
Jihan langsung menarik tangan suaminya begitu melihat kedatangan pria itu. "Ada apa Dek? kangen ya?" Tanyanya sambil senyum senyum. "Iya deh." Jawab Jihan sambil mengecup pipi Riza sekilas. Ia kemudian menggenggam tangan dan menatap Suaminya dengan senyuman manis. "Deh Dek. Bisa diabetes kalau kamu begini." Ucapnya karena mendapat perlakuan langka dari sang istri.
"Mas." Jihan memeluk lengan suaminya membuat pria itu menegang karena sumber minum anaknya itu sudah menempel dan terasa sangat kenyal. "Ada apa Dek?" Tanya Riza sembari minum karena merasakan hawa yang mendadak panas. "Mas aku mau beli mobil Rolls-Royce Coachbuild." ucap Jihan.
__ADS_1
"Berapa harganya dek?" Tanya Riza meneguk minum lagi. "398 M." Jawab Jihan. "Byur....." Riza menyemburkan air dari mulutnya karena terkejut. Baru saja kemarin Ia bilang istrinya tidak menuntut macam macam karena benar adanya begitu kenapa sekarang malah berubah begini? Apa daya dia hanya pengemudi Honda CRV harus menuruti istrinya yang menginginkan mobil ratusan milyar itu. Semua asetnya di jual pun tak akan cukup. "Dek. Mas pengen sekali turuti kemauan Adek. Tapi Mas tidak punya uang sebanyak itu." Ucapnya sambil mengelus kepala sang istri. Bukannya tak mau menuruti. Akan dia lakukan apapun asal istrinya bahagia. Tapi untuk yang satu itu kan butuh uang yang banyak banget. Riza mana mampu.
"Oh...No Mas. Aku bukan minta di belikan kamu. Aku cuman minta izin saja. Aku sudah punya uang dan ingin membelinya sejak lama. Nah hari ini aku minta izin ke kamu." Kata Jihan membuat Riza tertohok. Harusnya dia yang membahagiakan sang istri. Namun secara materi istrinya memang lebih unggul jauh jadi membuatnya tak bisa melakukan itu. Membeli ruko saja Ia masih berhutang pada istrinya seratus juta. Ya meskipun Jihan tidak memusingkan itu namun sebagai suami Ia merasa rendah diri. "Maaf Dek." Ucap Pria itu tiba tiba membuat Jihan menatap suaminya dalam dalam. "Kenapa hm?" Tanyanya sambil menangkup wajah Riza. "Maaf karena aku tidak bisa membahagiakan kamu." Ucapnya lirih. Jihan menggeleng kemudian memeluk suaminya dengan erat. "Aku sudah bahagia. Bahagia karena keluarga kecil kita. Semuanya bukan tentang materi Mas. Tapi kesabaran kamu dan cinta kamu membuat semuanya indah." Ungkapan Jihan membuat Riza terenyuh. Entah karena ingin meminta izin atau memang Jihan sedang manis sikapnya tapi bagi Riza sangat membahagiakan. "Jadi boleh kan?" Tanya Jihan lagi. "As you wish baby." Ucap Riza membuat Istrinya melongo karena bahasa Inggrisnya meningkat. "Cup...." Pria itu mencium bibir istrinya yang terbuka.
__ADS_1
Sampai di sana Papa Jihan langsung mengajak mereka untuk ke kebun setelah makan makanan yang dibawa putrinya dari rumah. "Mau itu." Tunjuk Jaffan pada buah jeruk yang sudah menguning. "Ini asem nggak Pa?" Jihan bertanya untuk memastikan. "Manis itu." Jawabnya sambil memetik kan beberapa untuk sang cucu. "Mark tadi kemana?" Jihan celingukan mencari adiknya. "Mau petik strawberry. Kita tunggu sambil duduk saja." Ajak Papa.
Mereka berkumpul duduk melingkar di atas tikar. "Ih papa. Ini asem banget." Keluh Jihan sambil menyipitkan matanya. "Masa sih? Biasanya manis lo. Atau salah pohon ya." Pria itu tertawa. "Bisa bisanya." Jihan menggelengkan kepala. " Ibu mau itu." Ucap Jaffan dan Jalwa menunjuk keranjang Strawberry yang ada di depannya. "Iya." Jihan mengambil beberapa dan disiapkan pada si kembar. "Pa. Ayolah ikut kita liburan." Pinta Jihan untuk kesekian kalinya. "Iya pa. Sesekali." Mark ikut menimpali. "Nggak. Papa sudah tua. Papa mau istirahat di rumah sambil jaga perkebunan. Lagian kalau papa pergi siapa yang akan mengurus pengiriman. Kan butuh tandatangan Papa." Jawab Pria itu mengusap kepala putrinya. "Yah....." Keluh Jihan membuat Riza tersenyum. Manjanya Jihan hanya pada Papanya. Namun dia juga manja pada Riza kalau sedang ada maunya seperti tadi. 'Ya Allah Dek. Perayu ulung memang.' Ucapnya dalam hati sambil menggelengkan kepala. Jihan memincingkan matanya melihat tingkah Riza. "Kenapa Mas? Kamu pasti gibahin aku dalam hati." Kata Jihan membuat suaminya tersedak. "Ya Allah. Enggak Dek. Mana mungkin mas begitu." Ucap Riza membuat Mertuanya tergelak.
__ADS_1