
Jihan berjalan terburu buru menggandeng tangan Juma. "Mau kemana?" Tanya Riza berjalan cepat mengejar sang istri. "Mau ke dokter Dewi. Tangan Juma kena duri mawar. Masuk ke dalam kulit." Jawab Jihan menjelaskan sambil memperlihatkan tangan putra bungsunya. "Nggak perlu. Ayo ikut Ayah."
Riza duduk di teras belakang dengan Juma dan Juga istrinya. "Mau diapakan Mas?" Tanya Jihan saat suaminya memegang jarum yang sudah di sterilkan. "Mau ambil durinya. Nggak perlu ke dokter segala." Jawab Riza. "Nggak mau Yah. Takut." Ucap Juma. "Jangan lihat tangannya." Kata Riza. Juma memandang Ibunya sambil menggenggam tangan wanita itu dengan tangan kirinya. "Kok bisa ada lima duri begini memangnya batang mawar kamu genggam apa?" Juma menggeleng membiarkan Ayahnya bekerja. "Juma nggak sengaja jatuh." Jawabnya. "Ada ada aja." Ucap Pria itu kini sudah berhasil mengeluarkan tiga duri dari tangan putranya. "Tinggal dua." Gumamnya pelan.
Jihan segera membersihkan tangan Juma dan memberi obat merah. "Bilang apa sama Ayah?" Wanita itu mengingatkan. "Terimakasih Ayah." Ucapnya sambil memeluk Pria itu dengan hangat. "Sama sama. Lain kali hati hati. Jangan petakilan." Jawab Riza mengusap kepala Juma dengan lembut.
__ADS_1
Dika sedang membantu Ibunya bersama saudara yang lain memindahkan makanan dari dapur ke ruang makan. "Dika. Ini kasih ke kakek. Yang satunya kasih ke Ayah." Perintah Jihan menyajikan susu dan vitamin di atas nampan. "Iya Bu." Jawabnya bergegas pergi. "Ibu. Juma mau semangka." Ucapnya baru kembali dari ruang makan. "Sini kakak ambilkan." Kata Jaffan membuka kulkas. "Mau yang kuning atau merah?" Tanyanya. "Merah." Jawab Juma. "Tanpa biji atau dengan biji." Jihan hanya tersenyum melihat Jaffan yang sedang menggoda adiknya. "Semuanya nggak ada biji. Kaka jangan mengadi ngadi. Ibu nggak pernah beli semangka ada bijinya." Jawabnya sambil cemberut. "Iya iya. Ini." Jaffan meletakkan sepiring semangka di depan Juma yang sedang duduk bersama Jason dan Julian. "Ibu, diantara kita mana yang paling ganteng?" Tanya Julian. Jihan menghentikan kegiatan mengamati keempat putranya. "Nggak ada." Jawabnya setelah beberapa saat berpikir. "Kalau sama aku?" Riza ikutan. Jihan menggeleng. "Nggak ada yang ganteng." Ucapnya membuat Jalwa tertawa melihat wajah kecewa mereka. "Sudah dengar kan kata Ibu. Kalian ga ada yang ganteng." Sahut Jalwa memperjelas. "Masa kita nggak ada yang ganteng?" Juma menelisik wajah tampan saudara dan Ayahnya. "Terus yang ganteng siapa dong?" Lanjutnya bertanya. "Kakek kalian yang paling ganteng." Jawab Jihan membuat Riza berdecak. "Mana ada? Kakek sudah tua begitu masa Ibu bilang ganteng." Jaffan protes. "Heh. Masih tua juga nggak malas olahraga seperti kalian makannya sehat dan awet muda sampai sekarang. Kalian apa, Kaum muda tulang lemah. Diajak lari pagi juga hanya Juma yang berangkat." Jihan segera pergi sebelum mendapat pertanyaan lagi.
"Mau kemana sih Mas?" Tanya Jihan yang kini sudah di bawa suaminya pergi secara diam diam. "Kencan dong. Kita pergi berdua. Masa setiap pergi sama anak terus. Apalagi tangan ini selalu di gandeng Juma." Ucap Riza melajukan mobilnya setelah mengecup punggung tangan sang istri.
"Juma nanti cari aku." Kata Jihan di sela sela makannya. "Setiap hari juga cari kamu. Biarin." Jawab Riza tak peduli sambil mengusap sudut bibir sang istri. "Habis ini kita nonton ya." Riza tiba tiba mengernyitkan keningnya. Jujur Ia tak pernah nonton film kalau tidak sedang menemani sang istri dan itupun di rumah. "Film apa?" Tanyanya. "Horor." Jawab Jihan cepat hanya di angguki pasrah oleh Pria itu.
__ADS_1
Selesai nonton Riza dan Jihan duduk menikmati eskrim mereka yang satu cup besar dimakan berdua sembari menikmati suasana sore di taman. "I Love You." Ucap Riza menatap istrinya dalam dalam. "Too." Jawab Jihan sambil tersenyum. "Ih cuek banget." Riza mendekatkan wajahnya mengecup bibir mungil lembab itu singkat. "Mas. Ini tempat umum." Kesal Jihan mendorong suaminya agar segera menjauh. "Kita sudah halal." Jawab pria itu sambil tersenyum. "Iya tapi jangan cium cium di tempat umum juga." Kesal Jihan sambil membuang muka. "Kalau cemberut begitu malah pengen lagi." Riza menggoda istrinya.
"Ayah bawa Ibu kemana saja?" Tanya kesal melihat kedatangan Ayah dan Ibunya. "Mau tau saja urusan orang dewasa." Jawab Riza kemudian berlalu pergi. "Ibu kemana saja?" Tanyanya sambil memeluk wanita itu. "Ibu habis ke....Ke..mana ya?" Jihan bingung harus menjawab apa. "Ibu habis ke Mall." Jawab Jihan pada akhirnya. "Kok ninggalin Juma?" Wanita itu menghela napas pelan. Suaminya yang berbuat dia yang harus menjelaskan.
Makan malam sedang berlangsung. Seperti biasa Juma selalu di suapi Ibunya. "Dika nggak pakai daging?" Tanya Jason di jawab gelengan. "Pakai. Ini enak." Kata Julian menaruh tumis daging di piring remaja itu. "Makasih Kak." Ucapnya. "Jangan canggung begitu Dik. Biasa saja." Kata Riza. "Iya Yah." Jawabnya sambil mengangguk. "Ma. Kalau Julian buka cabang baru gimana?" Tanyanya meminta pendapat. "Dimana?" Tanya Jihan. "Di dekat Mall. Daerah perkantoran dekat dengan stasiun. Rencananya kita nanti juga jual makanan rumahan atau restoran." Jawabnya. "Bagus itu. Kapan?" Jihan menganggukkan kepala tanda setuju. "Nah, Kita rencananya mau ajak Mama lihat tempat dulu. Ada satu bangunan yang di sewakan." Kini Jason yang menjawab. "Kalau bisa menu nya yang beda biar nggak kalah saing. Usaha baru itu harus kreatif. Menunya apa saja?" Jihan memastikan. "Menu yang biasa kita makan sehari hari. Nanti minta ajar Mama masak ya." Julian penuh harap menatap wanita itu. "Iya." Jawab Jihan sambil tersenyum.
__ADS_1