
Riza sudah berada di ruko dengan istri, putri dan juga putra bungsunya. Pria itu sedang mengecek barang yang baru datang di gudang membiarkan Jihan dan anak anak menunggu di ruangannya. "Ustadz. Mbak Jihan sudah sembuh?" Tanya Salah satu karyawannya. "Alhamdulillah sudah baikan. Tadi juga habis pulang dari cek up dan ambil obat di rumah sakit." Jawabnya. "Kalau boleh kasih saran nih ustadz. Jangan biarkan Mbak Jihan banyak pikiran. Takutnya kan sakitnya jadi kambuh." Ucapnya memberi saran. "Maunya sih begitu. Tapi kejadian selalu ada ada saja." Jawab Riza sambil menghela napas.
Jihan duduk dengan kedua anaknya di karpet. Wanita itu sedang menunjukkan foto foto keluarga dan anak anak saat mereka masih kecil. "Juma imut ya Bu." Ucapnya ketika melihat foto masa kecilnya di gendong sang Ibu. "Imut dulu. Sekarang nakalnya astagfirullah jadi nggak imut lagi." Jawab Jalwa kemudian tertawa melihat wajah kesal adiknya. "Ibu dari remaja sampai sekarang nggak berubah." Lanjutnya membuka foto ibunya di saat belum menikah dan membandingkannya dengan sekarang yang masih sama sama terlihat sangat muda. "Ya ada perubahannya pasti." Jawab Jihan sambil membuka lembaran yang lain.
__ADS_1
"Mau kemana?" Tanya Riza melihat anak anak dan istrinya keluar. "Mau ke toko buah samping. Beli kerupuk rujak sama nanas." Jawab Jihan. "Ayo." Riza dengan sengaja melepas tangan Putra putrinya dari sang Ibu lalu mengandeng tangan wanita itu untuk bergegas pergi. "Sama anak sendiri begitu." Kata Jihan mendengar protes dari kedua anaknya.
Jihan sedang memilih melon karna Jalwa yang menginginkan. "Yang ini harum Dek." Kata Riza sambil mendekatkan melon yang di pegangnya ke hidung sang Istri. "Yang ini besar Yah." Kata Jalwa dengan pilihannya. "Ambil sekalian." Jawab Jihan tak memilih memutuskan untuk mengambil pilihan keduanya. "Ibu. Juma mau semangka." Bocah tampan itu menarik tangan Ibunya menuju tempat semangka. "Pilih yang mana?" Tanya Jihan memberikan kebebasan. "Yang ini. Paling besar." Jawab Juma sambil tersenyum menunjuk semangka hijau tua paling besar di depannya.
__ADS_1
Riza membawa belanjaan istrinya masuk ke dalam rumah. "Ibu mana Yah?" Tanya Jaffan masih dengan rambut yang acak acakan menandakan remaja itu baru bangun tidur. "Masih di luar. Cuci muka sana. Bau bantal." Jawabnya. "Oh. Iya nanti. Jaffan bantu." Ucapnya mengambil alih dua kantung kresek yang di bawa Ayahnya. "Berat. Apa isinya?" Tanya Jaffan. "Semangka, melon sama buah lainnya. Ayo bawa ke dapur." Ajak Pria itu berjalan duluan.
"Ibu. Buka puasa nanti pakai es buah ya." Juma mengekori Ibunya yang hendak pergi ke dapur. "Iya. Kakak kakak kamu lagi ngaji sama Ayah kok kamu nggak gabung juga." Jawab Jihan sambil masih berjalan. "Malas ah Ibu. Ayah kalo ngajar ngaji lama. Belum lagi masih ngantri habis kakak. Juma kan pasti dapat giliran terakhir." Ia mengungkapkan semua alasannya membuat Jihan pada akhirnya berhenti. Wanita itu tiba tiba berjongkok di depan putranya. "Juma katanya mau ngaji full puasa ini. Nggak malas kaya tahun kemarin. Nanti Ibu kasih hadiah spesial buat Juma." Jihan mengusap pipi putranya. Dengan rayuan lembut darinya bocah itu mengangguk semangat. "Ayo antar." Ucapnya sambil tersenyum.
__ADS_1
Jihan memasuki musholla di rumahnya. "Nah casper balik lagi. Kabur kemana kamu?" Tanya Jaffan melihat kedatangan adiknya. Tidak menanggapi Juma duduk di antara Jason dan Julian yang sedang mengaji di ajari Ayahnya. "Makasih Dek udah di bawa balik anaknya. Nanti kalau dia kabur aku lapor kamu lagi." Ucap Riza. Jihan hanya mengangguk kemudian berpamitan pergi.
"Ibu. Hadiah Juma mana?" Tanyanya saat sedang buka puasa bersama. "Ini." Kata Jihan menyajikan black forest di depan semuanya. "Ini bukan hadiah Bu. Kalau memang hadiah Juma saja yang dapat." Ucap bocah itu tidak terima. "Coba di potong dulu. Ada yang membedakan dengan yang lainnya." Juma mengangguk kemudian segera memotong cake nya seperti yang di katakan sang Ibu. Saus strawbery meleleh membuatnya tersenyum. "Yang lain tidak seperti ini?" Tanyanya di jawab gelengan oleh semua orang. "Terimakasih Ibu." Ucap Juma memeluk dan mencium Ibunya. "Kamu itu ngaji saja minta hadiah." Riza menghela napas melihat kelakuan putranya. "Juma kan masih anak anak Yah." Jawabnya tak terbantahkan.
__ADS_1