Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Pertengkaran


__ADS_3

Meta sedang berkunjung ke rumah Jihan. Wanita itu hanya bersama anak anak karena suaminya masih bekerja. "Kalian libur ya jam segini sudah pulang?" Tanya Jihan. "Nggak kak. Lagi ulangan. Makannya pulang cepat." Jawab Gita. "Silahkan." Ucap Bibi mengantarkan minuman dan kue. "Terimakasih Bi." Ucap Mereka. Bibi mengangguk kemudian segera berpamitan untuk kembali ke dapur. "Kamu kok nggak pernah bawa tape kesini sekarang." Kata Jihan sembari menggendong anak Meta. "Kamu lagi hamil. Mana boleh makan tape." Jawab Meta. "Oh. Nggak boleh ya." Wanita itu mengangguk menanggapi adiknya. "Lihat deh...Badan aku makin melar aja habis melahirkan." Keluh Meta sambil mengambil lalu melahap kue bolu pandan yang ada di meja. "Nanti nge-gym bisa kalau Aska sudah nggak minum ASI." Saran Jihan. "Nggak ah. Terlalu berat. Mana bisa aku." Jawabnya sambil terkekeh.


Riza masih berada di kampus. Pria itu selesai mengisi kelas langsung kembali ke ruangannya. Ia membuka laci meja. Mengamati satu per satu surat yang datang untuk sang Istri yang semakin hari semakin banyak saja. Pria itu memang sengaja menyembunyikannya agar Jihan tidak tau. Sepenuhnya belum di buka. Namun kebanyakan dari orang orang yang menanyakan kabar dan mengirimi puisi. Riza tampak menghela napas. Jujur Ia marah namun sebisa mungkin Ia redam.

__ADS_1


Meta berpamitan pulang setelah cukup lama mengobrol di rumah Jihan. "Biar di antar pak supir. Nggak usah pesan taxi." Ucap wanita itu. "Nggak usah. Kita pesan taxi saja." Tanpa menerima penolakan Jihan langsung menyuruh supirnya untuk menyiapkan mobil dan mengantarkan keluarga Meta. "Makasih ya. Kita pulang dulu." Pamit Meta bersama anak anak. "Jangan terlalu lelah. Makan yang sehat sehat." Lanjutnya memberi pesan sambil melangkah keluar rumah. "Iya." Jawab Jihan mengantarkan mereka. "Makasih coklatnya kak." Ucap Gita dan Lita. "Sama sama. Hati hati ya." Mereka mengangguk kemudian segera menuruni tangga karena mobil sudah menunggu.


Sore hari Riza baru sampai di rumah. Baru selesai menapaki tangga terakhir pria itu di buat murka dengan adanya kotak dan buket bunga yang tentunya di tujukan untuk sang istri. Riza membawanya masuk ke dalam untuk meminta penjelasan Jihan sebenarnya siapa yang mengirimi paket setiap hari.

__ADS_1


"Sudah pulang Mas." Kata Jihan yang baru keluar dari ruang ganti. Wanita itu langsung mencium tangan suaminya sepeti biasa. "Itu dari siapa?" Tanya Riza ketus sambil membanting buket bunga dan kotak di lantai hingga suara benturan terdengar. "Mas kenapa kamu buang sih?" Riza tak menjawab. Ia kesal karena istrinya masih memperdulikan dua benda menyebalkan itu.


"Dari siapa? Selingkuhan kamu? Pacar gelap kamu?" Tanya Riza dengan nada tinggi. "Katakan." Pria itu membentak membuat Jihan tersentak. Tujuh tahun menikah baru kali ini Ia di bentak oleh Riza. "Aku nggak tau. Kamu kok nuduh aku begitu sih Mas. Memangnya kamu ini anggap aku wanita seperti apa?" Tanya Jihan dengan tatapan nanar. "Sebegitu nggak percayanya kamu sama aku. Kenapa? Aku pernah macam macam atau apa?" Tanyanya lagi namun Riza tetap tidak menjawab hingga beberapa saat kemudian panggilan telpon masuk. "Ya Christin." Jawab Jihan sambil mengusap air matanya. "Im Ok." Kata wanita itu sambil tersenyum. "Paket. Paket kotak warna abu abu itu?" Jihan buru buru berlutut kemudian membuka kotak yang di banting suaminya tadi. "Ya." Ucapnya sambil mengakhiri panggilan. "Kenapa? Dari temanmu laki lakimu yang ada di Inggris?" Tanya Riza masih dengan nada kesal. Jihan berdiri sambil membawa keramik yang telah pecah itu. "Kamu tau. Ini adalah keramik peninggalan Nenek aku yang Christina kirim. Beliau yang membuatnya sendiri untukku dan kamu telah menghancurkannya. Kamu bukan hanya menghancurkan peninggalan berharga dari seorang yang telah tiada. Secara langsung kamu juga memfitnah aku berselingkuh. Kamu tau agama Mas. Lebih dari aku. Kamu di luar sana seorang panutan dengan tutur katamu. Semua yang kamu katakan tentang fitnah dan cemburu itu bullshit. Semuanya palsu. Nyatanya kamu melakukan sendiri. Ini sangat menyakiti hatiku." Jihan menatap suaminya dengan mata yang berkaca kaca. "Akh." Wanita itu memegangi dadanya yang terasa nyeri. "Dek. Mas..." Riza memegangi bahu sang istri. "Jangan sentuh aku." Ucapnya kemudian pergi meninggalkan kamar.

__ADS_1


"Ibu." Panggil Si kembar sudah berada di depan pintu kamar. Keduanya mendengar apa yang sedang terjadi karena kedap suara yang ada di kamar sedang tidak di aktifkan. "Sayang." Jihan tersneyum menahan rasa sakitnya. Ia tak mau membuat anak anak bersedih. "Kenapa Ibu nangis? Ibu dimarahi Ayah ya?" Tanya keduanya. Jihan tak bisa menjawab wanita itu mulai memejamkan mata kemudian jatuh tak sadarkan diri.


__ADS_2