Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Hantu Kecil


__ADS_3

Sekedar inpo


Ada perubahan di umur Juma ya. Yang depan sudah di revisi. Masih kecil imut imut. Masih sekolah dasar dia. Karna kalau di buat remaja nggak relate sama sikapnya.


Jihan bersama putra bungsunya mengunjungi apartemen. Wanita itu hendak mengambil sesuatu yang tertinggal. "Sayang. Bangun yuk. Kita pulang." Ajaknya sambil menepuk pipi Juma yang sedang tiduran di sofa. "Badannya panas. Tadi baik baik saja." Lirihnya.

__ADS_1


"Assalamualaikum." Ucap Jihan memasuki rumah. "Waalaikumsalam. Kenapa Juma?" Tanya Riza melihat putra bungsunya itu di gendong sang istri dengan plester demam di kening. "Badannya panas." Jawab Jihan. "Sini sama Ayah. Ibu capek gendong kamu." Kata Riza namun langsung di tolak. "Dah biarin. Tolong ambilin minum ya Mas. Aku ke kamar Juma temani dia tidur." Riza mengangguk segera pergi ke dapur.


Semuanya berkumpul di kamar Juma. Bocah itu sedang tidur pulas sembari memeluk ibunya. "Sudah turun panasnya." Kata Jason mengecek suhu tubuh Si bungsu. "Kalau tidur begini diam, tampan, tidak banyak bertingkah. Kalau sudah bangun hantu nya keluar." Kata Jaffan sambil terkikik. "Hush. Adik sendiri di bilang hantu." Tegur Jihan. "Bukan hantu Bu. Lebih tepatnya pengacau kecil." Jawanya. "Pagi tadi baik baik saja Dek. Kenapa tiba tiba panas?" Tanya Riza yang sedang berbaring di samping istrinya. "Makan eskrim satu Cup besar di habiskan. Gara gara itu paling." Jawab Jihan.


Hanya tinggal Riza dan Jihan yang menemani Juma. Yang lain sudah keluar sedaritadi. Pria itu mengusap pipi istrinya dengan lembut. "Kenapa Mas?" Tanya Jihan. "Nggak. Mau sentuh atas bawah juga di tutupin Juma. Jadi sentuh pipi saja." Jawab Riza sambil tersenyum. "Bisa bisanya." Kata Jihan sambil berdecak. "Coba sedikit saja." Riza mulai menyentuh betis putih mulus istrinya. "Awas saja kalau anak kamu bangun. Mau tanggung jawab?" Riza menggeleng. Menenangkan Juma ketika tidak enak badan dan merengek bukan perkara mudah. Sulitnya melebihi ujian masuk SMA. Daripada Ia membuat Jihan kerepotan mending di tahan dulu.

__ADS_1


Bibi menghampiri majikannya yang sedang berkumpul. "Bibi kapan pulang?" Tanya Jihan terkejut. "Baru saja Mbak. Habis taruh tas di kamar. Oh iya. Anak saya bilang terimakasih banyak dan titip salam juga." Ucap Wanita itu. "Waalaikumsalam. Sama sama Bi." Jawab Jihan sambil tersenyum. "Ini saya bawa oleh oleh dari jawa. Silahkan di coba." Kata Bibi mengeluarkan macam macam makanan dari kardus. "Banyak banget Bi." Jihan menggelengkan kepalanya. "Nggak papa. Biar bisa cobain makanan daerah Bibi. Enak semua kok." Jawab wanita itu. "Makasih ya Bi." Ucap Jihan dan yang lainnya. "Sama sama. Itu Den Juma kenapa?" Tanya Bibi. "Rewel. Badannya panas." Jawab Jason. "Oh. Cepat sembuh ya." Jihan mengangguk lalu berterimakasih.


"Manis banget. Ini apa Mas?" Tanyanya saat di suapi makanan oleh Riza. "Jenang. Biasa ada di acara orang hajatan." Jawab pria itu. "Cobain ini deh Ma. Rasanya enak." Julian menyuapi wanita itu. "Namanya itu kue semprit." Lanjutnya sambil membaca kemasan. "Casper nggak mau?" Tawar Jaffan. "Sayang. Panggil adiknya masa begitu." Tegur Jihan. "Hehe..Maaf Bu. Juma nggak mau makan?" Tanyanya lagi namun bocah itu menggeleng. "Sini duduk sama Ayah. Kasian Ibu daritadi capek pangku kamu." Kata Riza. "Nggak mau." Tolaknya cepat.


Jihan meletakkan putranya di sofa dengan hati hati. "Jangan sampai bangun. Ibu mau masak dulu." Bisiknya di jawab anggukan. "Jalwa bantu Bu." Kata gadis itu bergegas menyusul sang Ibu yang sudah berjalan beberapa langkah. "Ayah jagain Juma ya. Kita juga mau bantu." Jaffan dan yang lain ikutan pergi. "Kamu nggak pergi juga Za?" Tanya Papa. "Memang boleh Pa?" Riza malah balik bertanya. "Pergilah. Biar Papa jagain." Jawab Pria paruh baya itu sambil tersenyum.

__ADS_1


"Pada kesini semua. Yang jagain Juma siapa?" Tanya Jihan. "Ada Papa Dek." Jawab Riza mulai membantu memotong sayuran. "Bukan begitu Mas. Kalau kamu potongnya sebesar itu mateng nya bisa besok." Tegur Jihan. "Lebih kecil begini." Ucapnya memberi arahan. "Kita mau masak apa Ma?" Tanya Julian. "Sup daging, sama ayam tongseng." Jawab Jihan. "Nggak ada sambal terasi Ma?" Wanita itu tersenyum. "Kamu mau?" Julian mengangguk semangat. "Mama bikinkan." Ucap Jihan. "Makasih Ma." Julian mengecup sayang pipi wanita itu.


Semuanya makan bersama di ruang keluarga bukan di ruang makan seperti biasanya. Jihan makan sambil menyuapi Juma yang sudah bangun sedaritadi. "Sudah mau puasa. Kamu nggak pulang ke Jogja ziarah ke makam bapak Ibu mas?" Tanya Jihan. "Mau sih Dek. Tapi Papa masa di tinggal sendiri." Jawabnya. "Apa apaan kalian. Kalau mau pergi pergi saja. Papa di rumah nggak masalah." Kata Pria paruh baya itu. "Lagian juga banyak orang di rumah. Kalian jangan khawatir." Lanjutnya meyakinkan. Semakin Ia menua anak, menantu dan cucu cucunya tidak pernah pergi liburan kecuali yang dekat sepeti di puncak karena merasa khawatir. "Tapi Pa." Jihan menggenggam tangan Papanya. "Kalian pergi saja. Papa masih sehat begini jangan kamu khawatirkan." Ia mencoba meyakinkan.


__ADS_2