
Riza masih duduk sementara istrinya sibuk wara wiri menyiapkan kebutuhannya untuk berangkat nanti siang. Ingin rasanya pria itu menangis. Tapi dia seorang laki laki. Istrinya saja tidak menangis. Riza malu dong kalau Ia tidak lebih strong dari Jihan. Ah...benar benar tidak tahan. Ia bergegas berdiri dan memeluk Istrinya dengan erat. "Jangan nangis Mas. Cengeng banget." Tuh kan. Ia malah diledek cengeng. Mau bagaimana lagi. Air matanya mengalir begitu saja tanpa diminta. "Sudah. Nanti juga ketemu." Ucap Wanita itu mengusap punggung suaminya dengan lembut. "Bersiaplah. Kita berangkat sebentar lagi." Tutur Jihan agar Riza segera bergegas.
__ADS_1
Mereka sudah sampai di bandara pukul 11 siang. Mark memeluk dan mencium kakaknya sebelum berpisah. Terbiasa bersama membuat remaja itu berat hati harus meninggalkan kakaknya sendiri. "Hati hati. Jaga kakak iparmu kalau dia mabuk di perjalanan lagi." Pesannya sambil terkekeh. "Iya kak." Jawab Mark melepaskan pelukan untuk memberikan waktu si bucin berpisah dengan istrinya. Kini Riza sudah memeluk tubuh Jihan dengan erat dan menghirup aroma menenangkan itu dalam dalam untuk bekal di perjalanan. Berat hatinya untuk berpisah namun Ia harus ikhlas. Tak mampu berkata lagi karena menahan tangis pria itu menciumi wajah istrinya kemudian perlahan melangkah pergi. "Hati hati." Ucap Jihan sambil melambaikan tangannya mengantar kepergian mereka.
__ADS_1
Jihan tak langsung pulang. Wanita itu kini sudah berada di cafe karena ada temu janji dengan seseorang. Ia duduk sambil menyesap cappucino yang masih mengepul hangat. "Jihan." Seorang wanita menghampirinya. "Christina." Jihan berdiri dari duduk kemudian memeluk sahabatnya itu. "Wow...lama tidak bertemu. Aku dengar kamu sudah sampai disini tiga hari yang lalu. Kenapa tidak menghubungiku dasar. Hamil begini kau malah menyebalkan." Jihan hanya terkekeh mendengarkan sahabatnya yang sedang mengomel. "Haish.....Aku sedang sibuk mengajak suami dan adikku jalan jalan. Hari ini baru kita bisa bertemu karena mereka sudah pulang duluan." Jelasnya membuat Christina mengangguk. "Kenapa tidak pulang bersama? Kamu akan menetap disini lagi?" Tanya wanita itu sambil menggenggam tangan Jihan dengan tatapan penuh harap. "Tidak. Hanya saja aku sedang ada urusan. Ada beberapa hal yang harus aku selesaikan. Jadi aku suruh mereka pulang duluan. Chris....Aku butuh bantuanmu...." Ucap Jihan membuat sahabatnya menatap dengan heran.
__ADS_1
Sepulang dari Cafe Jihan beristirahat sebentar kemudian berjalan jalan di halaman belakang mansion yang luas untuk menikmati sore. Wanita itu tampak menghembuskan napasnya beberapa kali sambil mengusap kedua bahunya yang terbungkus kardigan sepanjang mata kaki. Tangan kanannya di masukkan ke saku meraih benda pipih yang berdering sejak tadi. "Papa sayang. Kangen ya?" Tanya Jihan sambil tersenyum menatap papanya. Mereka sedang melakukan panggilan video. Pria paruh baya itu tampak muram tak Seperi biasanya. "Tentu saja. Dasar anak nakal. Pulang kamu. Papa rindu." Jawabnya. "Sabar Pa. Dua hari lagi nanti Jihan pulang kok. Papa mau dibawakan apa?" Papa Jihan menggeleng menanggapi Putrinya. "Cukup kamu pulang Papa sudah senang. Jangan bawa apa apa. Kamu sedang hamil." Tuturnya. "Papa belum tidur. Ini sudah jam 9 malam lo. Sudah tua jangan tidur terlalu larut." Ucapnya membuat Papanya mendengus sebal. Mereka melanjutkan mengobrol untuk melepas rindu. Jihan duduk santai di ayunan sambil terus bercerita pada Papanya.
__ADS_1