Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Love You Too Dear


__ADS_3

Pagi hari. Semuanya sedang sarapan bersama sebelum memulai aktifitas masing masing. "Nanti kalian jadi jenguk anak anak?" Tanya Papa. "Jadi Pa. Habis ashar nanti langsung berangkat. Lagian Mas Riza juga mengisi acara disana." Jawab Jihan sambil menyiapkan makanan untuk mereka. "Papa ikut." Ucap Pria paruh baya itu. "Bukannya Papa ada urusan di perkebunan? Nanti kalau ikut Papa kecapean lo." Papa Jihan menggeleng menanggapi putrinya. "Nggak capek. Lagian disana Papa kan cuma duduk manis jadi mandor saja." Jawabnya sambil terkekeh. "Aku juga ikut kak. Kangen deh." Mark ikut ikutan. Jihan menganggukkan kepala. "Aku mau ke cafe. Lama nggak kesana." Kata Wanita itu membuat Riza yang sedang menyeruput tehnya tersedak. "Pelan pelan Za." Ucap Papa sambil menepuk pelan punggung menantunya. "Kamu baru sembuh Dek. Jangan kemana mana kenapa sih. Di rumah saja." Tutur Riza. "Berhari hari aku di rumah. Bosen tau." Jawabnya sambil cemberut. "Di rumah saja ya. Nanti alergi kamu kambuh lagi." Ia membujuk istrinya sambil mengusap lembut kepala Jihan yang tertutup jilbab.


Riza dengan terpaksa mengantar istrinya ke cafe. Keduanya baru saja sampai. Pria itu kini sedang membantu istrinya untuk turun padahal kan Jihan bisa sendiri. Memang dasar Rizanya aja yang berlebihan. "Nanti jangan ke dapur. Jangan macam macam. Duduk manis saja." Tuturnya sambil menggandeng tangan Jihan. "Mbak Jihan. Ustadz." Sapa mereka yang sedang melayani pelanggan sarapan. "Hey. Nggak kangen apa?" Tanya Jihan sedikit heran karena biasanya mereka langsung peluk. "Kangen dong Mbak. Sengaja nggak peluk. Nanti Alergi mbak Jihan kambuh lagi. Kan baru sembuh." Ucap Mereka. "Nggak papa. Sini." Jihan memeluk mereka bergantian. "Sudah peluk peluknya." Riza menarik tangan istrinya pelan. "Inget kata Mas tadi. Ayo Mas antar ke ruangan kamu." Jihan menggeleng. "Nanti aku kesana sendiri. Kamu ke kampus sana." Riza menghela napas pelan. "Nanti kalo Istriku macam macam telpon saja." Pesannya. "Oke ustadz. Nanti kita langsung lapor ustadz." Jawab mereka kompak membuat Jihan mendengus sebal. "Mas ke kampus dulu. Kamu hati hati. Kalau butuh sesuatu telpon Mas." Ucap Riza dan Jihan mengangguk. Pria itu mencium kening dan pipi istrinya tanpa malu. "Assalamualaikum." Pamitnya. "Waalaikumsalam." Jawab mereka. "Sweet banget ustadz. Makin kesini makin bucin aja." Kata mereka sambil tergelak. "Bucinnya meresahkan." Ucap Jihan kemudian berpamitan menuju ke ruangannya.

__ADS_1


Di sisi lain Si kembar sedang menjalani aktifitasnya di pondok pesantren. Hari ke dua seperti biasa mereka mengaji, belajar dan melaksanakan sholat berjamaah. "Kenapa? Jalwa tidak suka makanannya?" Tanya ustadz pendamping. "Bukan ustadzah. Jalwa kangen Ibu. Biasanya kalau makan Jalwa selalu di suapi Ibu." Jawabnya sambil meletakkan sendok di atas piring karena tak berselera. "Nanti Ibu kesini. Sore nanti Ayah Jalwa kan ada ceramah disini. Ditunggu ya. Sekarang makan dulu." Gadis kecil itu mengangguk kemudian mengambil sendoknya kembali. Ia begitu tak sabar ingin bertemu Ibunya.


Sore hari Jihan, Riza, Papa, Mark dan Jaafar yang ikut sudah sampai di pesantren. Mereka di sambut suka cita oleh semuanya. "Assalamualaikum." Ucap Riza memberi salam sambil menggandeng tangan sang istri. "Waalaikumsalam. Terimakasih atas jamuan makan malamnya untuk acara nanti." Ucap pak kyai karena acara nanti malam semua konsumsi dari cafe Jihan. "Sama sama pak kyai." Jawab Jihan dan Riza sambil tersenyum.

__ADS_1


Selesai acara dan sholat isya mereka makan bersama. Riza membiarkan anak anak menghabiskan waktu bersama Ibunya tidak bergabung dengan santri yang lain. "Sudah sembuh nak alerginya?" Tanya Pak kyai. "Alhamdulillah sudah kyai." Jawab Jihan sambil tersenyum. Wanita itu sedang menyuapi kedua anaknya. "Makannya Jaffan sama Jalwa agak susah ya di rumah?" Tanya ustazah. "Tidak ustadzah. Mereka kalau di rumah makannya gampang kok." Jawab Jihan. "Oh. Kalau di sini makannya susah. Katanya biasa di suapi Ibu." Ucapnya sambil terkekeh. "Baru belajar memang begitu. Nanti juga terbiasa. Itu di suapi Ibunya langsung makan banyak. Sama Ibunya nggak mau pisah. Manja mereka." Kata Riza.


Jaffan dan Jalwa tidak rela berpisah dengan Ibunya. Mereka masih memeluk Jihan dengan erat. "Kalian kembali ke asrama ya.." Wanita itu memeluk dan mencium anak anaknya pergantian. "Sudah malam. Waktunya tidur. Kalian ke asrama. Tinggal tiga hari lagi. Jangan sedih begitu. Nanti kalau pulang paman ajak jala jalan." Jaafar mengusap kepala kedua ponakannya. Mereka mengangguk. "Love you Ibu." Ucap Mereka. "Love you too dear." Balas Jihan sambil menatap anak anak yang mulai berjalan menjauh.

__ADS_1


__ADS_2