
Jihan sangat bosan. Semuanya telah pergi mengawali kegiatan masing masing dan kini tinggal dia yang berada di rumah sendirian. Ia tak bisa kemana mana karena dilarang keras. Semua kini mengatur hidupnya. Papa dengan tega menyita semua kunci mobil agar Ia tak bisa keluar. Jangankan keluar. Untuk sekedar masak saja tidak boleh. Setiap hari ada pihak restoran yang akan mengirim makan. "Ouh astaga ini seperti di penjara." Keluh wanita itu segera bangkit dari duduk kemudian berjalan ke halaman belakang.
Jihan mendumel sembari menyirami tanamannya. "Jangan mendumel begitu. Sayuramnu mati nanti." Ucap Papa berjalan menghampiri putrinya. "Pa. Kembalikan kunci mobil aku dong. Aku kaya anak ABG yang ga boleh keluar sama bapaknya deh. Papa nggak adil." Ucapnya sambil cemberut. "Demi kebaikan kamu sayang." Jawabnya mengajak Jihan untuk duduk. "Pa. Sudah seminggu lamanya aku nggak keluar. Bosen tau. Pasti mobilku minta dipanasi. Diajak jalan jalan." Wanita itu mulai merengek. "Biar papa yang panasi." Jihan mulai duduk di bawah memeluk kaki pria paruh baya itu. "Eh sayang...Jangan begini." Ucapnya membantu Jihan berdiri namun tak berhasil. "Ayo dong Pa... Papa kok tega banget...."
Sosok wanita tak berhenti tersenyum. Ia keluar dari mobil mewahnya berjalan di salah satu sekolah yang tampak anak anak sedang berhamburan keluar. "Ibu." Teriak Jaffan dan Jalwa langsung memeluk Jihan. "Ibu jemput kita? Bukannya tidak boleh ya?" Tanya keduanya. "Boleh sayang. Ayo makan. Kalian pasti lapar. Di cafe Ibu ada eskrim enak." Ucapnya mengecup pipi kedua bocah itu lalu menggandeng tangannya untuk masuk ke mobil.
"Mbak Jihan." Pekik mereka terkejut melihat wanita yang baru saja melepas kacamata hitamnya. "Jangan melongo gitu. Kemasukan laler bahaya." Ucap Jihan. "Mbak Jihan. Mbak kan nggak boleh naik Mobil. Nanti semuanya pada ngomel lo." Karyawan bernama Rani itu memperingati. "Sudah ah. Anak anak aku yang lucu pengen makan kalian malah membegal dengan pertanyaan panjang lebar. Siapin ya. Aku tunggu dekat jendela." Mereka hanya menganggu pasrah segera menyiapkan pesanan Bosnya. "Terserah si Bos deh. Nanti kalau ustadz dan yang lain ngomel kita tinggal nonton." Gerutunya sambil kembali ke dapur.
__ADS_1
Selesai membantu anaknya mandi dan berganti pakaian Jihan mengajak mereka duduk. "Silahkan." Ucap Rani menyajikan makanan di bantu beberapa karyawan lainnya. "Terimakasih." Ucap Ketiganya sambil tersenyum. "Sama sama." Jawab mereka kompak. "Dek." Suara itu membuat Jihan menghela napas. "Eh pak ustadz." Bukan karyawan yang berucap. Tapi kata itu keluar dari mulut Jihan membuat Riza ingin sekali mengecup bibir nakal istrinya itu. "Kenapa kamu kesini? Mas kan bilang si rumah saja. Mana nyetir sendiri. Dapat darimana kunci mobilnya?" Tanya Riza memberondong. "Dari Papa dong Mas. Kalau kamu mau protes. Protes saja ke papa. Berani?" Tanya Jihan membuat pria itu diam. Mereka hanya menahan tawa mendengar perdebatan sepasang suami istri itu kemudian berpamitan membiarkan Si Bos menghabiskan waktu dengan keluarga kecilnya.
Riza mengecup kening dan pipi istrinya kemudian duduk bergabung. "Mari makan." Ucap Jihan menyiapkan makan untuk suaminya. Ia kemudian makan sambil menyuapi anak anak. "Mau acarnya Ibu." Kata Jalwa menunjuk mangkok kecil di atas meja. "Ini asem pedes lo. Jalwa doyan?" Tanya Riza memastikan. Gadis kecil itu mengangguk mantap kemudian Jihan segera menyuapinya.
Sampai di rumah Riza langsung menyusul istrinya yang sudah duluan masuk ke kamar. Pria itu memeluk Jihan yang sedang berdiri di balon menikmati angin yang bertiup begitu sejuk. Riza mencium pipi sang istri kemudian menenggelamkan wajahnya ke ceruk leher wanita itu. "Mas. Aku kalau kamu nggak bolehin masak, berkebun dan lain lain jangan tidur sama aku. Tidur di kamar sebelah." Ucap Jihan tiba tiba membuat Riza mematung. "Dek...Semuanya demi kebaikan kamu." Jawab Riza dengan lembut. Jihan membalikkan badannya kemudian memeluk sang suami. "Aku baik baik saja Mas. Mengekangku sama saja membuat aku tertekan dan tidak nyaman. Aku tau maksud kalian baik. Tapi bukankah obat paling mujarab itu bahagia. Jadi jangan seperti ini." Lirih Jihan dalam dekapan suaminya. "Baiklah. Tapi jangan terlalu lelah." Ucap Riza pada akhirnya pria itu luluh. Ia khawatir pada kesehatan Jihan dan juga nasibnya jika benar harus tidur terpisah. Lebih baik Ia menuruti keinginan sang istri dan mengawasinya. "Mas cinta kamu Dek." Ucap Riza. "Aku juga Cinta sama Mas. Terimakasih sudah jadi orang yang sabar untuk menanti aku." Balas Jihan. "Karna cinta Mas adalah sumber dari kesabaran. Kini semuanya berbuah manis. Terimakasih sudah hadir melengkapi hidup Mas dan membuat Mas selalu bahagia." Riza menangkup wajah sang putri dan mencium bibir manis itu dengan sangat lembut.
"Tamat"
__ADS_1
Sudah seratus lebih lo ini?
Sudah rela pisah sama babang ustadz dan Jihan kan ya?
Author mau bikin novel baru nih....
Mau yang gimana?
__ADS_1
Komedi romantis, romantis action atau misteri romantis atau mau yang cerita seperti ini?
Yuk komentar....