Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Tindakan Jaafar


__ADS_3

"Membusuklah di penjara." Ucap Meta saat berpapasan dengan Zara yang sedang di giring oleh beberapa polisi. Teriakan menyertai langkah gadis itu. Si tersangka hanya bisa menunduk menghindari tatapan benci dari orang orang. Sidang berlangsung lancar. Zahra di kenai pasal berlapis dan di hukum dengan hukuman penjara yang setimpal.


Mereka semua langsung menuju ke rumah sakit setelah mengikuti sidang. "Bangun Ji. Semuanya menunggumu. Sudah lima belas hari. Kakak rindu. Anak anak, suami, Papa, Mark dan semuanya. Apa kau tak merindukan kami adikku?" Ucap Meta tak kuasa menahan air mata mengamati seorang Wanita terbaring lemah dengan alat bantu untuk menunjang hidupnya. Lima belas hari Jihan belum ada perubahan. Kata dokter masih butuh waktu. Namun bukankan mereka sudah cukup lama menunggu. Terlalu emosi membuat diri tak sabaran padahal Tim medis sudah bekerja keras memberikan penanganan yang terbaik.

__ADS_1


Riza mengajak anak anaknya bercengkrama. Meskipun rapuh sebisa mungkin pria itu akan terlihat tegar. "Ibu akan sembuh kan Ayah? Ibu akan bersama kita lagi kan?" Tanya Jalwa masih sama dengan hari hari sebelumnya. "Iya sayang. Doakan Ibu agar cepat sembuh dan cepat berkumpul lagi dengan kita." Riza memaksakan senyum mengelus kepala putra putrinya.


Papa menghampiri menantunya. Pria itu duduk di sebelah sang cucu. "Za. Bawa anak anak pulang. Jangan sampai mereka kelelahan. Papa akan menunggu Jihan disini." Riza menggeleng pelan. Ia ingin selalu menemani istrinya. "Jangan egois Za. Anak anak butuh kamu. Kamu menghabiskan waktu setiap harinya disini. Jangan sampai keadaan bertambah buruk. Ajak mereka pulang. Semuanya akan baik baik saja." Tuturnya membuat Riza pada akhirnya mengangguk. "Mark. Kau juga pulanglah. Temani kakak ipar dan keponakanmu." Lanjut pria itu. "Pa. Aku baru sampai." Jawabnya tidak terima. "Mark. Jangan sampai cucu cucuku sakit karena terlalu lama disini. Buat mereka nyaman. Papa titip kedua cucu papa. Papa akan menunggu kakakmu disini." Mark menghela napas Kemudian mengangguk menyetujui perkataan papanya.

__ADS_1


Sampai di rumah Riza langsung mengajak anak anak dan adik iparnya masuk ke dalam. "Mark. Bawa anak anak ke kamar. Jangan biarkan mereka keluar." Ucap Riza. Mark mengangguk patuh. Ia tau apa yang di maksud Kakak iparnya itu.


Di kediaman Al Rasyid.

__ADS_1


Suasana tampak runyam. Harga saham di perusahaan tiba tiba turun. Keberadaan mereka tengah menjadi perbincangan karena hubungan yang memburuk dengan si Putri bungsu. Entah darimana media tau. Tapi semua perjalanan hidup Jihan yang pahit di angkat di media dan menjadi bahan perbincangan publik. Banyak yang memberikan empati pada wanita beranak dua itu setelah kisah hidupnya mencuat. Di buang keluarga dan di abaikan. Pandangan orang orang semakin di yakinkan saat tak ada satupun keluarga yang turut serta dalam sidang di pengadilan. Itu cukup membuat mereka yakin Jika keluarga Al Rasyid memang tidak peduli pada anak bungsunya.


Semua pemberitaan mempengaruhi harga saham. Beberapa kesepakatan kerja di batalkan secara sepihak. Jaafar berdiri dari duduknya. Ia sangat frustasi tidak bisa bertemu dengan sang adik dalam kondisi seperti ini. Kejadian yang dulu terulang lagi. Dan si bungsu yang selalu menjadi korban. "Aku muak. Aku keluar." Ucap Jaafar. "Mau kemana kamu?" Tanya Ayah dengan nada tingginya. "Aku tidak akan tinggal lagi bersama kalian. Aku akan tinggal di apartemen. Lagi lagi kesalahan yang sama terulang lagi. Hanya karna satu orang semuanya menjadi berantakan. Terimalah nasib karma karena demi Jena kita mengabaikan Jihan. Rasa sakit yang kita berikan dulu masih kurang. Kita pada akhirnya menyakiti lagi. Dia yang jadi korban lagi. Berhentilah menuruti Putri kalian yang manja itu. Penyakit bukan menjadi alasan untuk orang menginginkan semua hal dan kalian menurutinya. Sekarang sudah sembuh masih sama kalian memanjakannya. Jika aku jadi Jihan aku juga tak ingin bertemu kalian lagi." Jelas Jaafar panjang lebar kemudian segera pergi.

__ADS_1


__ADS_2