
Libur panjang telah usai. Semuanya kembali beraktifitas seperti semula. Kaki Jihan sudah lebih baik dan gips di tangannya juga sudah dilepas. Wanita itu sekarang sudah diizinkan menggunakan tongkat untuk berjalan. "Ibu beneran nggak papa kita tinggal?" Tanya Jalwa yang akan pergi ke kampus bersama yang lainnya. "Nggak papa. Disini kan banyak orang. Ada Bibi dan Kakek juga." Jawab Jihan mengusap lengan putrinya. Gadis itu mengangguk kemudian mencium tangan dan kening sang Ibu diikuti saudaranya yang lain. "Kalau ada apa apa telpon Ma." Pesan Jason sebelum pergi.
Riza masih duduk bersama Istri dan anak bungsunya. "Sudah sana berangkat. Nanti telat." Ucapnya karena sang suami tak kunjung berangkat juga. Riza tampak menghela napas kemudian mengangguk. Ia mencium kening dan pipi istrinya dan memeluk wanita itu lama. "Ayah kelamaan. Juma juga mau pamitan sama Ibu." Ia memisahkan kedua orang tuanya. "Juma berangkat Bu." Kata bocah tampan itu melakukan persis seperti apa yang di lakukan Ayahnya namun lebih lebih. "Iya. Hati hati." Pesan Jihan mencium kening putranya penuh kasih. "Kamu jangan macam macam Dek. Jangan masak atau jangan ngapa ngapain. Duduk diam saja. Mas pulang jam 12. Kalau mau apa apa panggil Bibi saja." Pesan Riza mengecup kening istrinya lagi kemudian segera mengajak anaknya berangkat setelah mengucapkan salam.
__ADS_1
Papa melihat putrinya tampak gusar. Wanita itu kemudian berdiri dengan tongkatnya. "Mau kemana?" Tanya Papa. "Bosen Pa. Mau ke dapur." Jawab Jihan. "Duduk." Tegas Papa tak ingin putrinya melakukan sesuatu di dapur sepwrti kemarin. "Pa." Keluh Jihan menatap Papanya penuh harap. "Mau melawan orang tua? Duduk. Heran, nggak bisa duduk diam ya. Kondisi kamu belum sembuh benar. Kemarin kemarin juga buat macam macam. Kalo suami sama anak kamu di rumah pasti juga di ceramahin." Omelnya membuat Jihan duduk kembali. "Lihat kalau manyun begitu persis Juma." Ledeknya melihat wanita itu cemberut. "Ih Papa." Kesal Jihan. Ia benar benar bosan tak melakukan apapun seperti ini. Masak tidak boleh apa apa tidak boleh. Padahal kan tangannya sudah bisa digunakan. Makan saja suaminya itu masih bersikeras untuk menyuapi. Mandi, berganti baju dan cuci muka Jihan harus menunggu suaminya. Jika tidak siap siap saja Ia mendengarkan celotehan suaminya yang tak habis habis. "Sayang." Panggil Papa melihat putrinya sedang melamun. "Ada apa Pa?" Jawabnya. "Hubungan kamu dengan Mark bagaimana?" Jihan menatap Papanya sambil tersenyum. "Alhamdulillah baik, Semuanya baik Pa. Tapi juga tidak seperti dulu. Kan sudah punya keluarga. Jihan dan Mark sudah punya kehidupan masing masing Pa." Jawabnya jujur.
Riza baru pulang langsung menuju kamarnya setelah menyuruh Juma untuk berganti baju. Pria itu tersenyum melihat Jihan yang tertidur pulas di atas sofa dengan masih memegang ponselnya. Ia perlahan mengambil benda pipih itu lalu meletakkannya di atas meja.
__ADS_1
Riza menghela napas melihat Juma sudah tertidur pulas sambil memeluk Ibunya. Lebih parah lagi anak bungsunya itu masih menggunakan seragam sekolah. "Memang benar benar." Gerutu Riza. Karena tak tega harua membangunkan sang istri, Pria itu memilih untuk menunggu sampai Jihan terbangun dengan sendirinya.
Satu jam lebih berlalu. Riza baru keluar dari walk in closet langsung menghampiri istri dan anaknya yang sudah bangun. "Kenapa belum ganti baju?" Tanya Jihan yang kini duduk bersandar di headboard ranjang. "Kalau mau tidur ganti baju dulu." Lanjutnya memberikan nasihat. "Tadi sudah Mas suruh ganti Dek. Anaknya nakal nggak mau nurut." Ucapnya ikut duduk bergabung sambil memangku nampan berisi makanan. "Ayo makan dulu. Kamu belum minum obat. Harusnya sudah di minum sejak tadi." Kata Riza. "Masih kenyang Mas." Jawab Jihan menolak dengan halus. "Mana boleh begitu. Harus makan. Ayo makan." Ia memaksa istrinya. "Juma sudah makan?" Tanya Jihan di jawab gelengan oleh bocah tampan itu. "Ayo makan sekalian sama Ibu." Ajaknya. Riza sekarang bukan hanya menyuapi istrinya tapi juga anak Juma sekalian.
__ADS_1
"Ayah. Nggak mau daun bawangnya." Keluh Juma. "Ogah Ayah suruh pisah pisahin." Jawab Riza. "Mas sama anak sendiri begitu." Tegur Jihan. "Anak sama bapaknya juga begitu." Tak mau kalah Ia membalikkan pernyataan istrinya. "Bisa saja menjawab." Gumam Jihan mengambil sendok yang di pegang Riza. Ia memisahkan daun bawang lalu menyuapi Juma. "Ibu memang pengertian." Ucap Juma sambil memeluk Ibunya. "Kalau makan jangan banyak tingkah. Keselek nanti. Udah belum mandi, belum ganti baju, sudah tidur, ngerencokin Ibu makan. Anak siapa sih?" Riza mengomeli putranya. "Anak Ibu aja kalau Ayah nggak mau. Kan Ibu yang melahirkan Juma." Jawabnya membuat Riza berdecak sementara sang istri tertawa. "Kan Ayah yang Buat." Sahut Riza membuat Jihan memukul pelan lengan pria itu karena sembarangan bicara. "Kan bener Dek aku yang buat sama kamu." Riza tak mau disalahkan. "Mulutnya Mas...Minta di plester ya..." Geram Jihan karena Suaminya malah memperjelas.