
"Beneran nggak usah di antar sampai apartemen?" Tanya Meta sembari membantu Jihan berjalan keluar rumah sakit. "Eh...Lepas. Memangnya aku orang tua apa kamu tuntun." Sewot Jihan membuat wanita itu kesal. "Aku mau pulang sendiri. Makasih udah jagain. Itu taxi kalian." Tunjuknya pada taxi yang sudah standby di depan. "Kamu masih pucat loh." Jihan tak peduli mendorong Ibu satu anak itu untuk masuk. "Kakak hati hati ya." Kata Lita sudah berada di dalam. Jihan tersenyum kemudian menutup pintu mobilnya. "Kalian juga." Jawabnya.
Jihan baru sampai di gedung apartemennya. "Mbak Jihan. Gimana kondisinya? Saya nggak bisa temani. Maaf." Kata security itu merasa bersalah. "Sudah baikan pak. Terimakasih sudah menolong saya." Jawabnya sembari tersenyum. "Permisi. Mbak Jihan. Ini pesanannya." Kata pegawai menghampiri Jihan. "Kasihkan ke bapak itu." Katanya. "Mbak Jihan. Ini apa?" Ia nampak kebingungan menerima begitu banyak makanan. "Buat makan siang bapak. Ucapan terimakasih saya karena semalam sudah menolong." Jawab Jihan sambil tersenyum. "Tapi Mbak." Ia merasa tidak enak. "Terima saja Pak. Itu rezeki bapak." Pria itu mengangguk sembari tersenyum bahagia. "Terimakasih banyak." Ucapnya berkali kali. "Sama sama."
__ADS_1
Jihan berjalan menuju unit apartemennya sembari menenteng jaket. "Dek. Kamu darimana? Kamu nggak datang di pernikahan kakak?" Tanya seseorang membuat Jihan mengangkat pandangan. Keluarganya sudah berada di depan pintu. Ia tak bisa kabur lagi karena tubuhnya lemas. "Bunda menahan air mata mengamati wajah Jihan yang pucat dan tangan gadis itu juga masih ada bekas plester infus. "Kamu sakit apa Dek?" Tanya Bunda ikut masuk ke dalam. "Cuman pusing. Aku mau istirahat jangan ganggu." Katanya langsung melangkah menuju kamar.
Bunda membuka pintu kamar anak bungsunya perlahan. Ia melangkah semakin mendekat memperhatikan Jihan yang sudah tertidur pulas. Kamar Jihan sangat rapi. Hanya sedikit berantakan di atas nakas karena botol air dan obat serta roti yang tak habis di makan. Wanita itu duduk dengan hati hati di pinggiran ranjang. Mengelus lembut wajah Jihan dengan jemarinya. Kulit yang begitu mulus yang tak pernah di sentuh Bunda selama ini. Wanita itu terisak mengamati wajah damai putrinya. "Bun." Panggil Ayah masuk diikuti kedua anaknya. "Adek sakit apa Bun?" Tanyanya di jawab gelengan. "Bunda tidak tau. Bunda belum tanya. Saat Bunda kemari Dia sudah tidur." Jawab wanita itu.
__ADS_1
"Aku pergi dulu. Habiskan semuanya setelah itu cuci piring yang kotor." Pesannya sembari mencuci tangan. "Terimakasih sudah dimasakkan. Ayo makan bersama." Bunda menyiapkan piring untuk putrinya. "Aku ada janji latihan dengan seseorang. Sebelum kalian pergi pastikan matikan lampunya." Bunda menghentikan langkah gadis itu. "Kamu kan sakit." Katanya khawatir. Jihan tak merespon dan berlalu pergi sembari menenteng tasnya.
Sore hari setelah selesai mengisi acara ceramah. Riza langsung melajukan mobilnya ke suatu tempat. Ia akan menemui seseorang untuk membicarakan sesuatu. "Bismillah." Ucap pria itu ketika sudah berada di parkiran taman. Ia kemudian melangkahkan kaki menuju tempat duduk yang posisinya saling berhadapan.
__ADS_1
"Assalamualaikum." Suara itu membuat Riza terkejut. Suara yang tak asing baginya. Namun yang membuat asing adalah ucapan salam yang baru terlontar dari mulut gadis itu. "Waalaikumsalam." Jawabnya sembari tersenyum. "Kenapa? kaget ya?" Tanyanya memastikan. Riza hanya menggeleng pelan. Ia sebenarnya kaget dan senang dalam waktu yang bersamaan. "Mau ngomong apa? 10 menit dari sekarang." Jihan memberi waktu. "Tentang perjodohan itu...." Ia bingung harus berkata apa. "Aku tidak setuju. Kan sudah dibilang." Jihan memotong ucapan laki laki itu karen terlalu lama. "Tapi aku menyetujuinya. Ini amanah yang harus kita jalankan. Kita punya waktu untuk saling mengenal terlebih dahulu." Ucap Riza dengan nada yang lembut. "Aku tidak siap untuk menikah." Jawab Jihan dengan tegas. "Aku akan menunggu." Kata Riza bersungguh sungguh. "Jangan buang bung waktumu untuk menunggu sesuatu yang tidak pasti. Carilah perempuan lain. Memang kita tidak berjodoh." Ucap Jihan bergegas pergi.