Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Uring Uringan


__ADS_3

Mark menghela napas memperhatikan Riza sedaritadi mondar mandir tak mau berhenti. "Kakak kenapa sih?" Riza tak menjawab malah duduk di samping iparnya. "Dihubungi nggak di angkat." Gerutunya sambil mencoba lagi. "Ini jam 6 kak. Disana jam 12 malam. Ya nggak di angkat dong. Bumil paling juga lagi tidur." Ucap Mark membuat Riza merasa bodoh. Saking kangennya Ia tidak sempat melihat waktu. Jika Jihan tau pasti akan diejek habis habisan karena kekonyolan nya ini. "Sudah.Tunggu saja nanti." Ucap Mark lalu pergi meninggalkan iparnya sendiri.


Daripada terus galau seperti ABG yang pacaran karena merindu Riza memilih untuk pergi ke tokonya saja. Pria itu memanaskan mobil sebentar kemudian pergi melaju pelan meninggalkan halaman. Sementara Mark. Dia memilih untuk bermalas malasan di rumah sembari menunggu waktu yang tepat untuk menghubungi sang kakak.

__ADS_1


Pukul 6 di London.


Jihan baru sarapan setelah jalan jalan sebentar di taman belakang. Ia meraih ponselnya kemudian segera mengangkat panggilan Video dari sang adik. "Kakak." Mark terlihat menegapkan duduk sambil tersenyum girang. "Hm. Ada apa?" Tanya Jihan cuek seperti biasanya. "Masa sama adik sendiri begitu. Dasar macan betina. Nggak ada manis manisnya." Gerutunya masih bisa di dengar oleh sang kakak. "Kamu bilang apa? Awas saja kalau kakak pulang. Kakak tarik telinga kamu sampai putus." Ucapnya penuh penekanan. "Hehehe maap. Abisnya kakak begitu. Aku kan kangen." Jihan menghela napas melihat tingkah adiknya. "Kakak tidak tanya Kak Riza dimana?" Tanya Mark heran. "Tidak. Paling juga pergi. Malam tadi dia telpon dan kirim pesan banyak banget. Kakak kan sedang tidur." Jawab Jihan sambil menyuapkan potongan pancake ke mulutnya. "Kakak ini seperti cenayang. Kakak tidak telpon balik?" Jihan menggeleng. "Jadi istri tidak ada inisiatif nya sama sekali. Kakak tidak kasihan apa dari kemarin dia gusar seperti anak puber sedang jatuh cinta." Mark terkekeh mengingat Iparnya yang uring uringan.

__ADS_1


Seorang wanita menuruni tangga menghampiri dua orang tamu yang sudah menunggunya. "Jihan." Christin berdiri memeluk sahabatnya kemudian memperkenalkan Jihan dengan seseorang. "Alan. Jangan terbengong. Dia memang cantik. Tapi sudah bersuami." Celetuk Christina mengingatkan temannya. "Ah iya." Pria itu melepaskan tangannya yang sedang berjabatan dengan Jihan. "Silahkan duduk." Ucap wanita hamil itu sambil tersenyum lalu menyuruh pelayan untuk membawakan minum dan makanan ringan.


"Jadi Alan ini adalah teman yang aku ceritakan kemarin. Dia ahli grafologi forensik yang akan mengidentifikasi surat itu." Ucap Christin sembari menaruh cangkirnya di atas meja. Jihan mengangguk kemudian menatap pria yang berada di depannya. "Aku sudah menerima surat itu dari Christin. Orang awam akan melihat tulisan itu sama persis dengan tulisan Nenekmu. Namun menurutku berbeda. Untuk lebih lanjut akan dilakukan analisa dengan detail." Jelasnya. "Berapa lama waktu yang dibutuhkan?" Tanya Jihan membuat pria itu menggeleng pelan. "Satu Minggu kemungkinan. Aku memerlukan waktu satu minggu untuk menyelesaikannya." Jawab Alan. "Aku besok sudah pulang." gumam wanita itu pelan sembari menyenderkan punggungnya di sofa. "Dimana otak cerdasmu? Nanti kan bisa di kirim." Ucap Christin sambil mendengus. "Ah. Iya juga." Jihan mengangguk membenarkan yang diucapkan sahabatnya.

__ADS_1


Hanya tersisa Jihan dan Christina karena Alan sudah berpamitan terlebih dahulu. "Apa yang akan kami lakukan jika hasilnya seperti dugaan mu?" Tanya wanita itu sembari menggenggam tangan sahabatnya. "Entah." Jawab Jihan singkat. Ia bingung dengan langkah apa yang akan Ia ambil selanjutnya. "Apapun yang akan kamu lakukan. Pikirkan matang matang." Ucapnya mendapat anggukan. "Meskipun aku selalu sepontan. Tapi untuk masalah seperti ini aku tidak akan bertindak cepat." Jawabnya sambil menghela napas.


__ADS_2