
"Ayo berangkat." Ucap Jihan sembari menggandeng tangan kedua anaknya. Ia dan suami akan mengantar Jaffan potong rambut sekalian jalan jalan mupung libur. "Papa sama Mark mau nitip apa?" Tanya Wanita itu. "Apa aja deh. Yang penting enak kita makan. Ya nggak Pa?" Tanya Pemuda itu sembari menyenggol lengan Papanya. "Iya. Apa aja." Jawab Papa setuju. "Kita berangkat dulu kalo gitu. Assalamualaikum." Ucap Jihan dan Suami mencium tangan Papa diikuti kedua anaknya. "Waalaikumsalam. Hati hati." Pesan mereka sambil mengantar sampai ke depan.
Baru saja beberapa menit Jihan dan Riza berangkat Jaafar datang. "Pada kemana? Kok sepi?" Tanya Pria itu ikut duduk bergabung. "Lagi antar Jaffan potong rambut sama sekalian jalan jalan." Jawab Mark langsung di angguki. "Far. Bukannya Om ikut campur. Kamu memang tidak mau tinggal sama Ayah dan Bunda kamu? Mereka terus mendesak Jihan untuk tinggal disana." Ucap Papa. "Aku nggak mau Om. Lagian ada aku nggak ada aku juga sama saja. Dulu saat Jena masih ada aku nggak dianggap. Apa apa ya untuk putrinya itu. Ya om tau sendiri lah dimana rasanya. Aku nggak mau tinggal satu rumah yang malah bikin kita nanti ribut mulu. Kalau soal Adek. Sebenarnya aku sudah kasih tau mereka berkali kali. Tapi entahlah." Ucapnya sambil mengangkat kedua bahu.
__ADS_1
Jihan, Suami dan kedua anaknya kini sudah berada di barbershop. Wanita itu sendang menemani putranya yang potong rambut. Suami ya juga ikutan ternyata. Kata Riza rambutnya sudah terlalu panjang bahkan kadang menusuk mata. Padahal menurut Jihan sih enggak. Entah benar atau tidak tapi Jihan iya in aja deh. Suka suka dia. "Sudah semua." Ucap Jihan. "Makin ganteng anak Ibu." Lanjutnya sembari mengusap pipi Jaffan. "Ayahnya enggak?" Tanya Riza membuat Barber yang sedang melayaninya menahan tawa. "Ngga usah narsis." Ucap Jihan berlalu pergi ke kasir untuk membayar.
Jihan menggandeng tangan kedua anaknya untuk berkeliling. "Kalian mau apa?" Tanyanya. "Eskrim." Jawab dua bocah itu dengan kompak. Jihan mengangguk kemudian segera mengajak mereka untuk membeli eskrim.
__ADS_1
Sampai di rumah Jihan langsung mengajak anak anak masuk diikuti suaminya. "Dek." Jaafar langsung memeluk Jihan dan keponakannya bergantian. "Nggak usah peluk peluk. Kebiasaan." Kesalnya langsung duduk bergabung bersama Papa dan Mark. "Sama kakak sendiri begitu." Gumam Jaafar membuat Riza ingin tertawa tetapi sebisa mungkin ditahan. "Ayo makan. Ini tadi beli dimsum sama pizza. Oh ada kentang goreng sama cheese burger juga." Ucap Jihan membuka satu persatu bawaannya. "Za. Istri kamu kok dibiarin makan junk food sih." Tegur Papa. "Gimana ya Pa. Daripada merengek disana mending di iya kan saja. Sesekali Pa." Jawab Riza sambil terkekeh. Jihan tak peduli Ia mulai makan burgernya. "Saosnya mana?" Tanya Wanita itu sambil celingukan. "Ini. Tapi kamu nggak boleh." Ucap Riza. "Kok begitu?" Tanya Jihan. "Tadi kamu sudah janji kalau boleh beli nggak akan makan saosnya." Pria itu mengingatkan sang istri membuat Jihan cemberut dibuatnya.
Riza menghampiri istrinya yang duduk di depan meja rias sambil membersihkan wajah. Memang tidak bermake up. Jihan hanya menggunakan pelembab dan suscreen dari dokter untuk melindungi kulitnya yang sensitif. Namun debu dan kotoran yang menempel saat bepergian tetap harus di bersihkan. "Kenapa?" Tanya Wanita itu ketika suaminya ikut duduk dan memeluk manja. "Nggak papa. Cuma pengen peluk aja Dek." Jawabnya. Jihan membuang kapasnya ke tempat sampah. Wanita itu mengusap rambut suaminya dan mengecup kening pria itu dengan lembut. "Masuk waktu ashar. Siap siap sana Mas." Ucapnya menyingkirkan kepala Riza dan membantu pria itu berdiri. Jihan memeluk dan berjinjit mengecup bibir Riza membuat sang suami tersenyum senang. "Terlalu cepat Dek." Ucapnya langsung mencium bibir istrinya dengan rakus. "Awas nanti kebablasan tidak jadi berangkat." Jihan memperingati ketika pangutan mereka terlepas.
__ADS_1