
Semuanya sedang sarapan bersama."Dika kalau mau pulang pas hari libur nanti bilang ya. Ayah atau Ibu akan jemput." Ucap Jihan. "Iya Bu." Jawabnya sambil tersenyum. Ia sangat bahagia di terima di tengah tengah keluarga ini meskipun anak anak Jihan sedikit sulit untuk diajak bicara. Terlebih lagi Juma. Si bungsu itu sama sekali tidak pernah menjawab pertanyaannya.
Selesai sarapan Jihan dan semuanya mengantar Dika sampai ke depan. Wanita itu tidak ikut karena suaminya tidak mengizinkan. Kondisi Jihan membuat wanita itu harus banyak banyak istirahat. "Terimakasih Kak." Ucap Dika berpamitan sambil mencium tangan Jaffan dan yang lainnya. "Sama sama. Belajar dengan baik." Jawab mereka mengusap kepala Dika. Ia mengangguk kemudian menghampiri Jihan yang berdiri tak jauh dari tempatnya. "Terimakasih Bu." Ucap Dika sambil menangis memeluk Jihan erat. "Terimakasih untuk semuanya. Dika janji akan belajar dan jadi anak baik." Lanjutnya. "Sama sama nak." Jawab Jihan sambil mengusap punggung Dika dengan lembut. "Jangan peluk Ibuku." Tak tahan lagi Juma langsung memisahkan keduanya. Memang anak panti juga sering memanggil Jihan Ibu dan memeluk wanita itu. Tapi kan tidak perlu lama lama. "Ini Ibuku." Ucapnya posesif. "Iya." Jawab Dika tersenyum. Jihan mengusap air mata remaja itu. "Mas berangkat dulu Dek. Kamu jangan capek capek." Ucap Riza berpamitan kemudian segera pergi setelah mengecup kening sang istri dan mengucapkan salam.
Jihan berbaring di sofa di temani anak anaknya. "Ibu jangan banyak pikiran. Kan jadi sakit begini." Ucap Jalwa sambil memijit lengan Ibunya. "Iya Ma. Mama harus sehat sehat. Banyak banyak istirahat." Timpal Jason. Jihan mengangguk menanggapi anak anaknya yang begitu perhatian. "Ibu mau sesuatu?" Tanya Jaffan di jawab gelengan oleh sang Ibu. "Sudah nyaman Ma?" Tanya Julian yang memijit kaki wanita itu. "Sudah." Jawabnya sambil tersenyum.
__ADS_1
Riza baru pulang langsung menghampiri Istri dan anak anaknya di ruang keluarga. "Tidur dia?" Tanya Riza melihat Juma berbaring memeluk Ibunya. Pria itu memberikan kecupan lembut dan ikut duduk. "Pelan pelan Mas. Bangun nanti." Ucap Jihan lirih menegur suaminya. "Iya." Jawab Riza berbisik mendekatkan wajahnya pada sang istri. "Um...." Juma menggeliat dam membuka mata. "Ibu." Kata pertamanya saat bangun dari tidur. Bocah tampan itu duduk menatap Ayahnya. "Apa?" Tanya Riza mengernyitkan kening. "Tidak." Jawab Juma kembali tidur lagi.
"Mau bikin apa sih Dek?" Tanya Riza karena sedaritadi istrinya sibuk di dapur. "Mau bikin kue." Jawabnya sambil tersenyum. Riza menghela napas. Kondisi sang istri tidak bisa dibilang baik baik saja membuatnya khawatir. Ia sudah berkali kali melarang namun wanita itu tetap bersikeras dan mau tak mau Riza hanya bisa menuruti saja. Ia akan membantu sebisanya. Hanya mengaduk atau mengambilkan bahan bahan yang istrinya butuhkan.
Riza menghampiri istrinya yang duduk berdua dengan Juma di balkon kamar. Wanita itu sesekali tertawa menanggapi putranya yang sedang berceloteh. "Diminum dulu obatnya." Ucapnya ikut duduk bergabung sambil memberikan obat dan minum untuk sang istri. "Ibu harus banyak istirahat." Ucap Juma. "Iya." Jawab Jihan tersenyum.
__ADS_1
Suasana malam tampak ramai dengan keributan yang di buat Juma. Bocah tampan itu menuai banyak protes karena bermain bola di dalam rumah. "Barang Ibu nanti pecah." Tegur Jaffan namun tidak di dengarkan. Semuanya sudah menegur tapi tidak mempan. Jika sudah seperti ini hanya Ibunya yang perlu turun tangan.
"Pyar...." Terdengar suara barang pecah. "Juma." Panggil seorang wanita dengan tegas. Jihan buru buru menghampiri putra bungsunya. Ia begitu miris keramik mahalnya sudah hancur berkeping keping. "Juma. Itu keramik mahal. Ibu sulit membelinya. Baru juga beberapa hari disini sudah kamu pecahkan." Keluh Jihan sambil menghela napas. "Sudah Ibu bilang jangan main bola di dalam rumah. Lagipula ini sudah malam. Kamu dengar kata Ibu nggak sih? Pusing Ibu." Omel Jihan. "Maaf Bu." Ucap Juma sambil menunduk. Jika sudah begini Ia tak bisa berkutik lagi. Kekecewaan dan kesedihan Ibunya adalah hal yang paling menyakitkan bagi bocah tampan itu.
"Ibu. Juma minta maaf." Ucap bocah itu tak berhenti mengetuk pintu kamar Ibunya. Riza menghela napas melihat putranya menangis di depan kamar. Sesekali Juma memang harus di beri pelajaran dan hanya Jihan yang bisa melakukannya. "Kamu tidak tidur?" Tanya Pria itu sembari membuka pintu kamar. Tanpa menjawab Juma langsung menerobos masuk ke dalam. Dengan hati hati Ia naik ke atas ranjang. "Juma sayang Ibu. Juma minta maaf." Lirihnya kemudian mengecup pipi wanita cantik itu lalu ikut tertidur sambil memeluk erat. Riza menggelengkan kepala saat istrinya diam diam tersenyum. Ia baru menyadari Wanita itu ternyata hanya pura pura tidur saja.
__ADS_1