Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Ngambek


__ADS_3

Riza menghela napas. Kata sang istri anaknya akan mirip dia nanti. Namun nyatanya tidak. Jaffan dan Jalwa yang kini sudah satu tahun lebih tetap mirip Ibunya. "Gimana si Dek." Ucap Pria itu sedang duduk mengamati kedua anak dan istrinya yang sedang bermain di halaman belakang rumah. Ketiganya duduk di atas rumput sambil bercerita tidak jelas kesana kemari membahas macam macam hal. Si kembar sangat aktif hingga kadang membuat Jihan kuwalahan. Untung di rumah Riza tidak ada kolam renang jadi aman dan bisa sedikit mengalihkan pandangan dari buah hatinya. "Kenapa?" Tanya Jihan berdiri kemudian ikut duduk di samping suaminya. "Katanya nanti mirip aku. Nyatanya sampai sekarang juga enggak."Pria itu menatap istrinya. "Ya nggak tau. Eh tapi alisnya mirip kamu tuh." Jawab Jihan jujur. "Masa alis saja. Yang lain enggak?" Riza menyenderkan kepala Jihan di dadanya. "Ya kamu kebagiannya segitu. Kalau tidak terima jangan berkeluh kesah ke aku dong." Riza menghela napas. "Nggak mirip nggak papa. Yang penting kan bikinnya berdua." Mulai melantur omongannya. Dasar pak ustadz. "Ibu mau Nennen." Jaffan berlari menghampiri Jihan diikuti saudaranya. "Baru mau ke tahap mesra sudah di ganggu saja. Anak ayah ini memang tidak mau berbagi ya." Keluh Riza sambil memangku Putrinya. "Sudah besar nggak boleh Nennen." lanjutnya menggoda. "Mau Nennen." Tangan Jaffan mulai memainkan kancing baju Ibunya. "Ayo di kamar saja." Jawabnya segera menggendong bocah tampan itu masuk ke dalam.


Riza menelan ludahnya susah payah melihat istrinya sedang menyusui Jalwa sambil tiduran. Jaffan sudah tidur setelah minum ASI tadi sekarang tinggal Jalwa dan nanti bapaknya. Eh.....Kan otak Riza jadi traveling. Jadi kepengen merasakan hak milik si kembar. "Kenapa Mas?" Tanya Jihan entah tidak tau atau meledek. "Enggak papa." Jawab Riza mengusap wajah istrinya dengan lembut. "Bibir kamu kenapa Dek?" Tanya Pria itu benar benar membuat Jihan kesal. Dia yang bikin ulah malah bertanya. "Kamu gigit semalam. Jangan amnesia ya. Dasar suami nakal." Jihan menyingkirkan tangan pria itu dari wajahnya membuat Riza terkekeh pelan. "Kalau mau bales ayo sini. Mas ikhlas Sayang." Jihan menatap suaminya tajam. "Itu maunya kamu." kata Jihan membuat Riza tersenyum.

__ADS_1


Riza melepaskan mulut Jalwa dari asupannya. Bocah itu tampak melongo sambil tertidur pulas. Jihan menutup mulut putrinya dengan hati hati. "Awas tangan kamu. Orang anaknya sudah disini kok tangannya masih nakal aja." Ucap Jihan karena tangan pria itu masih berada di tempat minum anaknya. "Ah iya." Jawab Riza baru tersadar.


Riza mengamati wajah cantik Istrinya sambil menepuk lembut punggung wanita yang tengah tertidur pulas itu. "Kamu nggak tidur mas?" Tanya Jihan sambil mengerjapkan matanya. "Mas ganggu ya sampai kamu kebangun?" Jihan menggeleng pelan. "Mau pipis." Ucapnya kemudian segera turun dari ranjang dengan hati hati.

__ADS_1


Riza memeluk Jihan dari belakang. Wanita itu ikut tidur kembali bersama anak anak. "Dek. Bukan gitu. Mas nggak bermaksud. Mas...." Ucap Riza tertahan karena di potong istrinya. "Diam. Awas saja kalau anak anak aku bangun." Ucapnya sambil melepaskan pelukan Sang suami. Pria itu kalang kabut tapi memilih untuk diam. Daripada anaknya kebangun gegara dia dan istrinya tambah ngabek. Mending diam saja. Iyakan?


Duh....

__ADS_1


Pengen tambah berapa episode lagi ya sebelum END????


__ADS_2