Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Menantu Cantik dan Baik


__ADS_3

Mereka telah sampai di rumah orang tua Riza setelah menempuh lebih dari 6 jam perjalanan. "Ini rumahnya?" Tanya Jihan ketika mobil berhenti di sebuah rumah satu lantai yang tidak terlalu besar. "Iya. Ini rumah Ayah sama Ibu." Jawab Riza segera mengajak istrinya turun. "Yah tidur dia " kata Jihan melihat sang adik tertidur pulas di jok belakang. "Mark. Bangun dulu. Kita sudah sampai. Kamu kalau mau tidur lanjut di dalam saja. Nggak ada yang kuat angkat kamu." Lanjutnya lagi sembari menepuk pipi remaja itu pelan.


Jihan dan Mark mengamati keadaan di dalam rumah yang begitu rapi dan bersih. "Mau langsung ke kamar?" Tanya Riza dan keduanya kompak menggeleng. "Kita mau disini dulu." Riza mengangguk segera membawa tas dan koper memasuki kamar. "Kaka capek?" Tanya Mark ikut duduk bergabung bersama Jihan. "Enggak. Kamu kali yang capek. Tadi sampai ketiduran. Wajah kamu pucat. Sakit?" Wanita itu khawatir lalu bergegas menempelkan tangannya ke kening sang adik. "Cuman pusing sedikit." Jawabnya. "Sebentar. Kakak ambilkan obat dulu." Mark mengangguk kemudian membaringkan tubuhnya di kursi kayu yang panjang.


Jihan bingung. Ia tak tau kamar suaminya yang mana. "Cari aku Dek? kangen ya." Pria itu tersenyum menghampiri sang istri kemudian memeluknya erat. "kangen apaan. Enggak. Tasnya kamu taro mana. Aku mau ambil obat buat Mark." Ucapnya. Riza tampak menganggukkan kepala kemudian menggandeng tangan istrinya memasuki salah satu ruangan yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.

__ADS_1


"Ini kamar kita." Ucap pria itu sembari mengecup pipi istrinya dengan mesra. "Ih. Kebiasaan. Basah pipi aku." Kesal Jihan buru buru melepaskan pelukan suaminya dan menghampiri koper yang masih tergeletak di lantai. "Ada air putih nggak?" Tanya Jihan sambil kembali berdiri. Riza menggeleng pelan. "Aku belum beli. Tadi di mobil masih ada beberapa botol. Aku ambilkan dulu."


Sore hari ketiganya sedang berkumpul di ruang tamu. "Kita ziarahnya kapan?" Tanya Jihan membuat suaminya tersenyum. "Kamu nggak capek apa?" Riza malah balik bertanya. "Sekarang saja. Sama sekalian beli bahan masakan. Disini ada swalayan kan?" Riza menggeleng. "Jauh Dek. Bisa satu jam perjalanan. Tapi makamnya dekat kok. Kita nanti beli makanan di luar saja. Besok pagi aku bawa kamu ke pasar buat belanja." Jihan tampak berpikir sebentar kemudian mengangguk setuju.


"Mas. Kamar mandinya mana?" Kesal Jihan sedaritadi muter muter di kerjai suaminya. "Kamu nggak usah ngerjain aku ya. Kalau macam macam jangan tidur sama Aku." Lanjutnya lagi sambil bersedekap dada membuat Riza lemah. Bagaimana bisa pria itu tidur tanpa memeluk dan mencium aroma wangi tubuh sang istri. "Iya Dek maaf. Aku kan cuman bercanda. Sini aku antar. Memandikan sekalian aku juga bersedia." Pria itu mulai menggoda langsung mendapat cubitan dari istrinya.

__ADS_1


Riza tak berhenti memandangi wajah Jihan yang begitu cantik dengan setelan gamis berwana peach. "Fokus ke depan Mas. kalau nabrak bukan kamu yang aku khawatirkan tapi mobilnya." Kata Wanita itu membuat Mark dan Riza tergelak. "Kakak. Lebih berharga mobil daripada suami." Mark menggelengkan kepalanya. "Iyalah. Eh...Tadi kamu sudah tanyai Chester bagaimana?" Jihan teringat hewan peliharaannya itu. "Baik. Penjaganya bilang dia baik baik saja." Jawab Mark.


Begitu sampai ketiganya langsung menuju dua makam yang saling berjejer. Mereka duduk berjongkok sembari membaca doa. "Assalamualaikum. Ibu, Ayah. Riza berkunjung dengan Mantu Ayah sama Ibu. Orangnya cantik dan baik. Kalian pasti bahagia jika bisa melihatnya. Maaf Riza belum bisa menjadi anak yang baik. Tapi Doa Riza selalu untuk kalian. Terimakasih untuk semuanya." Ucap pria itu terdengar sendu membuat Jihan terenyuh dan mengusap punggung suaminya dengan lembut.


Riza berjalan menggandeng tangan istrinya. Mereka kini sudah berada di pinggiran jalan untuk membeli makan. "Kamu mau apa Dek?" Tanya Riza. "Katanya mau beli sate." Jawab wanita itu meneruskan jalannya. "Mark. Kamu mau apa?" Tanyanya pada adik ipar yang sibuk memotret. "Apa aja asal bisa di makan." Jawab Mark asal membuat Riza mengangguk paham.

__ADS_1


__ADS_2