
"Ibu....." Teriak Juma sedaritadi mencari Ibunya namun tidak menemukan. "Kenapa teriak teriak sih Dek." Kata Jalwa yang merasa terganggu. "Ibu dimana?" Tanya Bocah tampan itu sambil cemberut. "Ibu lagi ke rumah sakit lepas gips di kaki. Sebentar kok. Nanti juga cepat pulang." Jawabnya lalu menaiki tangga. "Kenapa Ibu nggak ngajakin sih." Gerutu Juma sambil berlari menaiki tangga mendahului kakaknya.
"Tumben Casper nggak ikut Ibu." Kata Jaffan melihat kedatangan adiknya. "Ibu nggak ajakin Juma." Kesalnya sambil tiduran di sofa. "Bukan Mama yang nggak ajak. Kamunya tadi di cari nggak ada. Kemana saja?" Tanya Julian. "Juma tadi sama Pak Ali ke kandang Lucifer." Jason menghela napas pelan melihat adik bungsunya yang sedang cemberut begitu sangat persis dengan Sang Ibu. Bibir, mata, alis dan semuanya sama persis tidak ada yang meleset. Bahkan sifat juga demikian. Jaffan dan Jalwa juga mirip Ibunya namun alis dan sikap mirip sang Ayah dan Jason bersyukur hanya Juma yang seperti ini. "Kenapa begitu?" Juma memincingkan matanya karena di tatap Jason dengan lekat. "Tidak. Hanya saja kamu sangat mirip dengan Mama." Jawab remaja tampan itu. "Alhamdulillah. Jika mirip Ayah Juma tidak akan setampan ini." Jawabnya membuat mereka membulatkan mata. Secara tidak langsung Juma mengatai Ayahnya tidak tampan bukan? Bocah itu memang keterlaluan.
__ADS_1
"Siapa yang bersyukur tidak mirip dengan Ayah?" Tanya Riza tiba tiba sudah di belakang keempat anaknya. "Juma Yah." Tanpa menunggu saudaranya menunjuk Ia memilih untuk mengatakan sendiri. Inilah Juma yang jujur, ceplas ceplos dan apa adanya. Dia berani bertanggung jawab dengan apa yang telah diucapkan. Sangat mirip dengan Ibunya. "Kenapa begitu?" Riza meminta penjelasan. "Memang benar kan kalau mirip Ayah Juma tidak setampan ini. Kalau mirip Ayah wajah Juma akan lumayan tampan tapi tampannya orang lokal. Wajah Juma yang tampan seperti orang eropa kan menurun dari Ibu. Coba kalau menurun Ayah kulit Juma pasti sawo matang tidak seputih ini. Mata juma juga akan hitam tidak biru seperti ini." Jelasnya panjang lebar. "Oh begitu ya. Ok....Kamu berarti tidak mau mirip dengan Ayah pada intinya. Baiklah, jangan ikut tidur sama Ayah sama Ibu. Mau kamu mimpi buruk, takut petir, takut monster, tidur sendiri." Tegas Riza berlalu pergi. "Ayah...." Juma mengejar Ayahnya yang sudah keluar dari kamar sang kakak.
"Apa sih Mas. Sudah tua main petak umpet kaya gitu." Jihan yang sedang mengobrol dengan putrinya terkejut melihat Riza masuk dan buru buru mengunci pintu kamar. "Nggak papa." Jawabnya tersnyum lalu ikut duduk. "Itu yang ketuk pintu Juma ya?" Tanyanya. "Biarin." Jawab Riza. "Ayah kenapa lagi sama Juma?" Jalwa sudah tau jika seperti ini sudah dipastikan Ayahnya sedang berkonflik dengan Bocah itu. "Masa Juma bilang Alhamdulillah tidak mirip dengan Ayah." Ucap Riza kemudian menceritakan semuanya membuat Jihan dan Jalwa tertawa. "Kamu. Orang anaknya cuman bilang begitu saja kesal. Mungkin Juma sedang bercanda." Kata Jihan sambil mengusap sudut matanya yang berair. "Dimana bercandanya Dek? Dia kasih tau dengan detail begitu kalau untung kulitnya nggak sawo matang, untung matanya biru indah. Kalau mirip Ayahnya nggak akan terlalu ganteng. Parah itu. Body shaming sama Ayahnya sendiri." Kesal Riza meletakkan kepalanya di pangkuan sang istri.
__ADS_1
"Papa." Ucap Riza terkejut mertuanya sudah berdiri di depan pintu dengan Juma. "Kamu apain lagi anak kamu Za?" Tanya Pria paruh baya itu. Riza hanya bisa beristigfar dalam hati karena Juma pasti mengadu pada kakeknya. "Riza cuman bercanda Pa." Jawabnya sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Ada ada aja. Juma nangis daritadi mau ketemu Ibunya malah kamu kunci. Kamu sudah tua juga nggak mau ngalah sama anak." Ucap Papa mengomeli menantunya.
Riza kembali menghampiri istrinya yang sedang tiduran dengan Juma di ranjang. "Heh tukang mengadu." Ucap pria itu menepuk bokong putra bungsunya yang sedang memeluk sang Ibu. "Kalian ini nggak bisa akur ya." Heran Jihan karena Ayah dan anak itu selalu berseteru. "Dia yang cari gara gara. Mana ngadu ke Papa lagi. Kan jadi aku yang di omeli Dek. Dasar tukang ngadu. Jangan tidur sama Ibu." Lagi lagi Ia menepuk bokong Juma. "Ayah saja yang tidak tidur sama Ibu. Juma mau tidur sama Ibu." Jawabnya. "Lihat gigi kamu itu sebentar lagi pasti copot. Besoknya yang sebelah, besoknya lagi yang sebelahnya. Terus begitu sampai habis semua." Riza menakut nakuti. "Apaan sih Mas." Jihan kesal suaminya membuat putranya merengek. "Nah, begitu. Sekarang Ayah yang di marahi Ibu gara gara kamu." Keluh Riza. "Aku nggak marah. Cuman menegur jangan godain anaknya terus dong." Jawab Jihan. Riza menarik badan Juma hingga menjauh lalu dengan cepat memeluk istrinya. "Ayah." Rengek bocah tampan itu karena posisinya di ambil sang Ayah. "Mas ngalah dong." Tegur Jihan namun suaminya malah mempererat pelukan. Juma tidak mendapat celah memilih tidur di atas Ayahnya sambil memeluk Jihan sebisanya.
__ADS_1