Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
P2


__ADS_3

Jihan kembali ke kamar setelah selesai menyiapkan sarapan. "Aw...." Teriakan Riza terdengar membuat Ia panik. "Kenapa Mas?" Tanyanya saat sudah sampai di walk in closet. "Terjepit. Tolongin Dek." Jawab Pria itu berdiri sambil meringis menahan sakit.


"Makannya ati ati. Buru buru kenapa sih? Ini kam masih pagi. Biasanya jam segini juga belum mandi." Tutur Jihan sembari mengoleskan obat pada milik suaminya yang lecet. "Mau ke ruko dek. Kamu ikut ya." Jawab Riza sekaligus mengajak. "Aku di rumah. Sudah. Ayo sarapan. Pagi pagi udah drama aja." Ia membantu suaminya untuk berdiri. "Malam nanti masih bisa kan Dek?" Tanya Riza memeluk istrinya. "Libur. Aku aja ngeri." Pria itu menghela napas mendengar jawaban sang istri.


"Ibu. Nanti kita jadi ke Pasar kan?" Cerocos Juma melihat Ibu dan Ayahnya datang. Riza menatap istrinya penuh tanya. "Apa? Kemarin aku sudah bilang masa kamu lupa." Kata Jihan tau apa yang Pria itu pikirkan. "Masa sih." Riza duduk di kursinya. "Memangnya mau beli apa?" Tanya Papa. "Mau beli ikan tongkol. Juma yang minta." Jawab Jihan sambil mengambilkan makan. "Kita berangkatnya habis sarapan Ma?" Tanya Julian. "Eh...Siapa yang ajak Kakak. Aku sama Ibu aja." Juma tidak terima ada yang ikut. "Kita semua ikut. Jangan menang sendiri kamu." Jaffan jadi kesal dengan adiknya. "Mas juga ikut Dek." Riza malah ikut ikutan. "Nah ini lagi, Orang sudah ada janji mau ke ruko kok malah melenceng. Kalau mau ke ruko ya ke ruko aja Mas. Jangan ngada ngada kamu. Biar aku perginya sama anak anak aja." Jawab Jihan.

__ADS_1


Jihan sudah sampai di pasar tradisional. Wanita itu berjalan diapit putri dan putra bungsunya diikuti tiga pengawal tampan yang berjalan di belakang. "Ma. Mau kesemek dong." Kata Julian. "Iya. Kita beli." Jawab wanita itu menuju tempat penjual buah lokal. "Mbak Jihan. Lama nggak belanja di pasar." Kata Pria paruh baya yang menjadi langganan Jihan setiap belanja kesini. "Iya Pak. Bibi yang belanja. Saya jarang keluar sekarang. Lihat pengawal saya banyak begitu." Jawabnya sambil terkekeh. "Yang dua itu adeknya?" Tanyanya lagi. "Anak saya Pak."


Sampai di rumah Jihan langsung masak di bantu anak anaknya. Wanita itu membuat ikan tongkol goreng, capcay, Ayam bakar, tahu tempe goreng dan sambal. "Assalamualaikum." Riza menghampiri mereka yang sibuk di dapur. "Waalaikumsalam." Jawab mereka kompak. "Kenapa salam aku nggak di jawab Dek?" Tanyanya sembari mengecup pipi sang istri. "Sudah. Kamu yang nggak dengar." Jawab Jihan.


Semua hidangan sudah tersaji. Mereka duduk melingkar diatas tikar untuk makan siang bersama. Jihan makan menggunakan tangan bukan menyuapi suaminya. Wanita itu menyuapi kelima anaknya bergantian. Kata mereka makan dari tangan Ibunya sangat enak. "Jangan pakai sayur Ma." Kata Jason. "Kamu makan sayur mateng nggak mau, mentah nggak mau." Keluh Jihan karena putranya itu sedikit rewel dan pilih pilih makanan. Apa apa harus dia yang masak. Jason dan Julian tidak pernah mau makan di luar. Jadi Jihan yang selalu masak apa yang mereka mau. "Ibu. Nanti temani Jalwa beli Jilbab ya." Kata Jalwa. "Kenapa tadi nggak sekalian. Udah keluar kan, masa keluar lagi." Riza keberatan dengan permintaan putrinya. "Kalau malam enak Yah. Lebih santai, Nggak panas." Jawab gadis itu.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian Juma kembali menghampiri Ayah dan Kakeknya yang masih mengobrol. "Ibu mana?" Tanyanya. "Di kamar, mau mandi katanya." Jawab Riza. "Yah. Ini obat apa?" Riza membulatkan mata melihat apa yang di bawa putranya. "Bukan apa apa." Jawab pria itu segera merebut dari tangan putranya membuat Papa terkekeh.


"Kenapa manyun begitu?" Tanya Jihan melihat suaminya memasuki kamar. "Juma ada ada aja. Masa kasih ini waktu aku lagi sama Papa." Jawabnya sambil memegang obat kuat di tangannya. Jihan tertawa membayangkan betapa malu suaminya itu. "Dia kan nggak ngerti Mas. Kenapa minum begitu?" Tanya Jihan duduk di sofa. "Aku makin tua Dek. Takut nggak bisa muasin kamu." Jawabnya ikut duduk memeluk sang istri. "Itu jamu atau kapsul sih?" Jihan mengalihkan pembicaraan. Memang beberapa bulan belakangan Ini suaminya semakin menurun namun Ia tak mau membahasnya karna takut akan menyinggung. "Kapsul. Baru mau coba. Nanti malam kita coba ya." Ajaknya. "Punya kamu masih luka. Biar sembuh dulu." Jawab Jihan lembut.


Sore hari Jihan bermain basket bersama para putra tampannya. "Stop dulu Bu. Capek." Keluh Jaffan menepi. "Payah kamu. Masih muda begitu. Mama aja nggak capek." Jason mengejek. "Ibu nama punya urat capek." Jawabnya sambil minum.

__ADS_1


"Istirahat Dek." Riza menghampiri istrinya sambil membawakan minum. Pria itu mengusap peluh yang membasahi dahi sang istri. "Ayah. Puasa kapan?" Tanya Julian menghampiri Ayah dan Mamanya. "Masih lama. Kenapa?" Remaja itu menggeleng pelan. "Mau rasain gimana puasa aja. Ini kan pertamakali nya" Jawab remaja tampan itu sambil tersenyum.


__ADS_2