
Riza menghampiri istrinya di ranjang. Pria itu pulang agak malam karena sedang ada acara di masjid kompleks. "Dek. Kamu sudah tidur?" Tanyanya sembari membuka kancing baju Koko yang sedang Ia gunakan. "Belum." Jawab Jihan membuka matanya. "Mas kepengen dek. Mas sudah lama menahan tunggu kandungan kamu kuat dulu. Sekarang kata dokter tidak apa asal pelan. Boleh ya." Riza sudah menanggalkan atasannya hanya mengenakan sarung dan boxer di balik kain bermotif kotak kotak itu. "Masa dokter bilang begitu. Kapan?" Jihan mulai lagi mengulur waktu membuat Suaminya gemas. Padahal dia kan tau jika Riza sedang kepengen dan sudah berada di puncak. "Waktu kita periksa kemarin sore Dek. Dokter kan bilangnya begitu. Ayo ya. Mas akan pelan dan lembut. Bahkan lebih lembut dari biasanya." Riza memelas merengek seperti anak kecil yang minta jatah ASI.
Tanpa menunggu ucapan 'Ya' dari sang istri Riza dengan semangat mulai menanggalkan satu persatu pakaian wanita itu. "Hey..Aku kan belum menyetujui." Kata Jihan namun suaminya tidak peduli. "Masa sudah terbuka begini mau di batalkan. Kan tidak mungkin Dek. Lihat punyaku sudah....." Tanpa meneruskan kata katanya Pria itu mulai menjamah tubuh Jihan tanpa terlewat sedikitpun. Sementara sang Istri menggeliat di bawah membiarkan suaminya bertindak sesuka hati. "Kamu kalau di luar kalem kalau di ranjang ganas Mas." Ucapnya membuat Riza tersenyum. "Mas sudah menahannya lama dek. Kadang suka keluar sediri kalau lihat kamu tidak pakai baju atau sekedar cium kamu. Makannya Mas sering mandi wajib " Ucapnya jujur. "Mas masukkan ya Dek. Mas akan pelan kok." Ucapnya meminta izin namun juga tidak menunggu jawaban langsung memasukkan miliknya ke milik sang istri. "Ouh....kenapa...Semakin penuh." Jihan berpegangan pada lengan suaminya menikmati gerakan lembut di bawah sana.
__ADS_1
Riza menggulingkan tubuhnya di samping Jihan sambil mengatur napasnya yang ngos ngosan. Ia meraih tissue di atas nakas dan membersihkan peluh di tubuh istrinya. "Kita mandi sekarang ya Dek. Besok biar bisa sholat subuh." Ajaknya dan Jihan mengangguk. Riza meraih sarungnya yang teronggok di pojok ranjang dan memakainya. Pria itu segera menggendong sang istri untuk diajak mandi bersama.
Pagi hari tiga orang sedang sarapan bersama. "Dek. Kita nanti beli buah gimana?" Ajak Riza dan Jihan mengangguk. Memang ada beberapa buah lokal yang ingin dicobanya. Tapi kata Meta adanya di pasar buah. "Kita ke pasar buah saja belinya." Ucap wanita itu. "Kenapa nggak di mall saja. Mas takut nanti kamunya tidak nyaman." Jihan menggeleng. "Nggak papa. Kita belinya di pasar saja." Riza hanya bisa mengangguk menuruti keinginan sang istri.
__ADS_1
Jihan memasukkan buah buahan ke dalam kantong kresek. Riza membebaskan wanita itu membeli apapun yang diinginkan. Uang bukan masalah. Jika istrinya menginginkan Ia akan menuruti meski harus merogoh kocek dalam dalam sekalipun. "Sudah cukup mas." Kata Jihan. "Yakin tidak mau yang lain lagi?" Tanya Riza memastikan. "Tidak. Semuanya sudah lengkap." Jawab Jihan.
Riza dan Jihan sedang duduk berdua di balkon kamar setelah puas makan buah bersama Mark juga. Pria itu membawa sang istri untuk bersandar di dadanya yang bidang. "Dek. Mas ada rencana buka toko menurut kamu gimana?" Tanya Riza meminta pendapat. "Tempatnya sudah di siapkan? Rencana dan pendanaan sudah matang?" Jihan memastikan. Ia sudah berpengalaman di dunia bisnis harus tau detail dari usaha yang akan dibuka suaminya. "Sudah Dek. Mas sudah ada incaran tempat di depan perkantoran daerah A. Tempatnya strategis dan ramai. Nanti Mas akan jual pakaian muslim, perlengkapan haji, buku, Al Qur'an, dan banyak lagi perlengkapan kantor juga. Ya memang tidak terlalu besar. Tapi mudah mudahan bisa berkembang dengan cepat seperti cafe kamu." Jawabnya menjelaskan. "Kalau sudah terencana semuanya dan kamu sudah yakin. Mulailah untuk membuka tapi pastikan dulu tempat yang kamu mau itu belum di ambil orang." Kata Jihan memberi saran. Riza mengangguk sambil tersenyum kemudian mengecup kepala istrinya sambil mengusap lengan wanita itu pelan. Meskipun Jihan orang yang cuek dan ketus tapi wanita itu selalu menjadi support sistem untuk Riza. Di kala ada masalah Jihan selalu membantu dan memberi saran hingga semuanya terselesaikan dengan baik. "Terimakasih Dek. Beruntungnya Mas memiliki kamu. Kamu cinta pertama dan terakhir untuk Mas." Ucap Riza memeluk istrinya.
__ADS_1