Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Lebaran


__ADS_3

Suara takbir berkumandang. Jihan sedang duduk berdua di teras rumah dengan papanya sementara Riza dan Mark pergi ke mushola membagikan makanan untuk remaja masjid yang sedang bersih bersih sekaligus takbiran untuk menyambut hari raya esok. "Disini rame ya pa." Kata Jihan di jawab anggukan oleh pria paruh baya itu. "Pa. Ayo jalan jalan sebentar. Jihan bosen." Ucapnya membuat sang Papa menghela napas panjang. Tadi baru saja duduk setelah sibuk kesana kemari menyiapkan makanan dan sekarang minta untuk dibawa jalan jalan pula. Apa Jihan tidak punya rasa lelah? "Ayolah Pa. Dekat dekat saja." Kalau mulai merengek seperti ini siapa yang tega. "Baiklah." Jawab Pria itu mulai menggandeng tangan putrinya.


Riza baru pulang dengan Mark mendapati istrinya sudah tertidur pulas di sofa. "Pa." Keduanya langsung mencium tangan pria paruh baya yang baru keluar dari kamar tamu. "Eh. Iya. Baru pulang ya?" Riza dan Mark mengangguk. "Anak ini. Baru di tinggal sebentar sudah tidur." Gumamnya melihat Jihan. "Tumben jam segini tidur." Ucap Riza lalu menggendong Istrinya untuk di bawa ke kamar sembari berpamitan pada mertua dan iparnya.


.

__ADS_1


.


.


Pagi hari Riza menggandeng tangan istrinya pulang dari Mushola selesai melaksanakan sholat Ied. Pria itu tak berhenti tersenyum merasakan kebahagiaan lebaran pertamanya dengan sang istri.

__ADS_1


Di kediaman Al Rasyid.


Semuanya tengah menanti kehadiran Jihan yang tak kunjung datang. "Mereka sampai mana?" Tanya Bunda tak sabaran ingin berjumpa dengan putrinya. "Dek." Kata Wanita itu langsung berdiri dan berjalan cepat memeluk putrinya yang baru sampai. "Kamu datang juga akhirnya." Ucap mereka begitu senang. "Ini kue Bun." Riza menyerahkan box kue yang dibawanya. "Kamu sendiri yang bikin dek? Harusnya jangan capek capek." Ucap Jena menuturi adiknya.


Mereka berkumpul di ruang makan setelah bermaaf maafan. "Mau makan apa dek?" Tanya Riza pada istrinya. "Tidak lapar." Jawab Jihan membuat Suaminya menghela napas. "Kamu daritadi belum makan lo." Ucapnya khawatir. "Makan Dek. Sedikit saja. Jangan biarkan perut kosong." Tutur Ayah hanya di tanggapi gelengan oleh Jihan. "Aku angkat telpon dulu." Katanya kemudian meninggalkan ruang makan. "Banyak sabar ya Za." Kata Jaafar dan Riza hanya mengangguk sambil tersenyum.

__ADS_1


Beberapa menit dari luar Jihan kembali lagi. "Mas ayo pulang." Ucapnya. "Kamu baru sebentar Lo dek. Baru 15 menit disini kenapa buru buru. Menginap saja." Ucap Jena di angguki lelah saudara dan orang tuanya. "Kenapa cepat cepat sih? Kamu mau sesuatu?" Tanya Riza dengan lembut. "Aku harus siapkan baju. Nanti malam aku berangkat ke Inggris." Ucap wanita itu membuat semua orang membulatkan mata. "Kenapa kesana sih dek? Kamu sedang hamil lo." Jihan menggeleng kemudian berlalu pergi meninggalkan ruang makan langsung di susul oleh mereka semua.


Malam hari Jihan, Riza dan Mark sudah berada di dalam pesawat. Tidak ada yang bisa mengubah keputusan wanita itu. Bahkan papanya sendiri hari ini kalah. "Mas. Lima hari nanti aku disana. Dua hari birkan aku disana sendiri. Kamu pulang dulu sama Mark ya." Ucap Jihan membuat suaminya menatap wanita itu dengan wajah sedih. "Kenapa begitu Dek. Kita berangkat bersama harus pulang bersama juga." Ucapnya sembari mengusap pipi sang istri. "Mas. Aku mohon." Jihan berkata sangat lirih tak seperti biasanya. "Mas khawatir." Wanita itu menggenggam tangan suaminya. "Tidak akan terjadi apapun." Ucap Jihan sambil tersenyum.


__ADS_2