
Hanya tinggal beberapa hari pernikahan akan dilaksanakan namun Jihan malah menghilang. Semenjak kejadian itu mereka tidak saling bertemu. Sebenarnya dari para informan gadis itu ada. Namun dengan cepat tiba tiba menghilang begitu saja. Selesai dari apartemen Jihan mereka memutuskan untuk ke restoran karena tidak menemukan gadis itu di huniannya.
Seorang wanita datang menghadap keluarga Al Rasyid. Meta berdiri sembari merutuki kebodohannya. Ia tak tau sama sekali jika Jihan adalah putri dari konglomerat penguasa dunia bisnis itu. "Kamu Meta?" Tanya Bunda sembari tersenyum. "I...iya Bu. Saya Meta." Jawabnya sedikit terbata. "Katanya kamu dekat dengan putri saya. Dimana dia sekarang? Kamu pasti tau kan?" Tanya Bunda namun Meta tetap diam. Ia sudah berjanji pada Jihan untuk merahasiakan keberadaanya. "Saya Mohon. Katakan dimana dia." Bunda sudah tak kuasa menahan air matanya membuat Meta serba salah. "Emm.....Dia kemarin berpamitan pada saya katanya mau solo ride. Tapi dimana tujuannya tidak bilang dengan jelas." Jawab Meta jujur. "Yah..." Bunda semakin menangis mendapat jawaban dari wanita itu sembari menatap suaminya.
Di sisi lain Jihan baru sampai di daerah Jawa tengah berbekalkan aplikasi peta di ponselnya. Ia memarkirkan motor untuk mampir makan di kedai bakso sederhana. "Baksonya satu pak. Yang paling besar. Minumnya es teh." Pesan Jihan. "Oke Mbak. Di tunggu ya." Jawabnya sembari tersenyum.
Jihan sedang menikmati baksonya sembari mengobrol dengan penjual. "Mbaknya bukan orang sini ya? Logatnya beda." Gadis itu mengangguk. "Saya dari Jakarta pak. Sengaja kesini buat jalan jalan." Jawabnya setelah menelan bakso daging yang sedaritadi di kunyah. "Jalan jalannya anak jaman sekarang pada jauh jauh." Pria paruh baya itu terkekeh. "Baksonya enak pak. Terimakasih ya. Ini uangnya." Jihan meletakkan tiga lembar uang ratusan ribu di atas meja setelah menghabiskan baksonya sembari mengobrol. "Mbak. Ini kebanyakan." Jihan menggeleng. "Rejeki bapak. Makasih Bapak sudah baik mengajak saya mengobrol." Jihan memakai kembali sarung tangannya. "Hati hati Mbak. Terimakasih banyak." Ucapnya begitu senang. Jihan hanya mengangguk kemudian melajukan motornya ke tempat tujuan.
__ADS_1
Sampai di hotel Jihan langsung merebahkan tubuhnya di ranjang tanpa bersih bersih terlebih dahulu. Ia memandangi langit langit kamar sembari mengingat ingat kembali perjalanannya yang begitu berkesan. Ia bertemu dengan orang dari berbagai kalangan mulai dari pengamen, pemulung, pedagang dan tukang sapu jalan yang memberinya banyak pelajaran hidup khususnya tentang bersyukur.
Di kediaman Al Rasyid
Keluarga belum mendapatkan kabar Jihan sama sekali. Kini mereka sedang menunggu satu orang yang sedang mengecek CCTV seluruh jalanan di Ibukota. "Bagaimana?" Ayah langsung berdiri dari duduk menghampiri orang suruhannya. "Nona sepertinya keluar daerah Pak." Jawabnya. "Bagaimana? Coba jelaskan secara rinci." Kata Ayah tidak puas dengan jawaban yang didengarkannya barusan. "Menurut pemantauan CCTV Nona keluar perbatasan provinsi. Tepatnya Nona menuju ke Jawa tengah." Jawab pria itu membuat Ayah menghela napas. "Yah. Susul Putri kita. Ajak dia pulang. Bunda khawatir. Apalagi dia bawa motor." Bunda mengguncangkan lengan suaminya.
Sementara itu Riza baru selesai sholat langsung keluar menuju balkon kamarnya. Ia berdiri sebentar di dekat pembatas lalu duduk di kursi rotan yang ada disana. Usahanya untuk menghubungi Jihan tidak membuahkan hasil. Kadang tidak aktif, Kadang tidak di angkat dan kadang juga berada di luar jangkauan. "Ya Allah jika Ia jodoh hamba maka dekatkanlah. Permudah jalan hamba untuk bisa menghalalkannya. Jika tidak maka hamba rela engkau menjauhkannya dari hamba." Kata Riza kemudian meraih ponselnya di saku. Ia mencoba menghubungi kembali. "Diangkat." Gumamnya begitu senang. "Apa ini jawaban darimu ya Allah?" Tanyanya sembari menatap langit malam.
__ADS_1
"Eh. Assalamualaikum. Aku Riza." Jawabnya setelah tersadar.
"Oh. Kau laki laki yang dijodohkan denganku bukan?"
"Iya. Kamu sedang dimana? Sepertinya kita perlu bertemu untuk membicarakan sesuatu." Kata Riza memberanikan diri.
"Aku sedang ada di tempat yang jauh. Tidak bisa bertemu. Ngomong saja langsung. Kenapa ribet sekali." kata Jihan mulai kesal.
__ADS_1
"Tidak bisa. Kita haru bertemu. Ini adalah hal penting."
"Terserah kau saja." Jihan mematikan panggilannya membuat Riza menghela napas.