Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Cari Kembaran


__ADS_3

Riza menghentikan niatnya ingin memeluk sang istri yang sedang berdandan tatkala suara Juma melengking memasuki kamar. "Ibu. Kaos kaki Juma hilang satu." Celoteh bocah itu menghampiri Ibunya sambil membawa sebelah kaos kaki abu abu. "Bukan hilang, Juma yang taro sembarangan." Jawab Jihan sambil mengaplikasikan bedak tipis di wajah cantiknya. "Coba dicari dulu." Ucap Riza. "Nggak ketemu Yah." Jawab Juma ikut duduk di dekat Ibunya. "Ayo Ibu carikan."


Jihan mencari di setiap kolong dan lemari namun tidak menemukan juga. Wanita itu beralih ke laci meja. "Jika benar ada memang kebangetan." Gumamnya sambil membuka. Ia menghela napas. Gemas sekaligus ingin tertawa melihat kaos kaki anaknya yang terselip di antara buku buku. "Ini yang taro di laci pasti Juma. Nggak mungkin Ibu kan?" Tanya Jihan sambil berkacak pinggang. "Ketemu. Trimakasih Ibu." Ucapnya sambil memeluk pinggang wanita cantik itu. "Ayo segera di pakai. Yang lain sudah menunggu untuk sarapan." Jihan membantu putra bungsunya untuk bersiap.


"Tadi teriak teriak kenapa?" Tanya Papa saat Jihan dan cucu paling kecilnya datang. "Kaos kakinya keselip." Jawab Jihan segera menyiapkan makan untuk suaminya. "Masa di taro di laci sama buku. Kalo Juma terus begitu biar jadi sarang kecoa sama tikus kamarnya." Lanjutnya menakut nakuti. "Kan sudah di beri tempat sendiri untuk taro kaos kaki. Kenapa taro nya sembarangan sih." Jaffan ikut mengomeli adiknya. "Lupa. Kakak paling seusia Juma juga begitu." Jawabnya. "Kakak enggak. Entah kalau kak Jason atau Julian." Jaffan melakukan pembelaan. "Kita enggak." Jawab Keduanya kompak. "Kak Jalwa?" Tanya Juma mencari teman. "Kakak perempuan kamu yang paling rapi." Jawab Jihan membuat anak gadisnya tersenyum. "Sudah jangan cari kembaran pula. Ayo sarapan nanti telat." Ucap Jihan ikut duduk.

__ADS_1


Selepas dari mengantar Juma ke sekolah Jihan langsung menuju salon langganannya karena sudah ada janji dengan Mia. "Tumben. Biasanya juga suruh orang ke rumah kalau mau perawatan." Cerocos Mia yang melihat sahabatnya baru datang. "Malas di rumah." Jawab Jihan ikut duduk. "Mau ngapain kita?" Jihan tampak berpikir sejenak. "Facial, Spa, Manicure pedicure, sama mau potong rambut juga." Jawab Jihan. "Okelah. Ayo." Mia menarik tangan sahabatnya agar segera bergegas.


"Gimana hubungan kalian?" Tanya Mia sambil menikmati pijatan. "Apa Bangsat nggak cerita sama kamu?" Jihan balik bertanya. "Kamu bilang apa? Bangsat? Keterlaluan kamu." Kesal Mia. "Kan Bang Satria. Enak aja kalau panggil Bangsat. Yaudah sih jangan manyun begitu. Aku panggil Bang Satria aja. Tau ah." Jawab Jihan." "Dibicarakan baik baik Ji." Mia mencoba memberikan angin segar pada sahabatnya. "Kamu tau sendiri kan aku paling nggak suka di bohongi." Ucap Jihan sambil menghela napas.


"Mau di potong bagaimana Mbak?" Tanya seorang pegawai yang akan menangani rambut Jihan. "Agak di pendekin sebahu aja Mbak." Jawab Jihan. "Mau ganti warna juga?" Ia menawari. "Gimana ya..." Jihan tampak menimang nimang. "Gausah deh Mbak. Biar tetap pirang aja." Jawabnya langsung mendapat anggukan.

__ADS_1


Riza tersenyum saat memasuki kamar melihat istrinya sudah tertidur pulas di ranjang dengan daster selutut yang merupakan pakaian rumahannya setiap hari. Pria itu mendekat dan duduk di tepian ranjang dengan hati hati. Jemarinya mengusap lembut rona di pipi sang istri. Riza mengamati wajah Jihan yang begitu cantik, mulu berseri. Tidak ada celah untuk mencari kelemahan dari wanita itu. Beruntungnya Riza. Mana mungkin Ia akan berpaling dari tulang rusuknya yang begitu sempurna.


"Ibu." Riza membungkam mulut putra bungsunya. "Ibu sedang tidur. Kamu kalau masuk jangan teriak teriak nanti Ibu bangun." Tegurnya sambil berbisik. "Juma pengen ikut tidur." Jawabnya juga ikut berbisik. "Tidur sendiri." Riza tak memberi izin. "Ada apa?" Tanya Jihan terbangun mendengar suara percakapan anak dan suaminya. "Juma mau ikut tidur Ibu. Tapi sama Ayah nggak boleh." Jawabnya mengadu. "Ayo sini." Bocah tampan itu tersnyum langsung berlari ke ranjang menghampiri Ibunya.


Sore hari semuanya berkumpul di teras belakang menikmati pisang goreng yang masih hangat. "Ibu potong rambut?" Tanya Jalwa baru menyadari. "Iya. Tadi sama tante Mia." Jawab Jihan menyuapkan pisang goreng hangat ke Juma. "Siku kamu kenapa Dek?" Riza melihat siku istrinya yang memar. "Kepentok pintu." Jawab Jihan. "Mas ambilkan salep." Ucap Pria itu segera bergegas.

__ADS_1


Riza menghampiri istrinya lagi. Pria itu langsung mengoles salep ke siku Jihan dengan pelan. "Kapan begini?" Tanyanya. "Tadi." Jawab Jihan singkat karena hatinya masih dongkol. "Lain kali hati hati." Tutur Riza sambil mencium kening istrinya dengan lembut.


__ADS_2