Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Kurang Seperempat


__ADS_3

Jihan langsung tertidur pulas begitu sampai di rumah. Berhari hari mengurus Ayahnya di rumah sakit membuat wanita itu kurang tidur dan kecapean. Ia hanya tidur tiga jam sehari karena jika butuh sesuatu Jihan lah yang akan meladeninya.


"Assalamualaikum." Ucap Riza yang baru pulang dengan anak bungsunya. "Waalaikumsalam." Jawab Papa sambil menutup buku yang sedang di baca. "Istri Riza sudah pulang Pa?" Tanyanya. "Sudah. Langsung tidur dia. Capek nunggu Ayahnya." Riza mengangguk. "Juma. Kamu mandi terus ganti baju." Perintahnya. Tanpa menjawab bocah tampan itu langsung pergi bergegas. "Tumben nurut. " Gumam Pria itu kemudian berpamitan pada Papanya untuk ke kamar.


Riza tersenyum mendapati istrinya yang tidur pulas di ranjang. Wanita itu belum berganti pakaian rumahan bahkan sepatu juga belum di lepas. Ia mencopot dasinya. Menggulung kemeja sebatas lengan. Riza bergegas mengambil air dan handuk basah kemudian kembali lagi menghampiri sang istri. Dengan hari hati Ia melepaskan sepatu Jihan lalu bajunya. Pria itu mengganti pakaian Jihan dengan daster yang biasa digunakan dirumah. Selesai dengan pakaian Riza mulai menyeka tangan dan kaki istrinya dengan handuk yang sudah di celupkan ke dalam baskom berisi air campuran antiseptik. Jihan masih tak terganggu dengan semua yang dilakukan suaminya. Hingga Riza membersihkan wajahnya pun wanita itu juga tidak bangun. "Pulas sekali." Gumam Riza sambil tersenyum melihat wajah cantik istrinya yang begitu imut.

__ADS_1


"Juma. Nanti Ibu bangun." Tegur Riza pelan melihat anaknya menaiki ranjang. "Juma mau ikut tidur." Jawabnya sambil berbaring memeluk sang Ibu. "Jangan bertingkah. Nanti Ibu bangun. Ayah mau ke ruang kerja dulu sebentar, nanti kembali." Pesan Riza sebelum pergi.


"Ibu sudah pulang Yah?" Tanya Jalwa saat melihat Ayahnya keluar dari kamar. "Sudah. Lagi tidur, kecapean. Jangan di ganggu ya." Gadis itu mengangguk kemudian masuk lagi ke kamarnya. "Yah. Mama sudah pulang?" Baru beberapa langkah Riza sudah di beri pertanyaan yang sama. "Sudah. Lagi tidur. Jangan di ganggu dulu. Kecapean." Jason mengangguk. "Ok." Jawabnya kembali lagi ke kamar. "Haduh punya anak yang kecil yang besar sama saja." Gerutu Pria itu sambil berjalan menuju ruang kerjanya.


Riza sudah duduk di kursinya. Pria itu mengeluarkan kotak dari laci. Ia memasukkan beberapa lembar uang ratusan dan lima puluhan ribu ke dalamnya. "Masih kurang seperempat jalan." Ucap Pria itu sambil menghela napas. Masih seperempat jalan pun itu nominalnya cukup banyak. Ia baru bisa mengumpulkan uang tiga perempat nya.

__ADS_1


Jihan menghampiri semuanya yang sedang berkumpul di ruang keluarga. "Mama sudah bangun. Makan semangka Ma." Julian menyuapi wanita itu saat sudah duduk. "Juma mau?" Tawar kakaknya. "Mau." Jawab bocah tampan itu langsung mendapat suapan dari sang Ibu. "Ibu pasti capek." Kata Jaffan sambil memijit kaki Ibunya. "Sudah jangan di pijat. Ibu nggak capek kok." Kata Jihan namun anak anaknya tetap bersikeras.


"Kakak." Mark yang baru datang langsung memeluk Kakaknya. "Aku bawain sawo sama boba buat kakak." Ucapnya sembari membantu Jihan minum. "Kamu sama siapa?" Tanya wanita itu setelah menelan minumannya. "Sendiri. Anak anak lagi sama Ibunya ke panti." Jawab Mark. "Kakak bisa minum sendiri." Jihan mengambil bobanya dan minum sendiri.


"Assalamualaikum." Ucap Riza memasuki ruang keluarga langsung duduk di dekat istrinya. "Waalaikumsalam." Jawab mereka. "Jambu air pesanan kamu Dek. Tapi Mas cuci dulu." Kata Riza bergegas pergi ke dapur. "Mama kepengen jambu air?" Tanya Jason. "Iya. Sudah dari kemarin kemarin tapi belum sempat beli." Jawabnya.

__ADS_1


"Manis?" Tanya Riza menyuapi istrinya jambu air yang sudah di bersihkan. "Manis." Jawab Jihan sambil mengunyah. "Tadi nggak beli kerupuk rujak Mas?" Riza mengubah ekspresinya seketika. "Perut kamu sakit nanti." Jawab Riza sambil mengusap pipi istrinya. "Juma mau." Bocah tampan itu minta disuapi Sang Ibu. "Bisa gigit nggak?" Ledek Jaffan. "Bisa. Kenapa nggak bisa?" Jawab Juma. "Kan gigi kamu hilang satu." Jaffan tertawa membuat Juma kesal. "Jangan di goda ah adiknya." Tegur Jihan. "Iya Bu. Nanti dia nangis Ibu yang repot." Sahut Jalwa.


__ADS_2