Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Hari Pertama Di London


__ADS_3

Pagi hari di London.


Jihan membiarkan suaminya tidur lagi setelah sholat subuh. Pria itu muntah muntah di sepanjang perjalanan. Kata orang sih mabuk udara. Soalnya ini pertama kali Riza naik pesawat. Jihan merasa heran. Fasilitas di pesawat terbilang nyaman bahkan sangat nyaman namun entah kenapa suaminya bisa begitu. Mungkin karena pertama kalinya ya...dia agak grogi jadi ya begitulah.


Dua orang sedang sarapan bersama di ruang makan yang terbilang mewah. "Kak Riza masih sakit?" Tanya Mark. "Masih tidur. Sudah tidak sakit. Tapi mungkin badannya masih lemas. Habiskan sarapanmu. Kakak siapkan sarapan untuknya dulu." Ucap wanita itu di jawab anggukan oleh adiknya.

__ADS_1


Di sisi lain Riza baru terbangun dari tidurnya. Pria itu duduk sambil bersandar di headboard ranjang. Ia tak menyangka istrinya sekaya ini. Eh bukan....maksudnya Jihan memang kaya tapi tidak pernah terbersit di pikirannya sang istri mempunyai mansion sebesar ini. Bukannya apa apa, mansion yang sekarang di tempatinya bahkan besarnya tiga kali lipat dari rumah mertuanya yang besar. Bayangkan saja. Kata Sang istri ini peninggalan nenek sekaligus rumah masa kecilnya. Jika sudah setajir ini kenapa bekerja untuk kuliah? Nah jika ditanya begitu Jihan akan menjawab biar tidak bergantung pada orang lain. Mandiri itu penting. Iya jika posisi selalu di atas dan berkecukupan. Kalau tidak. Ini dilakukannya agar Ia terbiasa berjuang dan bersusah payah tidak hanya menikmati harta yang ada.


Pintu kamar terbuka membuat Riza mendongak. Pria itu buru buru berdiri menghampiri istrinya yang sedang membawa nampan masuk. "Kenapa bawa kesini sih Dek. Kan Mas bisa turun ke bawah untuk sarapan." Ucapnya mengambil nampan dari sang istri kemudian mengajaknya duduk. "Nggak papa. Kamu kan masih mual." Jawabnya. "Sudah nggak mual kok." Riza tersenyum sembari mengusap kepala sang istri. "Yasudah makan dulu sarapannya. Aku siapkan air mandi dulu." Pria itu hanya mengangguk menuruti keinginan istrinya.


Mobil sampai di area pemakaman. Tiga orang turun sementara supir menunggu di dalam. "Ayo." Jihan berjalan mendahului keduanya. "Hati hati Dek." Ucap Riza bergegas mengejar Sang istri. Pria itu cemas nanti istrinya tersandung. "Dasar yang satu bucin yang satu begitu." Ucap Mark mulai melangkah.

__ADS_1


Jihan duduk di antara dua makam berjajar bertumpu dengan dikedua lututnya. Wanita itu meletakkan satu buket bunga mawar di masing masing nisan. "Jihan datang Kek. Nek. Jihan sudah menikah dan sedang hamil sekarang. Selamat hari raya. Dulu kita sering merayakannya bersama namun kini tidak lagi. Terimakasih sudah merawat Jihan. Memberikan kehidupan yang luar biasa bahkan tak di berikan oleh orang tua Jihan sendiri. Kakek dan Nenek yang menjalani kewajiban yang seharusnya itu tanggungan Ayah dan Bunda Jihan. Kalian luar biasa. Jihan sayang kalian." Ucapnya sembari menahan air mata agar tidak menetes. Ia tak ingin terlihat cengeng di depan siapapun. Riza dan Mark mengusap bahu wanita itu kemudian membantu untuk berdiri.


Selesai dari makam mereka langsung pulang. "Kita ke pantainya kapan Kak?" Tanya Mark dengan wajah lesu. "Besok. Ini kan masih ramai. Sudah dibilang juga." Jawabnya sambil duduk di samping sang adik. "Kalau gitu aku sepedahan aja deh." Ucapnya sambil berdiri dari duduk. "Jangan jauh jauh. Awas saja waktu makan siang nanti belum kembali." Teriak Jihan kerena remaja itu sudah berjalan cukup jauh. "Kamu nggak istirahat?" Tanya Riza sambil mengusap lembut perut istrinya. "Ini lagi istirahat Mas." Jawab Wanita itu. "Aku pijitin kakinya." Jihan menggenggam tangan suaminya sambil menggeleng. "Nggak usah. Aku nggak capek sama sekali." Ucapnya. Riza menghela napas kemudian merangkul bahu sang istri. Pria itu membawa Jihan untuk bersandar di dadanya yang bidang. "Jantung kamu kenapa?" Celetuk Jihan merasakan detak jantung Riza yang tak karuan. "Kalau dekat kamu sepeti ini."Jawabnya sambil terkekeh.


Mark belum juga kembali padahal ini sudah waktunya makan siang. Riza dan juga Jihan sudah siap di ruang makan. "Darimana kamu? Lama banget." Kata Jihan melihat remaja itu baru datang. "Maap kakak ku sayang. Lama nggak sepedahan jadi keterusan." Ucapnya sambil mencium pipi Jihan dengan gemas.

__ADS_1


__ADS_2