Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Jalwa Sakit


__ADS_3

Jihan di rumah sendiri. Ia sedih karna kemarin di tinggal suaminya menjenguk anak anak di pesantren. Riza pergi kesana sendiri dengan alasan mampir selesai mengisi pengajian. "Kenapa manyun begitu?" Tanya papa membawa keranjang buah. Pria itu baru kembali dari kebunnya. "Masih kesal dengan suami kamu karena tidak diajak menjenguk anak anak kemarin?" Tanyanya dan Jihan mengangguk. "Gimana nggak kesal. Pergi nggak ngomong sama aku. Aku kan kangen anak anak Pa. Mereka juga pasti kangen aku." Ucapnya sambil memakan jeruk yang di kupas Papanya. "Riza kan sudah bilang katanya sambil mampir. Dia bilang anak anak juga baik baik saja." Kata papa memberikan pengertian pada putrinya. "Lagian Riza juga nggak mau kalau kamu kecapean. Kan lagi hamil." Lanjutnya lagi sambil menyuapkan buah anggur ke mulut Jihan.


Riza baru pulang bersama Mark. "Assalamualaikum." Ucap keduanya menghampiri Jihan dan Papa. "Waalaikumsalam." Jawab Mereka kompak. Riza duduk setelah mengecup kening sang istri. "Nanti malam kita jenguk Mas?" Tanya Jihan. "Tanggung Dek. Besok sore mereka kan sudah pulang." Jawab Pria itu sambil menyandarkan tubuhnya di sofa. "Kemarin mereka mau makan nggak?" Riza mengangguk. "Mau." Jawabnya. "Mereka nggak kenapa napa kan?" Jihan benar benar khawatir. "Nggak papa. Mereka baik baik saja." Kata pria itu sembari mengusap kepala sang istri. Jihan mengangguk kemudian melanjutkan makannya.


Sore hari Riza hanya memperhatikan istri, mertua dan Iparnya yang sedang asyik bermain golf di lapangan belakang. "Nggak mau coba kak?" Tawar Mark. "Nggak. Nggak bisa mainan orang kaya begitu. Aku mana tau." Jawab Riza. "Mau Papa ajari Za?" Pria itu menggeleng sambut tersenyum menanggapi mertuanya. "Kita bikin perjanjian." Kata Jihan mulai aneh aneh. "Nggak. Kakak pasti menang. Nggak ikut ikutan aku. Nanti minta macam macam pula." Kata Mark. "Iya. Papa juga nggak mau. Nanti kamu aneh aneh mintanya." Riza ingin sekali tertawa terbahak bahak melihat ekspresi kecewa sang istri. "Kalian ini." Gumam Jihan. "Tidak asik." Lanjutnya lagi sembari memukul bola dengan stick golf yang di pegang nya.

__ADS_1


Riza menghampiri istrinya yang sudah tiduran di ranjang. Pria itu menciumi wajah Jihan kemudian berbaring memeluk wanita itu dengan erat. Tangannya menepuk punggung sang istri dengan pelan. "Ada telpon." Kata Jihan sambil meraih ponselnya di atas nakas. "Nomor siapa ya?" Gumamnya kemudian mengangkat panggilan yang masuk. "Waalaikumsalam. Saya sendiri." Jawabannya. "Sakit. Baik. Saya kesana. Assalamualaikum." Kata Jihan kemudian segera beranjak. "Kenapa Dek?" Tanya Riza. "Jalwa demam. Ayo kita jemput." Jihan segera berganti pakaian.


"Kalian mau kemana malam malam?" Tanya Papa melihat anak dan menantunya keluar kamar dengan pakaian rapi. "Mau ke pesantren Pa. Jalwa demam. Papa sama Mark di rumah saja. Kita cuman sebentar kok. Kita pergi dulu. Assalamualaikum." Pamit keduanya bergegas pergi.


Jihan sampai di pesantren langsung menuju asrama anaknya. "Pelan pelan Dek." Tutur Riza melihat istrinya berjalan cepat. "Assalamualaikum." Ucap Jihan sampai di sana. Kamar anaknya sudah ramai orang. "Waalaikumsalam. Mbak Jihan dari kemarin Jalwa tidak mau makan. Badannya demam sore tadi kita mau bawa ke rumah sakit tidak mau. Sudah minum obat tapi panasnya belum turun." Ucap Mereka menjelaskan. Jihan mengangguk wanita itu duduk menggenggam tangan putrinya. "Ibu...Ibu.." Panggil Jalwa dengan mata terpejam. "Iya Sayang. Ibu disini." Jihan meneteskan air matanya. Kata Riza anaknya baik baik saja tapi apa sekarang. Ia langsung menggendong putrinya untuk di ajak pulang. "Terimakasih. Maaf merepotkan. Kami bawa pulang Jaffan dan Jalwa ya. Sekali lagi terimakasih. Assalamualaikum." Ucap Jihan berpamitan. "Waalaikumsalam."

__ADS_1


Sampai di rumah Jihan langsung mengganti pakaian anaknya dan memakaikan plester kompres. "Jaffan di sini dulu ya. Ibu mau ambil makan sama minuman hangat di dapur." Pesannya. Bocah tampan itu mengangguk patuh.


Riza menyusul istrinya di dapur. "Dek." Panggilannya. "Kenapa kamu bohong sama aku Mas? Katanya anak anak kamu bilang baik baik saja. Nyatanya mereka dari kemarin nggak mau makan. Alasan kamu bohong kenapa?" Tanya Jihan tanpa menatap suaminya. "Maaf. Aku nggak mau kamu khawatir." Ucap Pria itu. "Keterlaluan kamu." Kesalnya berlalu pergi sembari membawa nampan yang sudah berisi makanan.


Jihan menyuapi anak anaknya bergantian kemudian membantu Jalwa untuk minum obat. "Sekarang tidur. Kakek sama Om keluar dulu ya." Ucap keduanya. "Mark. Nitip nampannya bawa keluar." Pemuda itu mengangguk kemudian segera pergi setelah memberikan ciuman pada kakak dan kedua ponakannya. "Kita nggak mau mondok lagi Ibu." kata Jaffan. "Iya. Nggak mondok lagi. Sekarang tidur sudah malam." Ucap Jihan.

__ADS_1


Riza menyusul Jihan. Pria itu berbaring di belakang istrinya sambil memeluk. "Dek." Panggilnya pelan sambil mengecup pipi dan pelipis istrinya. "Jangan berisik. Jangan buat anak anak aku bangun." Kata Jihan memberikan peringatan tegas. Ia kesal dengan Riza. Andai saja pria itu jujur sejak kemarin dan membiarkannya menjenguk pasti kejadiannya tidak seperti ini.


__ADS_2