Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Mulut Adik Ipar


__ADS_3

Jihan sedang menyiapkan sarapan di bantu suaminya sedangkan anak anak sudah duduk manis di karpet. "Mark mana Mas?" Tanyanya karena belum melihat Mark sejak bangun tadi. "Nggak tau. Mungkin masih tidur." Jawab Riza meletakkan piring di atas meja. "Anak itu." Jihan bergegas pergi ke kamar adiknya yang tidak jauh dari sana.


Seorang wanita berdecak kesal melihat sosok remaja masih tidur nyenyak di atas ranjang besar. "Ayo bangun. Sebentar lagi kita akan keluar." Ucap Jihan sambil menarik selimut yang di pakai adiknya. "Hm. Iya." Jawabnya sambil duduk. "Kakak tunggu. Segera mandi dan sarapan." Ucapnya mengecup kening Mark sekilas kemudian segera pergi.


Jihan menyuapi anak anak terlebih dahulu sambil menunggu Mark untuk sarapan bersama. "Kita pulangnya besok ya Dek?" Tanya Riza danJihan mengangguk masih fokus dengan kegiatannya. "Ibu. Mau itu." Kata Jalwa menunjuk makanan Ayahnya. "Jangan. Itu pedas. Nanti Jalwa sakit perut." Ucapnya memberikan pengertian dan Alhamdulillah nya bocah itu menurut.

__ADS_1


Selesai mengurus anak kini Jihan, suami dan adiknya sedang sarapan bersama. "Masih ngantuk aja. Tadi malam tidur jam berapa Mark?" Tanya Riza melihat iparnya itu beberapa kali menguap. "Jam 12." Jawabnya sambil mengunyah makanan dengan malas. "Kalau sampai telat pas besok kita pulang. Kakak tinggal pokonya." Ancam Wanita itu membuat Mark membelalakkan mata. "Kakak tega banget." Keluhnya. "Gimana nggak tega. Kakak kan sudah bilang suruh bangun pagi pagi. Salah sendiri nonton Tv sampai malam." Kesal Jihan membuat suaminya diam diam tersenyum. Menurut pria itu Istrinya sangat imut dan menggemaskan ketika sedang marah marah.


Kini mereka sudah berada di tempat belanja di kawasan Via Condotti yang terkenal dengan brand brand kenamaan dengan harga yang mahal mahal. Disini Jihan membeli barang barang untuk keluarga sebagai oleh oleh. "Kita belanjanya disini saja kak?" Tanya Mark. "Enggak. Ada satu tempat lagi sekalian kita istirahat disana juga." Jawab Jihan mengajak mereka segera bergegas.


Jihan sudah masuk ke cafe bersama kedua anak dan adiknya. Wanita itu membelalakkan mata menyadari sesuatu. "Mas Riza mana?" paniknya karena tidak mendapati keberadaan sang suami. "Nggak tau. Bukannya tadi di belakang kita." Mark juga mulai panik. "Kamu disini dulu kakak akan cari." Jihan berdiri dari duduknya. "Ikut." Rengek kedua bocah itu. Jihan duduk berjongkok di depan putra putrinya dan memberikan pengertian pada mereka agar menunggu sebentar. "Ibu akan kembali." Kata Jihan segera bergegas pergi setelah mengecup kening si kembar.

__ADS_1


Di sisi lain Riza tengah bingung. Ponselnya mati jadi tidak bisa menghubungi Istrinya. "Ya Allah. Aku harus kemana." Keluh pria itu masih berdiri di trotoar. "Kamu dimana sih Dek. Mas bingung." Ucapnya mulai ketakutan. Mana tidak bisa bahasa sini. Boro boro bahasa Itali bahasa Inggris saja Ia tak mampu. Riza hanya bisa pasrah dan berdoa agar segera di pertemukan dengan istrinya.


Lima belas menit berlalu. "Mas." Panggilan seorang wanita membuat Riza menoleh. Hatinya begitu lega dan menghangat ketika mendapat pelukan dari sang istri. "Kamu bikin khawatir Mas. Aku cari kemana mana. Disini kan ramai. Lain kali jangan sampai terpisah." Ucap Jihan masih memeluk suaminya dengan erat. "Maaf Dek. Mas tadi tidak fokus. Maaf." Ucapnya mengecup kepala sang istri sambil membalas pelukan wanita itu tak kalah erat. "Kalau begitu ayo pergi. Anak anak dan Mark sudah menunggu." Ucap Jihan menggandeng tangan suaminya membuat pria itu tersenyum. Ia senang melihat wajah khawatir sang istri yang menandakan jika Jihan benar benar mencemaskan nya.


Mereka sudah berkumpul di cafe menikmati eskrim dan roti dengan berbagai toping. "Nah kan. Jangan ilang lagi. Tapi nggak gitu juga. Tangannya itu di lepas dong jangan gandengan Mulu kaya mau nyebrang." Ucap Mark menyindir iparnya yang masih menggenggam tangan kiri Jihan padahal mereka kan sedang makan. "Untung ketemu. Kalau tidak..." Remaja itu menggelengkan kepalanya. "Aku dan kak Jihan pulang dan Kak Riza tetap disini." Ia berkata sambil menatap iparnya dengan serius. "Yang lebih parah dari itu... Kakak tau apa yang akan terjadi?....ish...ish...ish....kak Jihan akan nikah lagi." Lanjutnya menakut nakuti membuat Riza tersedak. "Hati hati Mas." Ucap Wanita itu sambil menepuk punggung suaminya sedangkan Mark hanya tertawa. "Tega kamu sama Kakak. Punya ipar baik begini masih di sia siakan." Ucap Riza mengomentari mulut adik iparnya membuat Mark hanya bisa tersenyum tak berdosa. Memang Riza baik dan dia tidak mengelak tentang hal itu. "Bercanda kak. Baperan amat kaya cewek lagi depet." Kata Mark. Jihan menggelengkan kepala melihat tingkah keduanya. Daripada mendengarkan mereka yang tidak jelas Ia lebih memilih memakan eskrimnya dengan tenang sembari menyuapi si kembar.

__ADS_1


__ADS_2