Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Istrinya Ustadz


__ADS_3

Seorang pramusaji tergopoh gopoh menghampiri Jihan yang sedang menghias cakenya. "Mbak Jihan." Panggilnya sembari mengatur napas yang ngos ngosan. "Kenapa?" Tanya Jihan begitu santai sambil meneruskan pekerjaannya. "Suamimu menunggu di depan." Kata Meta sebelum gadis di antara mereka menyampaikan. "Yah....mbak Meta. Harusnya aku yang bilang begitu." Keluhnya. "Halah. Sama saja." Jawab Meta sambil terkekeh. "Buruan sana. Di tunggu suami itu lo." Meta mulai menggoda membuat Jihan kesal. "Diamlah kalian. Jika sampai rusak awas saja." Ucapnya membuat dua orang itu diam dan melanjutkan pekerjaannya masing masing.


Riza tersenyum saat melihat Jihan berjalan ke arahnya. "Ada apa?" Tanya wanita itu sambil duduk di depan suaminya. "Mau jemput kamu. Kita nanti malam kan datang ke pengajian." Ucap Riza. "Kan aku belum bilang Iya. Aku nggak ikut. Kamu saja sama Mark yang datang." Kata Jihan sembari menyandarkan tubuhnya di kursi. "Ayolah Dek. Sesekali. Masa aku sendiri lagi datangnya." Mohon pria itu dengan memelas membuat semua karyawan Jihan yang menguping ingin sekali tertawa. "Heh. Biasanya juga begitu. Dulu waktu kamu bujang kemana mana sendiri juga tidak apa." Jihan mengelak. "Itukan dulu. Sekarang kan sudah punya istri. Ayolah." Hm....Mulai merengek dia. Daripada Jihan malu wanita itu langsung menyetujuinya saja.

__ADS_1


Beberapa menit perjalanan mereka telah sampai diri rumah. Riza langsung mengajak istrinya ke kamar setelah berbincang dengan Mark sebentar. "Astaga. Apa ini?" Tanya Jihan melihat kotak dan paper bag yang memenuhi ranjang. "Itu gamis lengkap dengan jilbabnya buat kamu."Jawab Riza sembari memeluk sang istri. "Kenapa banyak sekali?" Gumamnya merasa heran karena suaminya itu ternyata pria yang doyan belanja. "Kamu akan sering memakainya. Agar tidak bosan aku membelikan banyak. Kamu coba ya." Pria itu mulai menarik tangan istrinya. "Ah..Tidak. Tidak. Aku pakai nanti saja kalau sudah mau berangkat." Tolaknya.


"Dek." Panggil Riza pelan menghampiri istrinya yang sedang minum di dapur. "Hm." Jawab Jihan berdehem. "Mau aku masakin nggak? Aku sudah belajar kemarin." Tawarnya membuat Jihan terpaksa harus mengangguk. "Mulailah. Aku awasi dari sini. Jangan sampai membakar dapur. Karna itu merugikan." Kata Jihan membuat suaminya terkekeh. Pria itu mengecup pipi istrinya dan dengan cepat berlari menuju kulkas. "Dasar. Kebiasaan." Ucap Jihan sembari mengusap pipinya yang sedikit basah. "Lagi apa kak?" Tanya Mark duduk bergabung. "Lagi lihat chef amatiran masak." Jawabnya membuat Mark tertawa. "Itu apinya di kecilkan. Nanti gosong." Jihan menegur suaminya. "Nah. Itu bumbunya kalau menumis di oseng terus jangan senyam senyum mulu." Lanjutnya lagi membuat Mark tergelak menyaksikan kakaknya jika mengomeli suami terlihat sangat lucu.

__ADS_1


Malam hari Riza masih menunggu istrinya yang sedang memilih baju. "Kamu tunggu di bawah saja sama Mark." Kata Jihan. "Baiklah. Aku tunggu di bawah." Ucap Riza mulai melangkah pergi setelah mengecup pipi Sang istri. Jihan tampak memperhatikan gamis yang sudah berjejer rapi. "Pakai ini saja." Putusnya mengambil satu stel lengkap dengan jilbab.


Riza dan Mark di buat terkagum melihat sosok wanita begitu cantik dengan gamis abu abu sedang menuruni tangga. "Kenapa kalian? Kesambet?" Tanya Jihan menyadarkan lamunan keduanya. "Kamu cantik." Kata Riza jujur dan Mark mengangguk setuju. "Di pakai dong Sayang Jilbabnya." Pria itu meraih jilbab yang di pegang sang istri dan memakaikannya. "Cantik." Ucapnya mengelus lembut pipi mulus Jihan. "Sudah. Ayo berangkat sebelum aku berubah pikiran." Kata Jihan membuat dua orang itu kelabakan.

__ADS_1


Jihan hanya duduk dan sesekali menjawab pertanyaan dari orang orang yang duduk di sebelahnya. Andaikan Ia bersama Mark pasti tidak akan bosan. Namun sayang duduknya terpisah. "Ustadz Riza dengar dengar sudah menikah ya?" Tanya pembawa acara dan pria itu mengangguk sembari tersenyum. "Saya sudah menikah dan istri saya juga ikut menemani saya malam ini." Katanya namun Jihan tidak menyadari karena tidak mendengarkan. "Yang mana nih ustadz istrinya?" Tanya pembawa acara lain menggoda. "Yang duduk pakai gamis abu abu itu istri saya. Cantik bukan?" Kata Riza membuat semua mata tertuju pada Jihan. Jihan yang menyadari menjadi pusat perhatian hanya bisa tersenyum ramah sembari menahan malu. "Ya sangat cantik. Ustadz beruntung sekali. Istrinya ustadz. Bisa ngobrol sebentar. Kita pengen tanya tanya nih." Ucap pembawa acara dan para jamaah juga begitu antusias. Terpaksa Jihan mengangguk dan mulai berjalan menuju ke arah panggung. "Suami laknat." Umpatnya dalam hati.


__ADS_2