
Riza memeluk istrinya yang sedang bersiap. "Mas minta maaf Dek. Mas salah." Kata Pria itu. Jihan diam sama seperti yang Riza lakukan kemarin. "Kamu nggak salah. Kamu mana pernah salah sih Mas. Semuanya aku yang salah." Jawab Jihan bergegas pergi setelah merapikan sedikit penampilannya meninggalkan suami yang masih berdiri mematung di tempat yang sama.
Jihan berjalan ke ruang makan sambil membawa secangkir kopi. "Tiap hari kamu ngopi terus. Nggak baik buat lambung." Tegur papa. "Bikin rileks Pa." Jawab Wanita itu sambil menyesap kopi panasnya. "Hari ini Ibu mau kemana sudah rapi? Bukannya Minggu libur ya?" Tanya Juma. "Ibu ada janji sama Tante Carissa." Kata Jihan kemudian segera berpamitan.
Mobil mewah berhenti tepat di depan sebuah butik. Jihan turun dengan santai kemudian langsung masuk ke dalam. "Carissa ada?" Tanyanya. "Ada Bu. Sudah menunggu di ruangannya." Jawab Karyawan itu mempersilahkan masuk.
__ADS_1
"Wah...Sudah datang." Carissa menyambut kedatangan sahabatnya itu dengan pelukan. "Kita mulai sekarang atau nanti?" Tanya Jihan. "Duduk dulu lah. Masih ada banyak waktu." Jawabnya sambil menggandeng tangan wanita itu untuk duduk di sofa.
"Kenapa wajahmu di tekuk begitu? Urusan dengan suami belum beres kah?" Tanya Carissa membawakan biskuit kesukaan sahabatnya. "Belum. Aku juga masih kesal." Jawab Wanita itu sambil melahap cemilan yang tersaji. "Suamiku juga begitu Ji. Menjadi wanita karir bukan hal yang mudah. Kita serba salah meskipun tetap melakukan peran sebagai Ibu dan istri yang baik." Jelas Carissa sambil mengusap punggung tangan sahabatnya.
Jihan sedang melakukan pemotretan untuk majalah di studio foto. "Ini yang terakhir." Ucap fotografer. "Sempurna. Mbak Jihan tidak pernah mengecewakan." Ucap pemuda itu. Jihan hanya tersenyum kemudian buru buru menghampiri Carissa. "Mau langung pulang?' Tanyanya dan Jihan mengangguk. "Aku ganti baju dulu. Setelah itu langsung pulang." Jawabnya lalu bergegas pergi.
__ADS_1
Jason dan Julian tersenyum melihat tatapan Jihan yang masih keheranan. Bukan masalah kembarnya. Namun wanita itu sekali lagi cukup terkejut karena dua pemuda di depannya itu anak sang mantan kurang ajar. Ya si kembar identik itu anak dari Peter dan Michelle. Entah sebuah kebetulan atau apa. Jihan di pertemukan dengan Papa mereka kemudian anak anaknya sekalian. "Yang Papa ucapkan benar. Tante memang cantik. Papa selalu bercerita tentang Tante. Katanya dia menyesali apa yang terjadi." Ucap Julian.
Jason menceritakan kisah hidupnya yang ternyata tidak baik baik saja. Kedua pemuda malang itu ternyata tidak mendapatkan kasih sayang dari Sang Mama. Michelle sibuk dengan dunianya. Dunia malam juga dunia permodalan. Wanita itu selalu pulang pagi dan tidak mengurus suami maupun anak. Jason dan Julian besar di tangan pengasuh karena Papanya juga sibuk bekerja mengurus perusahaan. "Mama sering selingkuh. Tak Jarang Ia juga membawa pacarnya pulang ke rumah. Papa tau. Tapi tidak peduli dan mengajak kami keluar jalan jalan agar tidak melihat sesuatu yang tidak pantas dilihat anak anak." Jihan mengangguk sambil menyesap cappuccino nya. Sungguh malang. Ia kira Michelle akan menjadi Ibu yang baik. Namun salah.
Cerita masih berlanjut. Kini Julian yang menyampaikan sesuatu. Pemuda itu mengatakan jika Papanya pernah bercerita kalau Mamanya tidak pernah mencintai sang Papa. Michelle hanya ingin membuat Jihan terpuruk dan hancur karena rasa iri di hati. Jihan bisa dengan mudah mendapat ini itu namun tidak dengan Michelle. Teman saja sulit di dapat. Hanya Jihan seorang yang mau menjadi temannya. Tapi rasa dengki yang ada pada wanita itu membawanya untuk melakukan hal sakit. Hanya karena ingin melihat Jihan terluka Michelle dengan sengaja melakukan hal yang tidak pantas dengan kekasih sahabatnya.
__ADS_1
"Jihan. Kamu disini?" Kata Peter yang baru datang. Pria itu duduk tanpa di persilahkan. "Sudah tau kenapa tanya." Jawabnya jutek. Jason dan Julian hanya tersenyum dengan tingkah wanita cantik di depannya. "Kalian mengenal Tante Jihan?" Tanya Peter pada dua putranya. "Kenal Pa. Tante Jihan sering kesini. Kami bercerita banyak setiap bertemu." Jawab Jason. "Bagaimana menurut kalian?" Jihan mendongak menatap Peter yang sedang menanyai putranya. "Tante orang baik dan penuh kasih sayang seperti yang Papa ceritakan." Jawab Jason. "Kalian mau Mama yang seperi Tante Jihan kan?" Si kembar mengangguk menanggapi Papanya. "Jadi bagaimana Ji?" Peter beralih pada sang mantan. "Apanya??" tanya wanita itu. "Kamu mau kan jadi Mamanya anak anak aku?" Jihan menyipitkan matanya. Peter ini buta atau hilang ingatan. Ucapan pria itu membuatnya heran. "Aku sudah bersuami. Anak aku tiga. Jangan mengada ada." Jawab Jihan. "Punya suami dua memangnya nggak boleh?" Jihan tersedak sekarang. "Hati hati Ma." Ucap Jason menepuk punggung wanita di sampingnya dengan lembut. Belum bebas dari hal pertama Panggilan pemuda itu membuat Jihan seakan di siram ketikan sedang tidur. Terkejut. Benar benar terkejut.