan dan terimakasih untuk kelapangan hati kamu." Ucapnya sambil mencium punggung tangan Jihan beberapa kali.
__ADS_1
Suasana kembali hening setelah Jihan pergi. Riza hanya duduk menemani Iparnya. "Makasih Za. Makasih telah mempertemukan kita." Ucap laki laki itu. "Bahkan jika aku di panggil sekarang aku tidak akan menyesal karena telah meminta maaf padanya." Riza menggeleng pelan. "Jangan mendahului takdir." Ucapnya sambil tersenyum.
Jihan sampai di rumah Istirahat sebentar. Wanita itu berjalan menuju ke dapur menyiapkan makan malam untuk di bawa ke apartemen kakaknya kerena tadi Riza bilang akaan menemani Jaafar. "Kak. Nanti malam kakak kesana lagi?" Tanya Mark sambil membuka kulkas mencari minuman dingin. "Iya. Kakak iparmu kan disana. Tau sendiri kan dia tidak mau makan makanan luar. Makin tua makin manja." Ucap Jihan sembari mencuci sayuran. "Begitu juga Suami kakak." Mark terkekeh pelan. "Nanti aku antar." Ucapnya Sambil membantu Jihan memotong motong sebisanya.
__ADS_1
Jihan memasukkan makanan ke dalam paper bag setelah semuanya siap. Wanita itu bergegas memanggil anak anak untuk segera di diajak berangkat. "Kita ke rumah Paman lagi ya Bu?" Tanya Mereka saat sudah di dalam mobil. "Iya Sayang. Kasihan." Jawab Jihan. "Kan paman sama yang lain sudah jahat sama Ibu." Ucap Jalwa di angguki kembarannya. "Biarkan Allah yang balas. Kejahatan nggak harus di balas kejahatan. Bahkan kita jadi orang yang mulia ketika membalas kejahatan dengan kebaikan." Tutur Jihan membuat kedua bocah itu mengangguk.
"Assalamualaikum." Jihan sudah sampai langsung masuk ke apartemen. "Waalaikumsalam." Jawab Riza dan Jaafar yang sedang duduk di ruang tamu. "Ayo makan dulu." Ajaknya menyiapkan makanan atas meja. "Makan ini. Setelah itu minum obat." Ucap Jihan memberikan bubur pada kakaknya. "Terimakasih." Jaafar tersenyum. Seumur umur baru kali ini Ia merasakan kehangatan keluarga yang sesungguhnya. Jika berkumpul dengan Ayah, Bunda mereka selalu membahas hal yang tidak penting dan cenderung mencurahkan segala perhatian pada Jena.
__ADS_1
Jihan menyiapkan makan untuk suami dan adiknya kemudian Ia makan bersama anak anak. "Terlalu pedas ya Mas?" Tanyanya meminta pendapat. "Enggak kok Dek. Nggak pedas." Jawab Riza sambil tersenyum. "Paman boleh coba?" Tanya Jaafar pada dua ponakan kecil yang sedang asyik makan di suapi ibunya dengan tangan kosong. "Perut kamu nanti sakit. Kan dokter bilang jangan makan makanan yang kasar dulu." Ucap Jihan terkesan dingin namun perhatian. "Sedikit saja." Ucapnya memohon. Jaffan kan pengen melihat mereka makan dengan lahap. "Tanggung sendiri nanti." Ucap Jihan menyodorkan makanan pada kakaknya. "Suapi." Kata laki laki itu membuat sang adik menghela napas. "Iya." Jawab Jihan menyuapi Kakaknya. "Habis makan bubur aku mau makan itu juga." Ucap Jaafar sambil mengunyah.