Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Boleh Dicoba


__ADS_3

Riza berjalan kaki dengan adik iparnya untuk membeli bubur Ayam. "Menurut kakak keluarga kak Jihan gimana sih?" Tanya Mark tiba tiba membuat Riza menatapnya heran. "Hanya tanya saja. Jangan menatapku begitu." Ucapnya sambil memalingkan wajah. "Ya begitulah. Mungin sama dengan yang lain. Tidak perlu di perjelas pasti kamu tau. Yang namanya suami itu pasti merasakan apa yang dirasakan istrinya." Jawab Riza membuat Mark mengangguk.

__ADS_1


Keduanya telah sampai di kedai pak Sukur. "Assalamualaikum." Ucap Riza. "Waalaikumsalam." Pria paruh baya itu langsung menghampiri. "Ustadz. Maaf akikah kemarin tidak bisa datang. Ada acara lamaran di rumah kerabat. Terimakasih ya sudah diantar makanan banyak banget." Riza mengangguk. "Sama sama pak." Jawabnya sambil tersenyum. "Bubur 2 ya ustadz?" Tanyanya menebak pesanan Riza. "Tiga pak. Dibungkus ya." Kata Riza mengajak Mark untuk duduk sambil menunggu pesanan di siapkan.

__ADS_1


"Assalamualaikum." Keduanya telah sampai di rumah. "Waalaikumsalam." Jawab Jihan. Wanita itu duduk di karpet sambil menjaga kedua anaknya yang tertidur. "Tidur lagi ya?" Tanya Riza ikut duduk bergabung bersama istrinya. "Tidur lagi habis minum ASI." Jawabnya sambil mengusap pipi si kecil bergantian. "Jangan di ganggu nanti bangun." Jihan menegur suaminya yang sedang memainkan pipi dua bayi menggemaskan itu. "Ayo sarapan dulu." Ajak Mark baru kembali dari dapur mengambil sendok dan minum. "Aku suapi Dek." Kata Riza. "Nggak usah. Kamu makan saja. Aku bisa makan sendiri." Tolak Jihan namun seperti biasa Pria itu tak peduli dan mulai menyuapi. "Mangga di depan sudah pada Mateng. Ada yang dimakan burung dua." Jihan mantap adiknya. "Kamu mau mangga dek?" Tanya Riza dan istrinya mengangguk karena mulutnya masih penuh.

__ADS_1


Riza membawa sepiring mangga yang sudah di kupas dan di potong menghampiri Istri dan Iparnya. Jihan dan Mark saling tatap kemudian keduanya tergelak bersama. Bagaimana tidak tertawa. Riza memotong mangga tidak seperti orang kebanyakan. Pria itu memotongnya kecil dan tipis tipis. "Ini keripik mangga basah?" Tanya Mark sambil tertawa lagi. "Heh. Bentuk tidak masalah. Yang penting kan rasanya." Biasa saja menjawab dasar pak Ustadz. "Coba Dek. Manis lo. Kaya kamu." Ucapnya membuat Jihan memutar bola matanya malas karena setiap hari mendengar gombalan ajaib sang suami. "Gimana? Manis kan?" Tanya Riza. "Asem kaya yang kupas." Jawab Jihan membuat Riza gemas. "Heh. Jangan mesra mesraan di sini. Ada anak puber nih." Sindir Mark sebelum Riza mencium istrinya.

__ADS_1


Sore hari Jihan dan Riza duduk di ruang keluarga sambil menggendong putra putrinya. Pria itu memperhatikan Jaffan dan Jihan bergantian. "Iya ya. Semuanya mirip kamu Dek. Kok sama sekali nggak ada yang mirip aku." Wanita yang sedang menyusui itu tersenyum menanggapi suaminya. "Yang namanya wajah bayi kata orang sering berubah. Mungkin mirip kamunya nanti." Jawab Jihan membuat suaminya mengangguk. "Dua ini sudah ya. Jangan tambah lagi." Ucap Riza tiba tiba membuat istrinya menatap pria itu dengan heran. Dulu kan Riza yang paling semangat pengen punya anak. Nah kenapa sekarang pria itu menjadi begini? "Bukan soal tidak suka anak atau keberatan biaya Dek. Hanya Saja Mas tidak tega melihat kamu kesakitan saat melahirkan. Ya memang sudah kodratnya sih. Namun hati Mas nggak tega saja." Pria itu memberikan penjelasan. "Malam pertama juga sakit Mas. Sakit banget malah. Kamu kok tega?" Tanya Jihan membuat Riza melongo. "Nah kalau itu beda. Itu kan terhitung Ibadah juga. Sudah wajib Dek. Kita melakukan setiap hari berarti pahalanya juga dapat tiap hari. Gimana kalau kamu sudah siap nanti kita jadwalnya di ubah jadi tiap hari saja." Riza berucap dengan entengnya membuat Jihan ingin sekali membungkam mulut pria itu. "Aduh mulut manisnya. Bisa bisanya bicara seperti itu. Melahirkan juga Ibadah. Nggak usah ngeles kamu minta jatah tiap hari." Jawab Jihan sambil cemberut. "Mau gimana lagi. Kamunya bikin Mas ketagihan." Riza terkekeh mengingat percintaannya dengan sang istri yang begitu indah. "Nggak usah cium cium. Sampai anak aku bangun tidur di luar kamu." Kesalnya karna pria itu main nyosor saja. "Jangan gitu dong Dek. Mana bisa Mas tidur tanpa kamu." Ucap Memelas sambil menggeser duduknya untuk menempel pada sang istri. "Oh begitu. Boleh di coba." Ucap Jihan membuat napas Riza tercekat. "Di coba. Berarti aku tidur di luar dong.... Astaghfirullah mulut. Kadang suka asal ngomong. Ini sih senjata makan tuan." Batinnya meruntuki diri sendiri.

__ADS_1


__ADS_2