
Jihan sedang sibuk di dapur bersama kedua anak kembarnya. Mereka akan membuat hidangan untuk di foto sebagai pengisi buku menu. "Dek." Panggil Riza menghampiri istrinya. "Ada apa?" Tanya Jihan sambil menata hidangan pertama dengan hati hati di atas piring. "Nggak papa." Jawab Riza mengecup pipi istrinya. "Mas kebiasaan sih nggak tau waktu." Kesal Jihan. "Di cium suami begitu." Gerutunya. "Bukan masalah di ciumnya. Masalahnya aku lagi tata hidangan buat di foto. Kalau rusak kan bikin kecewa." Ucap Jihan. "Maaf." Pria itu tersenyum kemudian mengecup pipi istrinya lagi setelah wanita itu selesai.
Semua hidangan telah selesai di buat. Jihan mulai memotretnya satu per satu. Ia sudah menyiapkan semua secara detail mulai dari pencahayaan hingga backgroundnya. "Next." Ucap Jihan menyuruh Jason untuk mengganti menu. Remaja itu mengangguk segera mengganti menu di atas meja dengan menu baru. "Geser ke kanan sedikit." Kata Jihan membenarkan.
__ADS_1
Selesai dengan segala kegiatan foto, Jihan langsung memasukkannya ke dalam daftar menu dan mendesainnya. "Dibuat bagaimana?" Tanya Wanita itu meminta pendapat sambil mengoperasikan laptop. "Terserah Ibu. Kita nggak terlalu ngerti. Sesuaikan sama konsep cafe saja." Jawab Julian. Jihan mengangguk kemudian membuat buku menu di sesuaikan dengan konsep cafe anaknya.
"Makasih Ma." Jason dan Julian memeluk dan mencium Mamanya karena begitu puas dengan buku menu yang dibuat wanita itu. "Iya. Nggak usah cium cium Ibu." Kesal Juma menghapus jejak kedua kakaknya dengan ciuman. "Iya. Nggak usah cium cium." Timpal Riza mencium istrinya lalu memeluk dengan posesif. "Sudah ah. Mau makan." Ucap Jihan melepaskan pelukan suaminya. "Dika. Dika mau sekolah formal atau lanjut di pondok?" Tawar Jihan barangkali putra satunya itu merasa tidak betah di pondok. Dika tampak berpikir. Jujur Ia ingin selalu berkumpul dengan Ibunya setiap hari seperti ini. Namun Ia juga belum banyak ilmu. "Biarkan di pondok Bu." Kata Juma. "Biarkan kakakmu memilih." Jawab Jihan. "Dika masih mau di pondok saja Bu. Dika masih harus belajar banyak." Jawabnya sambil tersnyum menatap sang Ibu. Jihan mengangguk. "Apapun keputusan kamu Ibu dukung saja asal kamu nyaman." Ucapnya mengusap kepala Dika dengan lembut.
__ADS_1
Sore hari Jihan mengajak keluarga untuk berkunjung ke kebun. Wanita itu menggandeng tangan Papanya untuk diajak berjalan bersama. "Papa mau duduk saja. Kamu lanjut sama suami kamu jagain anak anak." Ucap Papa memberikan waktu berdua untuk anak dan menantunya. "Beneran Pa?" Tanya Jihan di jawab anggukan oleh pria paruh baya itu.
Semuanya berkumpul menikmati buah yang mereka petik. Riza menghela napas melihat istrinya begitu pintar menyembunyikan luka. Tadi Jihan menangis namun sekarang sudah bisa tertawa lagi bersama anak anaknya. "Dek. Jangan makan yang asam asam." Tegur Riza. "Sudah boleh Mas." Jawab Jihan sambil memakan strawbery yang di petik putranya. "Ini manis kok." Ucap wanita itu. "Bisa saja jawabnya. Tidak boleh makan lagi. Mas bawain puding dari rumah." Riza mengeluarkan kotak dari keranjang buah di sampingnya. "Ih. Yang lainnya makan buah masa aku makan begini." Keluh Jihan. "Nggak boleh protes. Makan saja." Ia mulai menyuapi istrinya. "Enak kok Bu. Jalwa yang bikin masa Ibu nggak mau makan." Ucap Anak gadisnya sambil tersnyum. "Ibu. Ibu jangan sakit lagi." Kata Juma memeluk Ibunya. "Ibu nggak sakit." Jawab Jihan mengusap kepala putra bungsunya dengan lembut. "Ibu kemarin itu sakit gegara makan ramen." Ucap Jaffan mengungkit lagi membuat Ibunya cemberut. "Jangan cemberut begitu. Jadi makin sayang." Gombalan remaja itu mengecup pipi Ibunya diikuti yang lain.
__ADS_1
Jihan memandang ke luar jendela mobil selama perjalanan pulang. "Mas mau boba." Ucap wanita itu pada suaminya yang sedang menyetir. "Minum susu atau jus di rumah saja." Jawab Riza cepat. "Aku maunya boba Mas." Keluh Jihan menatap suaminya penuh harap. "Iya. Nggak usah ikut turun Mas belikan." Ia memilih mengalah dan menuruti keinginan sang istri.
"Mana boba aku Mas?" Tanya Jihan menghampiri suaminya yang duduk di balkon kamar. "Duduk dulu." Ucap Riza meraih tangan istrinya untuk diajak duduk bersama. "Pelan pelan Dek." Tegurnya saat membantu wanita itu minum. "Capek ya?" Tanya Riza membawa sang istri untuk tiduran di pangkuannya. "Enggak." Jawab Jihan. "Dek mas pengen cerita sama kamu. Mas punya cita cita deh kalau Mas diberi kesempatan mengalami tua nanti tinggal berdua sama kamu di rumah sederhana. Hanya kita berdua saja ketika anak anak sudah menikah nanti.........Kamu mau kan?" Tanya Riza di akhir cerita panjangnya namun tidak mendapat respon. "Cepat sekali tidurnya." Gumam Riza tersenyum mengecup pelipis Jihan yang sudah tertidur pulas.
__ADS_1