
Semua orang sedang cemas. Jihan demam dan beberapa bagian tubuhnya terdapat ruam ruam. "Alerginya kambuh ini. Salah makan. Makan udang ya?" Kata Dokter pribadi Jihan sembari memberikan obat. "Nggak dok. Istri saya nggak makan udang. Kemarin kita makan...." Riza membelalakkan mata. "Oh. Jangan jangan somay yang di pantai waktu itu ada udangnya." Kata Riza tersadar. Dokter menghela napas. "Minum obatnya setelah makan. Semoga cepat sembuh Ji. Kemarin kemari baru saja sembuh dari Mag kenapa sekarang alergi kambuh." Ucap Dokter itu. "Ya. Terimakasih banyak." Jawab Jihan melambaikan tangannya lemah. "Baik. Permisi ya." Ucapnya berpamitan kemudian segera pergi.
Jihan makan di suapi suaminya. Setelah itu minum obat dan beristirahat kembali. "Ibu mau apa? Kami siapkan." Kata Jalwa. "Nggak mau apa apa." Jawab Jihan sambil tersenyum. "Kalian keluar. Biarkan ibu Istirahat." Ucap Riza. Mereka mengalah dan menuruti perintah Ayahnya. Semalaman Jihan tidak tidur pasti sangat mengantuk dan membutuhkan waktu untuk istirahat dengan tenang.
__ADS_1
Beberapa menit berlalu. Jihan tertidur pulas karena efek obat. Riza menemaninya sembari mengusap punggung wanita itu dengan lembut. Perlahan Ia meraih ponsel sang istri yang terletak di atas nakas. Ia mengecek riwayat panggilan dan pesan yang masuk. "Peter." Gumam Riza. Ia membuka riwayat chat istrinya. Pria itu ternyata begitu agresif namun Ia bernapas lega karena istrinya tak menanggapi. Riza tersenyum melihat balasan menohok Jihan. 'Jangan ganggu aku lagi. Aku sudah punya keluarga dan aku bahagia. Kubur masa lalu itu bersama cintamu. Nyatanya kita sampai kapanpun tidak akan pernah bersama. Karena apa? jodoh itu cerminan diri asal kau tau. Aku tidak berjodoh denganmu mungkin karena aku orang yang lebih baik. Selamat tinggal. Jangan mengusikku atau aku akan membuatmu menyesal.' Pesan Jihan tertulis begitu mengancam. Riza tak menyangka istrinya setegas itu. Membacanya saja Ia sudah merinding. Apalagi ketika ancaman itu di realisasi. Wah..Ia tak bisa membayangkan.
Satu jam tertidur Jihan menggeliat. "Jam berapa?" Tanyanya. "Jam 10. Lapar ya? Atau mau sesuatu?" Tanya Riza. "Nggak. Pengen tidur lagi." Jawabnya memejamkan mata. "Mas pengen kerupuk." Kata Jihan membuat suaminya heran. Ia pikir Jihan sedang mengigau. "Mas belikan kerupuk rujak itu lo." Pintanya. "Kamu lagi sakit kenapa makan kerupuk sih." Ucap Riza mengusap surai lembut istrinya. "Pengen. Belikan dong. Masa minta begitu saja kamu nggak turuti." Riza mengangguk. "Mas. Suruh orang beli dulu. Kamu tidur lagi saja." Riza buru buru pergi setelan mencium kening dan bibir sang istri.
__ADS_1
Sore hari semuanya sedang berkumpul di kamar Jihan. Wanita itu masih tiduran dengan plester demam yang menempel di keningnya. "Makan buahnya Bu. Jalwa suapi ya." Kata Gadis itu namun Jihan menggeleng. "Nggak mau ah. Lagi nggak pengen makan apa apa." Jawabnya sambil menarik selimut sampai sebatas dada. "Kamu sakit makannya kerupuk mulu." Ucap Papa jengkel. "Yang bikin sakit itu bukan kerupuk tapi udang Pa." Jawab Jihan sambil tersenyum. "Bisa menjawab juga. Benar benar." Gerutu pria paruh baya itu. "Juma nanti tidur peluk ibu." Kata Remaja yang sedaritadi tiduran sambil memeluk manja ibunya itu. "Kamu nggak boleh tidur sama Ibu. Tidur sendiri. Sudah besar jangan manja." Tegas Riza. "Kenapa Yah? Kata Kakak dulu sering tidur sama Ibu juga. Sekarang giliran Juma dong. Kalian nggak adil kalau nggak kasih izin juma tidur sama Ibu." Ucapnya sambil cemberut. "Kalau Ibu sudah sembuh nanti boleh tidur sama Ibu. Untuk sekarang jangan. Ibu masih sakit. Kamu itu kalau tidur nggak bisa tenang. Nanti Ibu terganggu." Jelasnya.
Riza bernapas lega karena akhirnya bisa terlepas dari anak anak. Ia mematikan lampu kamar dan ikut menyusul istrinya sambil memeluk dengan hangat. "Masih pusing Dek?" Tanyanya karena istrinya tadi mengeluh pusing. "Sudah tidak. Sekarang mengantuk lagi habis minum obat." Jawab Jihan. "Yasudah tidur saja." Riza memberikan kecupan cinta di seluruh wajah istrinya lalu mendekap lagi wanita itu.
__ADS_1