
Sabtu pagi yang cerah Jihan bermain tenis bersama anak anak di lapangan belakang. "Sudah naik mataharinya Ma. Istirahat yuk." Bujuk Jason namun Mama nya tetap tidak mau. "Ibu ada telpon." Jalwa berlari menghampiri Ibunya. Pada akhirnya wanita itu berhenti untuk menerima telpon dari seseorang. "Ya." Ucap Jihan saat menerima panggilan. "Kapan?" Tanya Wanita itu. "Aku kesana beberapa menit lagi." Jawabnya. "Ada apa Bu?" Tanya Jaffan. "Tidak. Ibu ingin bertemu dengan Om Satria. Nanti tolong bilangin kalau ada yang tanya." Jihan bergegas pergi untuk segera bersiap.
Juma mengejar Ibunya sampai di depan rumah. "Ibu. Juma ikut." Ucap Bocah tampan itu. "Juma. Ini keadaan darurat. Kamu di rumah dulu sama kakak. Ibu akan cepat pulang." Jawab Jihan mengecup kening putra bungsunya. "Ok." Jawabnya hanya bisa menurut kemudian masuk setelah mobil ibunya mulai melaju dan menghilang di balik gerbang.
__ADS_1
Jihan sampai di rumah Satria langsung masuk ke dalam. "Ji. Bikin kaget." Ucap Mia yang sedang menata bunga di Vas melihat bos suaminya itu yang tiba tiba masuk. "Suamimu mana?" Tanya wanita itu tergesa gesa. "Disini." Ucap Satria datang sambil membawa laptopnya.
Satria duduk dengan Jihan dan juga istrinya. Pria itu menunjukkan semua berita yang telah di diunggah oleh satu media. "Lihat foto suami kamu waktu di cafe sama Adella sudah di up di media bisnis." Ucapnya memberi laporan. "Hubungi kantornya suruh hapus beritanya. Aku akan bayar " Perintah Jihan langsung di laksanakan. Satria segera menghubungi pihak media untuk menghapus berita yang beberapa menit lalu sudah beredar. "Sabar ya. Diminum dulu." Mia menepuk punggung Jihan untuk menenangkan.
__ADS_1
Jihan baru sampai di rumah setelah semua urusannya selesai. Wanita itu langsung menuju kamar untuk mandi. Menyegarkan tubuh dan pikirannya yang sedang semrawut. Ia berendam dengan nyaman di dalam bathup yang sudah terisi air dan sabun dengan aroma mawar kesukaannya.
Malam hari Jihan baru keluar dari kamar anak bungsunya setelah memastikan Juma benar benar sudah tidur. Wanita itu melangkahkan kaki menuju kamarnya karena ini sudah malam dan dia sendiri juga sudah lumayan mengantuk.
__ADS_1
Riza mendongak menatap ke arah pintu. Pria itu meletakkan buku yang sedaritadi Ia baca. "Dek. Kita perlu bicara." Ucap Riza saat istrinya mulai naik ke atas ranjang. "Kita perlu menyelesaikan masalah ini. Mas tau Mas salah. Mas nggak izin kamu kalau mau ketemu dia. Mas minta maaf." Ucap Riza dalam satu tarikan napas. "Mas juga minta maaf sudah bikin kamu sakit hati karna Mas bilang kamu nggak dewasa dan hal hal yang Mas pernah ucapkan ke kamu yang lalu lalu. Mas menyesal. Mas minta maaf." Lanjutnya kini sudah dengan air mata.
Jihan menarik napasnya dalam dalam kemudian menghembuskannya perlahan. "Kamu tau nggak aku mutusin buat undur diri gara gara apa? gara gara aku pengen waktu aku full sama keluarga. Aku bela belain tinggalin semua karir demi kamu, demi anak anak juga. Aku nggak mau kamu merasa kurang waktu. Aku juga nurut Mas apa kata kamu. Kamu bilang aku nggak boleh keluar, nggak boleh ini itu aku turuti. Aku nggak mau jadi istri durhaka. Usaha sama perjuangan aku buat nyenengin kamu, buat dapat ridho dari kamu rasanya nggak ada harganya. Kamu tuh egois. Limpahkan semua salah ke aku. Kamu jelas jelas ketemu mantan kamu dan aku nggak boleh cemburu sementara kamu sesuka hati cemburu sama laki yang seringkali nggak aku kenal. Kamu parah Mas." Riza menggeleng pelan menanggapi apa yang diucapkan istrinya. "Terus mau kamu gimana sih? Kamu mau nyiksa aku dalam hubungan yang begini terus? Mau sampai kapan? Mau sampai kapan kamu minta maaf dan mengulanginya lagi ha? Apa jangan jangan kamu selalu marah marah ke aku akhir akhir ini juga gegara ada dia?" Jihan benar benar tak habis pikir. Riza memeluk istrinya erat. "Jangan sentuh aku." Ucap Jihan melepaskan diri dari suaminya. "Jangan begini." Riza masih menangis sembari menatap sang istri yang berlalu pergi.
__ADS_1