Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Menurut Saja


__ADS_3

Malam hari keluarga kecil Jihan sampai di rumah. Wanita itu langsung istirahat setelah menidurkan anak anak. Riza tersenyum memasuki kamar melihat istrinya sudah tertidur pulas bahkan belum sempat bersih bersih dan berganti pakaian. Maklum Jihan sangat lelah karena mengurusi bukan hanya anak anak namun adik dan suaminya juga. Pria itu mengecup kening sang istri sekilas kemudian bergegas ke kamar mandi untuk bersih bersi dan ganti baju.


Riza kembali lagi ke kamar. Pria itu dengan hati hati melepas jilbab istrinya lalu membersihkan wajah Jihan dengan micellar water. Ia mengusapkan kapas dengan sangat lembut agar Jihan tidak terbangun. Selesai dengan urusan wajah Riza membersihkan kaki dan tangan istrinya dengan handuk basah. Senyuman terbit di bibirnya melihat Jihan tak terusik sedikitpun lalu Ia bergegas mengganti pakaian wanita itu dengan piyama yang di bawanya. Lagi lagi Jihan masih tidur dengan tenang bahkan tak menggeliat. "Kalau tenang begini seperti Bayi." Ucap Riza sambil terkekeh pelan mengingat istrinya hanya bisa tenang ketika tidur saja.


Pagi hari.

__ADS_1


Riza sedang menyuapi Istrinya. Wanita itu makan sambil sibuk mengemas oleh oleh yang akan di bagikan. "Makan dulu di selesaikan Dek. Itu di lanjut nanti saja." Ucap Riza menegur. "Tanggung. Dikit lagi selesai." Ucapnya agak tidak jelas karena sambil mengunyah. "Kak. Jaffan minta susu nih." Ucap Mark yang sedang bercengkrama dengan kedua ponakannya. "Jangan ngada ngada kamu. Kalau beneran minta pasti minta sendiri ke kakak. Orang anaknya diam begitu." Mark hanya tertawa menanggapi kakaknya. Ia sengaja ingin menggoda Jihan. Jika wanita itu sibuk terus di ganggu pasti akan kesal. Nah itulah yang menjadi hiburan tersendiri baginya.


"Mau kemana Dek?" tanya Riza melihat istrinya sudah berganti pakaian sambil menggandeng kedua tangan si kembar. "Mau ke rumah Papa." Jawabnya sambil duduk di sofa. "Kok nggak bilang. Ayo Mas antar." Ucapnya namun dengan cepat Jihan menolak. "Inikan oleh oleh belum diantar semua. Nah tolong kamu sama Mark antar ke rumah tetangga, ke cafe, ruko dan juga rumah Kak Meta. Aku pergi sendiri ke rumah Papa." Jelasnya. "Dek. Kok begitu. Aku pergi sama kamu ya...Biar Mark yang antar ke cafe dan ruko. Nanti sore saja antar ke rumah tetangga." Ucap Riza membuat Iparnya membulatkan mata. "Nggak. Mana bisa begitu. Ayo antar bareng bareng dong. Enak saja." Kata remaja itu tidak terima. "Terserah kalian gimana pembagiannya. Pokoknya pulang nanti harus sudah di antar semua." Jihan mulai melangkah pergi. "Dek...jangan gitu dong." Riza menyusul istrinya. "Nggak usah gitu Mas. Nanti aku cepet pulang kok. Sudah aku berangkat dulu." Ia dan kedua anaknya mencium tangan Riza sebelum masuk ke mobil. "Jangan menyusul. Awas saja." Ucapnya sambil menutup kaca mobil. Riza hanya bisa mematung ketika mobil mewah itu meninggalkan halaman rumah.


Mark menghela napas melihat iparnya memasuki rumah dengan langkah gontai. "Jangan sedih gitu. Kaya mau ditinggal kawin aja. Ayo buruan diantar sebelum Ibu negara pulang nanti kita yang kena omel." Ucap Mark membuat Riza mengangguk pasrah. Mereka bergegas mengantarkan oleh oleh ke rumah tetangga dulu lalu di lanjut memasukkan ke mobil untuk diantar ke cafe, Ruko dan juga rumah Meta.

__ADS_1


Di sisi lain seorang wanita sedang mengobrol santai dengan papanya sambil menjaga si kembar yang sedang bermain di atas rerumputan taman belakang. "Papa jaga kesehatan lo. Papa itu sudah tua. Jangan banyak banyak kerja. Santai saja Pa." Ucap Jihan menuturi pria paruh baya yang duduk di sampingnya. "Iya. Papa nggak cepek kok." Jawabnya tersenyum sembari mengelus kepala putrinya dengan lembut. "Papa kangen sama kamu. Berhari hari ninggalin Papa. Tega ya..." Jihan tersenyum menggenggam tangan sang Papa. "Papa diajak nggak mau sih...." Wanita itu terkekeh pelan lalu menceritakan semua kejadian yang ada disana.


Sore hari Riza mondar mandir di depan rumah menunggu istrinya yang tak kunjung pulang. Pria itu patuh tak menyusul padahal ingin sekali. Ya daripada istrinya nanti ngambek mending dia menurut. Kalau Jihan sampai ngambek kan bahaya. Bisa bisa kan.... "Duh...katanya sebentar. Ini berangkat dari pagi sampai sore belum pulang juga. Mana di telpon nggak di angkat." Gumam Pria itu.


Beberapa saat kemudian Riza bernapas lega melihat mobil masuk ke halaman rumah. Ia langsung menghampiri istri dan anak anak yang baru turun. "Lama banget sih Dek." Ucap Pria itu sambil memeluk dan mencium kening Jihan dengan lembut. "Lepas kangen sama Papa. Masa tidak boleh?" Jawab Jihan bergegas mengajak anak anak masuk.

__ADS_1


"Pagarnya sudah kamu tutup Mas?" Tanya Jihan melihat sang suami duduk menempel di sebelahnya. "Sudah Dek." Jawabnya sambil tersenyum. "Mark mana? Oleh olehnya sudah diantar semua?" Riza menghela napas. "Sudah. Memang nggak kangen sama Mas kok malah tanya yang lain?" Riza mencubit gemas pipi istrinya. "Astaga. Baru beberapa jam nggak ketemu ditanya kangen. Ya enggak lah." Jawabnya. "Tapi Mas kangen." Riza mengecup pipi istrinya kemudian memeluk wanita itu dengan erat.


__ADS_2