Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Mabok Sushi


__ADS_3

"Nggak mau." Kata Jalwa dengan nada kesal menjawab Ayahnya. "Jalwa." Tegur Jihan membuat gadis kecil itu menunduk. "Ibu nggak pernah ajari kamu nggak sopan sama orang tua ya. Minta maaf sama Ayah." Kata Jihan. Jalwa mengangguk. "Minta maaf Ayah." Ucapnya mencium tangan Riza. "Nggak papa. Lain kali jangan diulangi. Dosa kalau bernada tinggi sama orang tua." Tutur pria itu memeluk putrinya. "Maaf Ibu." Ia beralih memeluk Ibunya. "Hm. Jangan begitu. Tidak sopan. Tidak baik juga. Kalau Ibu marahi Ayah itu memang kadang Ayah salah. Tapi Jalwa tidak boleh mencontohnya. Tidak baik. Ingat. Orang tua itu posisinya selalu berada di atas kita. Jalwa paham?" Tuturnya dengan lembut sembari membalas pelukan gadis kecil itu. "Paham Ibu." Jawabnya.


"Pa. Kita mau keluar sebentar ya." Pamit Jihan. "Kakak mau kemana?" Tanya Mark mendudukkan diri dari posisi tidurnya di sofa. "Mau antar anak anak beli kembang api." Jawab Wanita itu. "Cuman sebentar. Sudah dulu ya. Keburu siang nanti panas. Assalamualaikum." Ucapnya mencium tangan Papa. "Waalaikumsalam. Hati hati." Jawab mereka.


Jihan menghampiri suami dan anak anaknya yang sudah menunggu di depan. "Ayo berangkat. Keburu siang nanti." Ajak wanita itu. "Iya. Ayo." Kata Riza menggandeng tangan sang istri untuk segera masuk ke mobil. Kali ini Jihan duduk di depan bersama suami sedangkan anak anak di belakang agar lebih leluasa. "Fokus ke jalan Mas." Tegur wanita itu saat Riza mencuri curi pandang padanya. "Ah. Iya." Jawabnya sambil tersenyum.

__ADS_1


Beberapa menit perjalanan mereka sudah sampai di Mall. Jihan mengajak anak anak langsung membeli karena harus buru-buru pulang untuk masak menu buka puasa. Para asisten rumah tangga kemarin sudah mudik ke kampung halaman masing masing. Jadi semua pekerjaan Jihan yang urus. "Jangan yang itu. Bahaya. Yang biasa saja." Tegur Riza. Keduanya mengngguk kemudian segera memasukkan semua pilihannya ke keranjang.


"Dek." Riza berhenti. "Ada apa?" Tanya Wanita itu ikut berhenti karena tangannya sedaritadi di genggam sang Suami. "Itu apa enak ya?" Tanya Riza menunjuk restoran sushi. "Mau coba?" Jihan tersenyum menatap suaminya. "Mau." Jawabnya. "Ayo kalo gitu. Kita beli." Ucap Jihan menarik tangan suaminya.


Sampai di rumah Jihan langsung menuju dapur. Pakaian semuanya sudah di cuci tadi pagi dia juga sudah bersih bersih dibantu suami dan semuanya. Kini tinggal menyiapkan menu untuk buka puasa. "Mau dimasakin apa?" Tanya Jihan merasakan pelukan hangat dari suami tercinta. "Manut koe ae Dek. Kabeh masakanmu enak. (Ngikut kamu aja dek. Semua masakan kamu enak." Jawabnya sambil tersenyum. "Kamu ngomong apa Mas?" Tanya Jihan kebingungan. "Terserah. Masakan kamu enak semua." Jawabnya. "Ok. Kalau gitu bikin tumis daging, capcay sama kentang balado aja." Jihan menyiapkan bahan membiarkan suaminya yang terus menempel. "Aku bantu." Kata Riza mengambil pisau untuk mengupas kentang. "Jangan tebal tebal kupasnya." Tegur wanita itu. "Iya." Jawab Riza tersenyum. "Mas. Kita kalau tambah dua anak lagi gimana?" Tanya Jihan membuat Riza menelan ludahnya susah payah. Ia tak habis pikir. Yang di perut belum keluar mau tambah dua lagi. Bukan masalah itu Juga. Riza kan tak tega melihat istrinya kesakitan saat melahirkan. Buatnya sih enak. Mengandung dan melahirkan itu yang susah. Meskipun yang menjalani istrinya. Namun Riza juga ikut merasakan. Lagipula bersaing dengan dua bocah itu sudah Astaghfirullah. Ini sudah tambah satu malah mau tambah dua lagi. "Nggak Dek. Tiga sudah cukup." Jawabnya tegas. "Mas." Riza menggeleng menatap istrinya. "Nggak mau lagi." Jawabnya.

__ADS_1


"Kalau tidak doyan nggak usah makan." Kata Jaafar tertawa melihat iparnya lemas karena muntah muntah setelah makan sushi tadi. "Ouh rasanya...." Ucap Riza yang kini sedang menidurkan kepalanya di paha Jihan. "Tadinya mau coba. Eh sekali coba begitu." Kata Papa terkekeh. "Papa saja nggak doyan juga." Pria paruh baya itu menggeleng menanggapi putranya. "Nggak. Makannya mentah begitu Papa nggak toleran. Tapi kan papa nggak mabok." Jawabnya sambil tertawa.


Suara takbir bersautan. Suasana malam ini tidak seperti dulu saat masih tinggal di rumah Riza yang banyak tetangganya. Sekarang di rumah baru lebih sepi karena memang tidak ada tetangga. Riza memeluk istrinya yang sedang menemani anak anak bermain kembang api bersama yang lain. "Kenapa keluar? Nggak Istirahat di dalam saja?" Tanya Jihan. Riza menggeleng. Pria itu kemudian duduk merangkul bahu Sang Istri. Membawa wanita yang di cintainya untuk bersandar di dadanya kemudian mengusap bahu Jihan dengan lembut. "Masih mual nggak?" Tanya Jihan mendongak menatap suaminya. "Tidak sayang." Jawab Riza tersenyum mengecup bibir mungil itu dengan lembut.


Sudah boleh tamat belum Nih?????

__ADS_1


Udah melampaui target episode yang ada di pikiran author lo.... Hehehehe


__ADS_2