
"Mau kemana?" Tanya Papa melihat putrinya sudah cantik dengan pakaian casual lengkap dengan tas selempang kecil yang di bawa. "Mau keluar sebentar Pa. Sebentar kok." Jawab Jihan sambil mencium punggung tangan Papanya. "Sudah izin sama suami?" Pria paruh baya itu bertanya untuk memastikan. "Sudah aku chat tapi belum balas. Masih ngajar mungkin. Aku berangkat dulu Pa. Assalamualaikum." Ucap Jihan berlalu pergi setelah mengecup pipi Papanya. "Waalaikumsalam. Anak itu." Gumamnya sambil menggelengkan kepala.
Mobil Jihan berhenti di sebuah butik yang cukup terkenal di kota. Wanita itu bergegas turun dan berjalan cepat masuk ke dalam. "Mbak Jihan." Kaget salah satu karyawan melihat kedatangan sahabat bosnya yang tiba tiba. "Carissa ada?" Tanya Jihan sambil tersenyum. "Ada Mbak. Sedang di ruangannya. Mau saya antar?" Wanita cantik itu menggeleng pelan. "Kesana sendiri saja." Jawabnya langsung melangkah pergi.
__ADS_1
"Jihan." Pekik Carissa senang sekaligus terkejut melihat kedatangan sahabatnya. Wanita itu langsung berdiri dari kursi menghampiri dan memeluk Jihan dengan erat. "Sudah sembuh?" Tanyanya karena dua hari yang lalu saat menjenguk Jihan masih sakit. "Lumayan. Bersinnya masih kadang. Jalan jalan yuk." Tanpa basa basi Ia langsung menuju ke poin utama. "Kemana?" Tanya Carissa sambil mengernyitkan keningnya. "Duduk dulu." Lanjut wanita itu menarik tangan sahabatnya untuk diajak duduk bersama di sofa.
Carissa menatap Jihan dengan kesal. "Sebenarnya kamu sudah izin atau belum?" Ia meminta penjelasan karena takut Riza akan mengomel. "Sudah lewat Chat tapi belum di balas. Paling juga masih ngisi kelas. Udahlah jangan terlalu worry." Jawab Jihan dengan santainya. Wanita itu sadar atau tidak jika salah yang kena omel bukan hanya dia tapi juga teman yang di ajak keluar. "Tadi suami belum berangkat nggak izin. Kalau kamu niat izin pasti udah dari pagi tadi." Ia gemas sendiri dengan sahabatnya itu. "Udah ah nggak usah kelamaan. Aku kepikirannya juga baru pas suami usah berangkat. Ayo buruan nanti kesiangan." Carissa hanya bisa pasrah tangannya di tarik oleh Jihan. "Bukan karna kepikiran pas suami kamu berangkat. Tapi kamu memang sengaja biar bisa keluar." Gerutunya sambil mengimbangi langkah Jihan.
__ADS_1
Dua wanita itu sampai di Mall setelah lima belas menit menempuh perjalanan. "Mau ngapain nih?" Tanya Carissa saat sudah berada di dalam Mall. "Kita nonton dulu lah." Jawab Jihan. "Aku beli tiketnya. Kamu duduk disini." Lanjutnya bergegas pergi untuk ikut mengantri.
Sebelum pulang Jihan mengajak Carissa makan di restoran grill untuk menutup acara jalan jalan mereka hari ini. "Jadi pengangguran kaya enak ya Ji." Ucap Carissa sambil membolak balikkan daging. "Enak gimana?" Tanya Jihan. "Enak. Nggak kerja udah gajian." Jawab wanita itu meletakkan daging yang sudah matang di piring sahabatnya. "Biasa aja." Jawab Jihan singkat sambil melahap makanan yang sudah tersaji.
__ADS_1
Jihan dalam perjalanan pulang dari mengantar Carissa. Wanita itu mengigit bibir bawahnya mengangkat panggilan yang masuk dari Riza. "Assalamualaikum Mas." Ucapnya pelan. "Waalaikumsalam. Dimana kamu?" Tanya Riza dengan nada kesal. "Masih di jalan." Jawab Jihan. "Cepat pulang. Mas tunggu." Ucap Riza. "Mau mampir ke..." Riza memotong kalimat istrinya. "Pulang. Nggak ada mampir mampir." Tegasnya. "Tapi Mas." Jihan memelas. "Jihan Pulang." Riza tak mentolerir lagi membuat istrinya pasrah.
Jihan duduk di tepian ranjang mendengarkan suaminya yang sedang mondar mandir sambil mengomel. "Siapa yang kasih izin kamu keluar?" Tanya Riza di akhir omelan panjangnya. "Kenapa nggak jawab?" Tanyanya lagi karena sang istri hanya diam. "Katanya tadi suruh Diam." Jawab Jihan membuat pria itu menghela napas. "Kenapa sih kamu selalu mendahului dulu sebelum Mas bilang iya atau tidak? Kenapa kamu nggak dengerin apa yang suami bilang? Kenapa kamu selalu melanggar? Mau jadi istri durhaka Jihan?" Tanya Riza bertubi tubi membuat Jihan mendongak menatap Sang suami. Semarah marahnya Riza tak pernah bernada tinggi dan memanggil namanya seperti ini. Terhitung sejak tadi sudah berkali kali Riza menyebut namanya dengan kesal. "Jangan kaya anak kecil kenapa sih. Kamu tuh kekanakan. Yang dewasa dikit lah. Sudah jadi istri ya sadar diri." Lanjut Riza. Jihan benar benar tak tahan lagi sekarang. "Ya aku memang kekanakan terus kenapa? Mas bosan? Kalau begitu cari istri baru saja. Apa kesalahan aku sebesar itu sampai Mas marah marah begini. Aku sudah berusaha dewasa. Mas yang nggak sadar aja gimana berjuangnya aku untuk berubah. Aku juga nggak pengen jadi istri durhaka Mas. Aku sudah coba nurut dan lakukan apapun perintah kamu. Aku cuman butuh keluar sebentar untuk menghibur diri. Kenapa semuanya nggak ada yang ngerti aku sih." Jihan dengan air mata meninggalkan suaminya yang masih berdiri di tempat.
__ADS_1