Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Juma Sayang Ibu


__ADS_3

"Juma. Kakak minta maaf. Kakak tidak bersikap dewasa. Kakak menyakiti hati kamu. Kakak minta maaf." Jaffan memeluk adik bungsunya. "Kamu mau kan maafin kakak? Kakak janji kakak nggak akan ulangi lagi. Kakak sayang kamu. Waktu itu kakak cuman kesal karena kamu terus merengek saat Ibu capek baru pulang." Lanjutnya lagi menjelaskan. "Kamu maafin kakak kan?" Bocah tampan itu mengangguk sambil tersenyum. "Terimakasih." Ada kelegaan tersendiri di hati Jaffan. Tidak ada keceriaan dan keributan yang di buat Casper membuatnya rindu. "Nah. Kalau baikan begitu kan enak." Kata Riza menghampiri kedua putranya. "Oh iya Ibu mana?" Lanjutnya bertanya. "Di kamar kak Julian lagi kasih obat. Sakit perutnya." Jawab Jaffan.


"Ibu." Juma berlari memeluk ibunya yang sedang duduk di tepi ranjang Julian. "Sudah enakan?" Tanya Riza. "Lumayan Yah." Jawabnya masih berbaring. "Makannya kalau makan sambel jangan banyak banyak." Tegur Jaffan di jawab anggukan. "Kak Julian dengar tidak?" Ucap Juma mempertegas. "Dengar Casper. Astaga." Jawabnya. "Aku bukan casper. Dasar drakula." kesal Juma memeluk Ibunya. "Ibu. Ayo ke minimarket. Antar Juma jajan. Juma dapat uang dari kak Jaffan." Ucapnya sambil memperlihatkan tiga lembar uang ratusan ribu. Jihan menatap Jaffan hanya di balas senyuman oleh remaja itu. "Minta antar Ayah." Kata Jihan namun putra bungsunya menggeleng. "Minta antar kakak kalau gitu." Lagi lagi Juma menggeleng. "Maunya sama Ibu." Jawabnya sudah manja seperti semula membuat Jihan bahagia. "Ibu nggak mau." Jawabnya sambil memalingkan wajah. "Ibu begitu." Juma mulai merengek. "Ayo ayo. Turun dulu." Kata Jihan pada akhirnya. "Makasih Ibu." Juma mengecup pipi sang Ibu kemudian turun dari pangkuan wanita itu.

__ADS_1


Jihan, Riza dan Putra bungsu nya sudah berada di minimarket terdekat. Suami istri itu hanya mengikuti anaknya. Membiarkan Juma membeli apapun yang di inginkan. "Memangnya cukup uang kamu?" Celetuk Riza sambil membawa sekeranjang penuh belanjaan putranya. "Ibu kan ada." Juma terkikik. "Ibu nggak bawa uang." Jawab Jihan. "Ayah?" Tanyanya namun Riza menggeleng. "Ibu..." Ia menatap Ibunya sambil merengek. "Ibu bawa. Ayo lanjutkan." Kata Jihan pada akhirnya.


"Casper borong ya." Kata Jason melihat kedatangan adiknya. "Iya dong." Jawab Juma dengan semangat berlari menuju sofa. "Hati hati. Jatuh nanti." Tegur Papa. "Beli semua begitu habis?" Tanya Pria paruh baya itu sambil terkekeh. "Habis. Giginya kuat. Mampu kunyah banyak." Jawab Jaffan sambil tersenyum. Juma tidak peduli. Bocah itu sibuk memakan keripik yang dibukakan Ibunya. "Kakak minta boleh?" Tanya Julian. "Boleh." Jawabnya memberikan dua. "Sedikit sekali. ini habis di mulut nggak sampai perut." Kata remaja itu. "Kakaknya di kasih. Jangan pelit." Tegur Jihan. "Iya Bu." Julian tersenyum mendapat satu bungkus besar. "Terimakasih adek." Ucapnya mengecup pipi bocah tampan itu. "Jangan cium cium. Ini milik Ibu." Kesalnya sambil mengusap bekas ciuman sang kakak.

__ADS_1


"Juma mana?" Tanya Jalwa baru kembali dari dapur. "Pergi kasih makan ikan tadi katanya." Jawab Jaffan. "Oh." Gadis itu ikut duduk bersama saudara saudaranya. "Kita ke Jogja nya kapan?" Jason duduk sambil memijit Kaki kakek. "Nanti kita tanya Mama." Julian menanggapi kembarannya. "Enak pijatan kamu. Belajar darimana?" Tanya Papa sambil terkekeh. "Kakek. Hampir dipijitin tiap hari baru memuji." Jawab Jason sambil cemberut.


"Juma." Teriak Jihan membuat semuanya menuju sumber suara. "Ada apa Dek?" Tanya Riza. Tidak menjawab Wanita itu menghela napas pelan melihat Juma berenang dengan ikan ikan mahalnya. "Naik." Tegas wanita itu. "Tadi bilangnya cuman mau kasih ikan malah begitu." Lirih Jaffan sambil menggelengkan kepala. "Bisa stress ikan Ibu kamu mainin." Kata Jihan sambil berkacak pinggang. "Maaf Bu." Ucapnya sambil menunduk. "Ada ada aja kamu. Bau amis begini. Mandi." Juma mengangguk langsung berlari untuk mandi sesuai perintah Ibunya.

__ADS_1


Jihan heran sedari selesai makan malam tadi Ia tidak melihat Juma. "Adek mana?" Tanya Wanita itu namun semuanya menggeleng. "Itu dia." Kata Julian melihat kedatangan adiknya. Juma berdiri di depan Jihan sambil menyembunyikan sesuatu. "Juma minta maaf Bu." Ucap bocah itu. "Ini untuk ibu." Lanjutnya memperlihatkan piring kecil yang di sembunyikan sejak tadi. Jihan tersenyum lebih tepatnya ingin tertawa melihat maha karya putra bungsunya. Dua keping biscuit dengan lelehan coklat dan parutan keju. Jangan lupakan juga strawbery yang diletakkan di atas sebagai pemanis. Semuanya tertawa membuat Jihan berdehem. Ia juga mencubit paha suaminya karena pria itu tertawa paling keras. "Sakit Dek." Keluh Riza namun istrinya tak peduli. "Jelek ya Bu?" Tanya Juma. "Bagus kok sayang. Sangat cantik. Ibu sampai tidak tega memakannya. Terimakasih." Jihan memeluk Juma. "Sama sama Bu.Juma sayang Ibu." Ucapnya. "Ibu juga sayang Juma." Jawab Jihan mengeratkan pelukannya.


__ADS_2