Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Menurun Dari Ibunya


__ADS_3

Selesai menyiapkan sarapan Jihan pergi ke kamarnya. Ia menghampiri Riza yang masih sibuk mengenakan kemeja. "Belum selesai juga? Sudah jam 7 ini." Ucap Wanita itu segera membantu. "Belum. Masih cari charger Hp di sembunyikan Juma. Anak itu bikin kesel aja pagi pagi." Jawabnya sambil menghela napas. "Hari ini Julian sama Jason minta diantar ke makam Papanya. Boleh kan Mas?" Ia meminta izin. "Boleh. Aku juga nggak khawatir. Nggak mungkin kamu akan balikan sama mantan." Riza tersenyum mengecup bibir istrinya. "Oh iya, Jadi kan bikinin Juma adik?" Jihan menatap suaminya berbinar. "Nggak ada adik lagi Dek. Anak lima sudah cukup. Mas sudah bilang Mas cuman bercanda kemarin." Jawab Riza cepat membuat istrinya berdecak. "Jangan cemberut begitu. Malah makin cantik." Ucapnya menggoda lalu menciumi wajah Jihan.


"Ibu." Teriak Juma begitu girang memeluk Ibunya saat wanita itu keluar dari kamar. "Wah. Bagus kalau begini. Sudah mandi. Kan wangi." Ia mencium kedua pipi putra bungsunya. "Ayah nggak mau cium." Kata Riza sambil memalingkan wajah. "Ayah tidak perlu cium Juma." Jawabnya sambil tersenyum menang. "Minta gendong." Ia merentangkan tangannya. "Tidak boleh. Jalan sendiri. Kamu berat." Riza menggandeng tangan sang istri buru buru mengajak wanita itu pergi.


"Kenapa?" Tanya Papa melihat kedatangan anak dan menantunya sementara Juma mengikuti sambil mengomel. "Ayah nakal." Jawab bocah tampan itu mengadu. "Casper pasti yang nakal Kek." Sahut Jaffan. "Ayah yang nakal." Teriak Juma. "Heh. Sudah. Jangan teriak teriak. Ayo duduk sarapan. Habis ini ibu mau pergi." Kata Jihan. "Mau kemana? Juma ikut." Ucapnya. "Casper nggak di ajak. Ibu perginya sama Kak Julian dan kak Jason saja." Jihan menghela napas. Keramaian seperti ini sudah biasa terjadi saat pagi. "Iya. Ikut ya ikut. Sudah jangan ribut. Ayo makan sarapannya. Kesiangan nanti." Semuanya mengangguk segera menyantap makanan yang sudah tersaji di depan masing masing. "Juma. Makan yang benar jangan di acak acak begitu. Bersyukur kita masih bisa makan dengan baik." Tegur Jihan. "Iya Bu. Maaf." Jawabnya. Riza menghela napas. Entah darimana stok kesabaran sang istri menghadapi putra terkecilnya yang makin hari makin banyak tingkah.

__ADS_1


Jihan dan ketiga anaknya sudah sampai di area pemakaman. Wanita itu ikut turun menggandeng tangan Juma berjalan mengikuti Jason yang sudah melangkah lebih dulu.


"Pa, Kami datang. Kami bawa Mama sama adik juga. Papa tidak salah pilih menitipkan kami Ke Mama. Kami di perlakukan dengan baik oleh Mama dan Ayah, juga Kakek serta saudara kami yang lain. Mereka tidak membedakan kami. Kami sudah seperti keluarga kandung sendiri. Papa bisa tenang di sana. Kami selalu mendoakan Papa. Love you." Ucap Jason. "Jangan menangis." Jihan mengusap air mata putranya. "Terimakasih sudah menjadi Mama terbaik untuk kami. Memperlakukan kami seperti anak sendiri. Terimakasih untuk segalanya Ma." Ucap Julian memeluk Jihan diikuti saudara kembarnya. "Sama sama Sayang." Jawab Jihan menepuk punggung keduanya.


Sore hari Jihan dan keluarga mengunjungi perkebunan. Wanita itu menggandeng tangan Papanya sambil mengimbangi berjalan dengan hati hati. "Ibu. Lihat strawbery nya besar." Juma begitu antusias. "Petik yang banyak." Kata Papa lalu duduk di bangku.

__ADS_1


"Za...Za...Apa yang dimakan anak kamu jadi begitu." Papa heran dengan tingkah Juma. "Sama seperti yang lain Pa. Untung Ibunya sabar." Jawab Riza sambil tertawa kecil. "Jihan dulu juga begitu. Malah lebih parah." Kata Papa membuat Riza penasaran. Pria paruh baya itu kemudian menceritakan masa kecil putrinya yang sangat nakal. "Bahkan dulu selesai mandi dan sudah di dandani cantik oleh Neneknya dan Ibu Mark dia main lumpur sampai mengotori seluruh lantai rumah." Ia tertawa mengingat momen itu. Riza baru tau sekarang, tidak ada yang pernah cerita tentang ini.


Malam Hari.


Riza menghampiri istrinya yang sedang duduk di depan meja rias. Pria itu menyisir rambut indah Jihan dengan pelan. "Sekarang aku tau Dek kenapa Juma nakal begitu." Kata Riza. "Kenapa?" Tanya Jihan. "Karna menurun dari kamu. Masa kecil kamu nakal kan?" Jawabnya sambil tersenyum lalu menceritakan apa yang tadi mertuanya ceritakan. "Aku lega dapat jawabannya." Riza tiba tiba menggendong Istrinya lalu meletakkan di ranjang dengan hati hati. Ia mulai mencium bibir wanita cantik itu dengan lembut. "Mas nggak tahan Dek." Ucapnya serak penuh gairah sambil melepaskan kaosnya dan......Suara bel kamar berbunyi. "Astagfirullah siapa sih." Kesal Riza sudah di puncak tapi ada yang mengganggu. Jihan tertawa kemudian segera membenahi pakaian atasnya yang terbuka.

__ADS_1


"Ada apa?" Tanya Riza ternyata Juma yang datang. "Mau ikut tidur Ibu. Juma mimpi buruk." Jawabnya menerobos masuk. Bocah itu naik ke atas ranjang lalu memeluk Ibunya. "Ayah mau kemana?" Tanya Juma melihat Riza berjalan tidak menuju ke ranjang. "Mau pipis." Jawabnya menahan kesal lalu pergi ke kamar mandi.


__ADS_2